
KabarJawa.com– Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Bergerak turun ke jalan dan menggelar aksi demonstrasi di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Rabu (17/6) sore.
Suara orasi yang menggelegar bersahut-sahutan dengan kibaran bendera perjuangan mahasiswa. Spanduk-spanduk berisi kritik terhadap pemerintah dan berbagai tuntutan rakyat terbentang memenuhi badan jalan.
Di tengah terik sore yang perlahan meredup, para mahasiswa memilih berdiri tegak di aspal panas untuk menyampaikan kegelisahan mereka terhadap berbagai persoalan nasional maupun daerah.
Sejak pukul 14.30 WIB, massa mulai berdatangan dari berbagai arah menuju kawasan Nol Kilometer. Mereka bergerak secara berkelompok sambil membawa atribut organisasi, bendera, serta poster yang berisi kritik terhadap kondisi sosial, ekonomi, dan politik.
Aksi Mahasiswa UMY di Titik Nol Kilometer
Massa membentuk barisan panjang di sekitar simpang Nol Kilometer. Beberapa spanduk berukuran besar membentang di atas jalan, sementara sejumlah peserta aksi berdiri mengelilingi mobil pikap yang menjadi mimbar orasi.
Mobil pikap itu berada tepat di tengah kerumunan massa. Berbagai bendera organisasi mahasiswa terpasang di sisi kendaraan tersebut.
Dari atas bak mobil, para orator bergantian menyampaikan pidato politik dan kritik sosial. Suara pengeras terdengar menggema hingga ke sudut-sudut kawasan Malioboro dan sekitarnya.
Aksi berlangsung dinamis. Massa beberapa kali meneriakkan yel-yel perjuangan yang disambut serempak oleh peserta lain. Di sela-sela orasi, lagu-lagu pergerakan mahasiswa turut berkumandang untuk membakar semangat demonstran.
Koordinator Umum Aliansi UMY Bergerak, Arif, menjelaskan bahwa aksi tersebut membawa delapan tuntutan yang lahir dari hasil pembacaan situasi dan diskusi panjang bersama berbagai elemen mahasiswa yang tergabung dalam aliansi tersebut.
“Ada delapan poin tuntutan yang berdasarkan pembacaan situasi dari kawan-kawan Aliansi UMY Bergerak bersama berbagai elemen gerakan mahasiswa yang tergabung di dalamnya,” ujar Arif di sela aksi.
Menurut Arif, berbagai kebijakan yang muncul saat ini tidak dapat dilepaskan dari pengaruh kekuatan global yang turut menentukan arah kebijakan dalam negeri.
Ia menilai ketergantungan Indonesia terhadap kepentingan asing masih menjadi persoalan serius yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.
Arif menyoroti kondisi ekonomi nasional yang menurutnya semakin menekan rakyat kecil. Ia menilai persoalan kebutuhan pokok hingga melemahnya nilai tukar rupiah tidak lepas dari dinamika geopolitik internasional yang memengaruhi Indonesia.
“Kebijakan hari ini tidak terlepas dari kepentingan-kepentingan imperialisme Amerika Serikat terhadap Indonesia. Dominasi imperialis terhadap Indonesia masih sangat kental dan membuat ketergantungan yang besar. Kebutuhan pokok rakyat hingga melemahnya nilai tukar rupiah tidak terlepas dari kepentingan geopolitik,” tegasnya.
Pernyataan tersebut langsung mendapat respons berupa sorak dukungan dari peserta aksi. Massa mengangkat tangan dan mengibarkan bendera saat orator menyampaikan kritik terhadap kondisi ekonomi yang mereka anggap semakin berat bagi masyarakat.
Kelompok Mahasiswa Lain Bergabung
Di tengah aksi yang berlangsung, sejumlah kelompok mahasiswa dari organisasi lain juga bergabung. Kehadiran berbagai elemen mahasiswa itu memperlihatkan adanya kesamaan kegelisahan terhadap berbagai persoalan yang berkembang di tingkat nasional maupun daerah.
Salah satu kelompok yang ikut bergabung ialah BEM Nusantara. Organisasi tersebut membawa sejumlah isu lokal yang mereka nilai belum mendapatkan penanganan optimal dari pemerintah daerah maupun aparat terkait.
Koordinator Daerah BEM Nusantara DIY, Miftahun Niam, menegaskan bahwa aksi yang mereka lakukan tidak hanya berfokus pada persoalan nasional. Mahasiswa juga membawa sederet masalah yang selama ini menjadi perhatian masyarakat Yogyakarta.
Menurut Niam, salah satu isu yang menjadi sorotan ialah persoalan keamanan yang berkaitan dengan aksi klitih. Ia menilai hingga saat ini akar permasalahan klitih belum sepenuhnya terselesaikan.
“Kami juga membawa isu daerah seperti menuntut kepada Polda DIY yang sampai hari ini belum bisa menuntas akar permasalahan klitih. Selain itu, ada persoalan DIY darurat sampah yang juga harus segera mendapatkan solusi,” kata Niam.
Tidak hanya itu, BEM Nusantara DIY juga menyoroti persoalan infrastruktur yang masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah. Mereka menilai sejumlah titik di kawasan Ring Road Yogyakarta masih rentan menimbulkan persoalan ketika musim hujan tiba.
Niam menjelaskan bahwa sistem drainase dan sumur resapan di sejumlah ruas Ring Road masih belum mampu mengatasi genangan air ketika hujan deras mengguyur wilayah Yogyakarta. Kondisi tersebut kerap menyebabkan banjir yang mengganggu aktivitas.
Selain masalah drainase, mahasiswa juga menyoroti minimnya penerangan jalan di beberapa ruas Ring Road. Kondisi itu berpotensi meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas, terutama pada malam hari.
“Kami menginginkan drainase dan sumur resapan di Ring Road DIY diperbaiki karena ketika hujan lebat sering terjadi banjir. Kami juga meminta penerangan jalan ditingkatkan karena masih banyak titik yang gelap dan berpotensi menyebabkan kecelakaan,” ujarnya.
Aksi mahasiswa UMY di Nol Kilometer Yogyakarta tersebut berlangsung di bawah pengawalan ketat aparat kepolisian. Sejumlah personel berjaga di berbagai titik untuk memastikan jalannya demonstrasi tetap berlangsung tertib dan kondusif.
Meski sempat menyebabkan penutupan akses jalan di sekitar lokasi aksi, demonstrasi berlangsung damai. Massa terus menyampaikan aspirasi melalui orasi, pembacaan tuntutan, serta berbagai simbol perlawanan di ruang publik. (ef linangkung)