
KabarJawa.com– Dengan jas almamater biru, mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) membentuk lingkaran besar dan menyuarakan keresahan terhadap kondisi bangsa.
Tepat sekitar pukul 13.02 WIB, gelombang mahasiswa mulai memadati kawasan Titik Nol Jogja. Mereka hadir membawa pesan keras kepada pemerintah melalui aksi bertajuk Menuju Indonesia Bangkrut.
Tema yang mereka usung langsung menyita perhatian masyarakat dan pengguna jalan. Narasi mereka menggambarkan kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi nasional yang semakin mengkhawatirkan.
Mulai dari pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan beban hidup masyarakat, hingga sulitnya memperoleh bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi menjadi sorotan utama dalam aksi tersebut.
Di tengah lingkaran massa aksi, orator silih berganti menyampaikan pandangan mereka. Setiap kalimat yang mereka lontarkan menggambarkan keresahan generasi muda terhadap masa depan ekonomi Indonesia.
Pernyataan Koordinator Aksi Mahasiswa UII
Koordinator aksi, Radin, menegaskan bahwa mahasiswa tidak bisa menutup mata terhadap berbagai persoalan masyarakat.
Menurutnya, pelemahan nilai tukar rupiah bukan sekadar angka yang bergerak di pasar keuangan, melainkan persoalan yang dapat memicu dampak berantai bagi kehidupan rakyat.
Ia menjelaskan bahwa melemahnya kurs rupiah berpotensi mendorong kenaikan berbagai kebutuhan pokok. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memperberat beban masyarakat yang saat ini sudah menghadapi tekanan ekonomi.
“Salah satu yang kami bawakan mengenai melemahnya nilai tukar rupiah. Ini kan akhirnya berpengaruh sebagai efek domino hingga meningkatnya harga BBM,” ujarnya di sela-sela aksi.
Pernyataan itu langsung mendapat respons dari massa aksi yang kompak menyuarakan dukungan. Mereka menilai kondisi ekonomi yang tidak stabil akan berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat.
Tak hanya soal nilai tukar rupiah, mahasiswa juga menyoroti persoalan distribusi BBM subsidi yang hingga kini masih menyisakan banyak persoalan.
Di berbagai daerah, masyarakat masih mengeluhkan sulitnya memperoleh BBM bersubsidi yang seharusnya dapat diakses oleh kelompok yang membutuhkan.
Menurut Radin, persoalan tersebut menjadi bukti bahwa masih terdapat ketidakefisienan dalam tata kelola distribusi energi bagi masyarakat.
“Dapat kita lihat bagaimana kita susah untuk mendapatkan subsidi Pertalite itu saat ini,” lanjutnya.
Sorotan terhadap kondisi ekonomi semakin tajam ketika mahasiswa menyinggung persoalan lapangan pekerjaan.
Mereka mengaku prihatin dengan meningkatnya kesulitan masyarakat dalam mencari pekerjaan di tengah situasi ekonomi yang penuh tekanan.
Di hadapan peserta aksi, Radin menyampaikan bahwa banyak pekerja yang harus menghadapi kenyataan pahit berupa pemutusan hubungan kerja atau PHK. Kondisi itu semakin mempersempit peluang masyarakat untuk memperoleh penghasilan yang layak.
“Kami merasa dirugikan karena saat ini masyarakat secara umum kesulitan mendapatkan pekerjaan. Apalagi dengan keadaan ekonomi seperti ini banyak buruh atau pekerja yang di-PHK,” katanya.
Kegelisahan tersebut menjadi salah satu alasan mengapa mahasiswa memilih turun ke jalan. Mereka ingin menyampaikan bahwa persoalan ekonomi juga menyangkut kehidupan nyata masyarakat yang setiap hari berjuang memenuhi kebutuhan hidup.
Namun, aksi di Titik Nol Jogja itu tidak hanya berbicara tentang ekonomi. Mahasiswa UII juga membawa sejumlah tuntutan lain yang mereka nilai mendesak.
Tuntutan Lain
Mereka menyoroti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang belakangan menjadi salah satu program prioritas pemerintah.
Dalam tuntutannya, mahasiswa meminta penghentian total program tersebut bersama Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes).
Selain itu, mahasiswa juga menuntut pemerintah untuk memperbaiki tata kelola kebijakan fiskal dan keuangan negara.
Mereka menilai kebijakan ekonomi harus lebih berpihak kepada kepentingan masyarakat luas dan mampu menjawab berbagai tantangan yang muncul saat ini.
Isu reformasi Kepolisian Republik Indonesia juga ikut mengemuka dalam aksi tersebut. Mahasiswa meminta pemerintah memberikan kejelasan terkait progres reformasi Polri dan mendorong percepatan revisi Undang-Undang Polri.
Menurut Radin, pembentukan tim reformasi Polri harus berbarengan dengan langkah nyata dan terukur. Ia menegaskan bahwa masyarakat membutuhkan kepastian, bukan sekadar janji atau wacana.
Mahasiswa juga menyoroti fenomena militerisme di ranah sipil yang mereka nilai perlu dihentikan. Mereka meminta pemerintah menjaga prinsip-prinsip demokrasi dan memastikan ruang sipil tetap berjalan sesuai koridornya.
Tak kalah penting, massa aksi turut mengkritik pola komunikasi pemerintah yang belum berjalan optimal. Mereka menilai sejumlah kebijakan strategis sering kali lahir tanpa melibatkan partisipasi publik secara maksimal.
Oleh karena itu, mahasiswa mendesak pemerintah memperbaiki pola komunikasi dengan masyarakat serta berani mengakui kesalahan apabila terdapat kebijakan yang tidak berjalan sesuai harapan publik.
Enam Tuntutan
Aksi berlangsung tertib dengan pengawalan aparat keamanan. Di tengah teriknya matahari Yogyakarta, mahasiswa terus menyuarakan aspirasi mereka melalui orasi, poster, dan seruan di kawasan bersejarah tersebut.
Bagi para mahasiswa, aksi ini bukan sekadar demonstrasi biasa. Mereka ingin menjadikan Titik Nol Jogja sebagai ruang pengingat bahwa di tengah berbagai persoalan bangsa, suara publik tetap harus didengar.
Melalui aksi Menuju Indonesia Bangkrut, mereka mengirimkan pesan bahwa keresahan masyarakat terhadap ekonomi, lapangan pekerjaan, hingga tata kelola pemerintahan tidak boleh diabaikan.
Enam Tuntutan Mahasiswa UII dalam Aksi di Titik Nol Jogja
- Menuntut pemberhentian total Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes).
- Menuntut penurunan harga BBM dan harga bahan pokok.
- Menuntut pemerintah memperbaiki tata kelola kebijakan fiskal dan keuangan negara.
- Menuntut kejelasan progres reformasi Kepolisian RI serta revisi UU Polri.
- Menuntut penghentian militerisme di ranah sipil.
- Menuntut perbaikan pola komunikasi pemerintah serta pengakuan atas kesalahan kebijakan yang terjadi.
Siang itu, di bawah terik matahari Kota Yogyakarta, suara mahasiswa kembali menggema dari Titik Nol Kilometer. (ef linangkung)