
KABARJAWA – Kabupaten Gunungkidul mencatat capaian dramatis pada sektor perikanan budidaya air tawar. Sepanjang semester I tahun 2025, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Gunungkidul melaporkan produksi ikan budidaya mencapai 7.104.008 kilogram atau 7 ton lebih.
Angka ini melambung tinggi dibandingkan semester I tahun 2024 yang hanya mencapai 5.756.228 kilogram.
Dominasi Produksi Ikan Budidaya Gunungkidul
Kepala Bidang Perikanan Budidaya Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Gunungkidul, Purnomo Sumardamto, menegaskan lele mendominasi produksi ikan budidaya di Gunungkidul.
Purnomo menyebut lele menyumbang 85 persen dari total produksi ikan air tawar di kabupaten ini.
“Lele menjadi komoditas air tawar terbanyak saat ini di Gunungkidul,” ungkap Purnomo, Senin (7/7/2025).
Purnomo menyampaikan para pembudidaya ikan di Gunungkidul menanamkan optimisme besar pada komoditas lele.
Ia menyebut budidaya ikan air tawar di Gunungkidul digerakkan oleh 399 kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) dan 643 pembudidaya perorangan.
Mereka menyalurkan kerja keras, modal, dan pengetahuan demi memproduksi ikan budidaya yang berkualitas.
Ia mengungkapkan Koperasi 4M di Kalitekuk menjadi salah satu pilar utama produksi lele Gunungkidul. Kelompok ini memiliki 1.000 kolam budidaya lele, sehingga mendongkrak jumlah produksi di Gunungkidul.
“Kelompok Koperasi 4M memiliki jumlah kolam budidaya lele yang sangat besar. Kondisi ini membuat produksi lele di Gunungkidul meningkat tajam,” jelas Purnomo.
Selain lele, para pembudidaya di Gunungkidul juga membudidayakan ikan nila, mas, gurameh, tawes, dan bawal.
Namun, lele tetap menjadi primadona karena proses budidaya relatif cepat, kebutuhan pasar tinggi, dan permintaan konsumen yang stabil sepanjang tahun.
Purnomo menekankan curah hujan yang cukup baik pada semester I 2025 juga berkontribusi besar dalam menjaga ketersediaan air di kolam budidaya.
Para pembudidaya dapat mempertahankan aktivitas produksi mereka tanpa terkendala kekeringan atau debit air yang menurun drastis.
“Selain itu, kebutuhan pasar yang besar dan kemudahan dalam memasarkan hasil produksi ikan juga sangat mempengaruhi peningkatan produksi,” tambahnya.
Pendampingan dari Dinas
Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Gunungkidul terus memberikan pendampingan teknis kepada para pembudidaya. Purnomo menuturkan pendampingan dilakukan secara rutin melalui penyuluh, analis, dan teknisi akuakultur.
“Pendampingan ini kami jalankan secara rutin dengan jadwal tertentu maupun secara insidentil sesuai kebutuhan di lapangan,” katanya.
Selain pendampingan teknis, Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Gunungkidul menyiagakan unit Posikandu (Pos Pelayanan Kesehatan Ikan Terpadu) untuk menangani laporan terkait hama, penyakit, maupun kasus kematian ikan budidaya.
Purnomo menegaskan Posikandu siap membantu pembudidaya jika ikan mereka terserang penyakit atau menghadapi masalah pada kualitas air kolam.
Purnomo menyatakan pemerintah setiap tahun menyalurkan bantuan kolam, bibit, pakan, serta obat-obatan kepada kelompok pembudidaya ikan meskipun jumlahnya terbatas.
Ia menegaskan pentingnya monitoring rutin terhadap kelompok penerima bantuan agar produksi tetap berjalan optimal dan tidak terhenti akibat kendala teknis maupun kelembagaan.
“Kami terus memonitor agar produksi ikan budidaya mereka tidak berhenti karena permasalahan teknis atau kelembagaan,” tegasnya.
Purnomo berharap produksi ikan budidaya Gunungkidul terus mengalami peningkatan pada semester II 2025.
Ia yakin kerja keras pembudidaya, dukungan pemerintah, serta ketersediaan pasar yang stabil akan mendorong sektor perikanan budidaya Gunungkidul menjadi tulang punggung perekonomian rakyat di masa mendatang. (ef linangkung)