
KabarJawa.com– Gunung Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang intens.
Dentuman tak terdengar, tetapi ancaman meluncur cepat dalam bentuk awan panas guguran yang menyapu lereng barat daya pada Selasa siang, 7 April 2026.
Awan Panas 7 April
Pada pukul 14:42 WIB, petugas mencatat satu kejadian awan panas guguran dengan jarak luncur mencapai 1.800 meter. Material panas itu bergerak ke arah barat daya, tepatnya menuju hulu Kali Boyong.
Getaran terekam dengan amplitudo maksimum 17,7 mm dan berlangsung selama 106,68 detik—cukup lama untuk menunjukkan energi besar yang tersimpan di dalam tubuh gunung.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santosa, menegaskan bahwa fenomena ini merupakan bagian dari dinamika Merapi yang masih aktif. Ia menyebut suplai magma yang terus berlangsung menjadi pemicu utama munculnya awan panas guguran.
Dalam periode pengamatan pukul 06:00 hingga 12:00 WIB, aktivitas kegempaan menunjukkan intensitas yang signifikan.
- 1 kali awan panas guguran
- 34 kali guguran lava
- 17 gempa hybrid atau fase banyak
- 1 gempa tektonik jauh
Selain itu, lava pijar juga terlihat meluncur sebanyak empat kali ke arah Kali Krasak dengan jarak maksimum 1.300 meter. Data ini memperkuat indikasi bahwa aktivitas internal Merapi masih sangat dinamis.
Secara visual, asap kawah tampak berwarna putih tebal dengan ketinggian sekitar 50 meter dari puncak. Cuaca yang didominasi awan dan hujan dengan curah mencapai 45 mm per hari turut memperbesar potensi bahaya sekunder seperti lahar.
Wilayah Rawan dan Ancaman Nyata
BPPTKG menetapkan status Merapi tetap pada Level III (Siaga). Ancaman utama saat ini meliputi guguran lava dan awan panas pada sektor selatan hingga barat daya.
Aliran berbahaya berpotensi menjangkau sungai Boyong hingga 5 km, sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 km, sungai Woro hingga 3 km dan sungai Gendol hingga 5 km. Selain itu, jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material dapat mencapai radius 3 km dari puncak.
Pihak berwenang tidak ingin mengambil risiko. BPPTKG mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di zona berbahaya. Warga juga harus menjauhi alur sungai yang berhulu di Merapi karena potensi lahar meningkat saat hujan turun.
Selain itu, masyarakat sebaiknya mengantisipasi gangguan abu vulkanik yang dapat mengganggu kesehatan dan aktivitas sehari-hari. Jika terjadi peningkatan aktivitas signifikan, otoritas akan segera meninjau ulang status gunung.
Bagi warga di lereng Merapi, peristiwa ini bukan sekadar berita, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari. Gunung setinggi 2.968 mdpl ini terus mengirimkan sinyal bahwa energi di perut bumi belum mereda. (ef linangkung)