
KabarJawa.com— Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya. Pada Rabu malam pukul 20.03 WIB, gunung api paling aktif di Indonesia ini meluncurkan awan panas guguran sejauh 1,1 kilometer ke arah hulu Kali Sat/Putih.
Peristiwa ini terekam jelas dalam laporan resmi Badan Geologi melalui BPPTKG. Awan panas tersebut tercatat memiliki amplitudo maksimum 25 mm dengan durasi mencapai 122,79 detik—angka yang menegaskan intensitas energi yang cukup signifikan dari perut bumi Merapi.
Detik-Detik Awan Panas Rabu Malam
Langit malam yang gelap dan cuaca mendung tidak menghalangi aktivitas vulkanik Merapi. Justru, kondisi hujan yang mengguyur kawasan lereng memperbesar kekhawatiran akan potensi bahaya lanjutan, seperti lahar dingin.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santosa, menegaskan bahwa fenomena ini merupakan bagian dari dinamika suplai magma yang masih berlangsung di dalam tubuh gunung.
“Aktivitas ini menunjukkan bahwa energi dari dalam masih aktif mendorong material ke permukaan, sehingga potensi awan panas guguran tetap tinggi,” ujarnya.
Laporan aktivitas periode pengamatan pukul 12.00 hingga 18.00 WIB memperlihatkan bahwa Merapi memang tengah berada dalam fase aktif.
Petugas mencatat 23 kali gempa guguran dengan durasi hingga hampir 3 menit, 22 kali gempa hybrid atau fase banyak dan 6 kali guguran lava mengarah ke barat daya sejauh maksimal 1,8 kilometer
Meski secara visual puncak tertutup kabut tebal dan tidak menunjukkan asap kawah, aktivitas internal gunung justru terus meningkat.
Suhu udara berkisar antara 20,5 hingga 22,5 derajat Celsius dengan kelembapan tinggi mencapai hampir 99 persen. Ini kondisi yang umum terjadi saat intensitas hujan meningkat.
Saat ini, status aktivitas Gunung Merapi masih berada pada Level III (Siaga). Artinya, potensi erupsi dan bahaya sekunder tetap mengintai, terutama di wilayah-wilayah yang dilalui aliran sungai berhulu di Merapi.
Berikut zona bahaya harus diwaspadai.
- Sektor selatan–barat daya: Sungai Boyong (hingga 5 km), Bedog, Krasak, dan Bebeng (hingga 7 km)
- Sektor tenggara: Sungai Woro (hingga 3 km) dan Gendol (hingga 5 km) dan radius lontaran material: hingga 3 km dari puncak
Material vulkanik seperti lava pijar, awan panas, hingga lontaran batu pijar dapat terjadi sewaktu-waktu tanpa tanda yang mudah dikenali oleh masyarakat awam.
Imbauan Tegas: Jangan Dekati Alur Sungai dan Zona Rawan
BPPTKG mengeluarkan peringatan keras kepada masyarakat agar tidak melakukan aktivitas apapun di daerah potensi bahaya. Selain itu, warga juga perlu menjauhi alur sungai yang berhulu di Merapi, terutama saat hujan turun.
Kondisi curah hujan yang mencapai 17,38 mm per hari membuka peluang terjadinya banjir lahar. Hal ini dapat membawa material vulkanik berbahaya hingga ke wilayah pemukiman.
Para ahli menegaskan bahwa aktivitas Merapi belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Suplai magma yang terus berlangsung menjadi faktor utama yang dapat memicu awan panas guguran susulan.
Situasi ini menuntut kewaspadaan tinggi dari seluruh pihak, mulai dari pemerintah daerah, relawan, hingga masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana.
Masyarakat sebaiknya terus memantau perkembangan terbaru melalui kanal resmi BPPTKG dan Badan Geologi. Lalu, jangan mudah percaya pada informasi yang tidak jelas sumbernya.
Dalam situasi seperti ini, kecepatan informasi harus diimbangi dengan ketepatan dan validitas data. (ef linangkung)