
KabarJawa.com — Pemerintah Kalurahan Ngargosari, Kapanewon Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, memperingati Hari Jadi ke-79 pada Minggu, 1 Februari 2026.
Peringatan tersebut ditandai dengan upacara dan penandatanganan Prasasti Blengketan oleh Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan.
Kegiatan digelar sebagai bagian dari upaya menghadirkan kembali ingatan kolektif masyarakat atas peristiwa penggabungan wilayah pascakemerdekaan.
Prasasti Blengketan diposisikan sebagai penanda sejarah berdirinya Kalurahan Ngargosari yang dibangun atas dasar persatuan dan kesepakatan bersama.
Peneguhan Memori Sejarah Lokal
Upacara berlangsung dengan tertib dan khidmat. Pamong kalurahan, tokoh masyarakat, sesepuh desa, serta warga Ngargosari mengikuti rangkaian acara yang disusun secara sakral.
Pemerintah kalurahan menempatkan peringatan hari jadi sebagai momen penguatan jati diri dan pemaknaan sejarah, bukan sekadar seremoni tahunan.
Prasasti Blengketan mencatat peristiwa yang terjadi pada Sabtu Wage, 1 Februari 1947, pukul 12.00 WIB. Pada waktu tersebut, ditetapkan penggabungan Kelurahan Ngaliyan Nomor 97 dan Kelurahan Ngargowahono Nomor 98 menjadi satu wilayah bernama Kelurahan Ngargosari Nomor 40.
Penggabungan wilayah itu berlandaskan Maklumat Nomor 16 Daerah Istimewa Negara Republik Indonesia Yogyakarta Tahun 1946. Kebijakan tersebut menyatukan wilayah administratif sekaligus menyelaraskan arah pembangunan dan kehidupan sosial masyarakat setempat.
Proses blengketan pada masa itu berlangsung tanpa gejolak. Para pemimpin lokal mengedepankan musyawarah dan persaudaraan sehingga penyatuan wilayah dapat berjalan tertib. Peristiwa tersebut kemudian diabadikan melalui prasasti yang kini berdiri di Kalurahan Ngargosari.
Pesan Pemerintah Kalurahan
Lurah Ngargosari, Kiswanto, dalam sambutannya menyampaikan bahwa peringatan Hari Jadi ke-79 dimaknai sebagai penghormatan terhadap nilai persatuan yang diwariskan para pendahulu.
Ia menegaskan bahwa sejarah blengketan menjadi fondasi penting bagi kehidupan pemerintahan dan masyarakat Ngargosari.
Kiswanto menjelaskan bahwa pada saat penggabungan wilayah, Lurah Ngargowahono bersedia melepas jabatan dan menerima amanah sebagai Kamituwo. Pada waktu yang sama, Lurah Ngaliyan dipercaya memimpin wilayah baru bernama Ngargosari.
“Dari peristiwa blengketan ini, masyarakat tidak hanya menyaksikan lahirnya tatanan pemerintahan baru, tetapi juga belajar tentang makna menyatu. Para pemimpin kala itu menunjukkan bahwa perubahan jabatan dapat berjalan tenteram dan adil ketika persaudaraan menjadi dasar utama,” ujar Kiswanto.
Ia juga mengingatkan pamong kalurahan agar memaknai jabatan sebagai ruang pengabdian. Menurutnya, kepentingan pribadi harus dilebur demi pemenuhan kebutuhan masyarakat dan keberlanjutan pemerintahan desa.
Nilai-nilai yang lahir dari peristiwa blengketan, lanjut Kiswanto, tetap relevan hingga saat ini. Pemerintah kalurahan diharapkan terus menjaga semangat gotong royong dan keadilan sosial agar kehidupan bermasyarakat tetap harmonis.
Dukungan Pemerintah Kabupaten
Bupati Kulon Progo, Agung Setyawan, menyampaikan apresiasi atas inisiatif Pemerintah Kalurahan Ngargosari dalam merawat memori sejarah.
Ia menilai penandatanganan Prasasti Blengketan sebagai langkah strategis untuk memperkuat identitas daerah dan memperkaya narasi sejarah lokal.
Agung menyatakan bahwa Pemerintah Kabupaten Kulon Progo mendukung agar peringatan Hari Jadi Kalurahan Ngargosari dapat terus dilaksanakan secara rutin. Ia melihat potensi pengembangan kegiatan tersebut menjadi agenda tahunan dengan cakupan yang lebih luas.
“Pemerintah Kabupaten Kulon Progo sangat mendukung agar peringatan ini terus digelar secara rutin. Kegiatan ini dapat berkembang menjadi pesta rakyat yang tidak hanya mempererat persaudaraan, tetapi juga meningkatkan daya tarik wisata di Kalurahan Ngargosari,” tutur Agung.
Menurutnya, perpaduan antara sejarah, budaya, dan partisipasi masyarakat dapat menjadi daya tarik tersendiri. Potensi tersebut dinilai membuka peluang pengembangan wisata berbasis sejarah dan budaya lokal.
Rangkaian Kegiatan Lanjutan
Usai penandatanganan Prasasti Blengketan, pemerintah kalurahan melanjutkan kegiatan dengan pentas seni rakyat. Sejumlah pertunjukan budaya lokal ditampilkan dan mendapat perhatian warga.
Pentas seni dijadwalkan berlangsung hingga 2 Februari 2026. Rangkaian kegiatan tersebut menjadi bagian dari peringatan Hari Jadi ke-79 Kalurahan Ngargosari yang menempatkan sejarah dan kebudayaan sebagai elemen utama.
Melalui peringatan ini, Kalurahan Ngargosari menegaskan kembali asal-usul wilayah yang lahir dari proses penyatuan. Prasasti Blengketan dihadirkan sebagai pengingat atas peristiwa sejarah yang membentuk Ngargosari hingga saat ini.