
KabarJawa.com – Ribuan penonton memadati Lapangan Pacuan Kuda Stadion Sultan Agung (SSA), Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Minggu (14/6/2026), untuk menyaksikan ajang Indonesia’s Horse Racing (IHR) Piala Paku Alam 2026.
Antusiasme penonton terlihat sejak perlombaan dimulai. Mereka memadati area sekitar lintasan untuk menyaksikan kuda-kuda terbaik dari berbagai daerah bersaing memperebutkan kemenangan.
Piala Paku Alam 2026 merupakan seri keempat dalam kalender Indonesia’s Horse Racing (IHR) 2026 sekaligus seri kedua dalam rangkaian King’s Cup Series IHR 2026.
Managing Director Sarga Group, Nugdha Achadie, mengatakan penyelenggaraan IHR tidak hanya bertujuan menjaga tradisi pacuan kuda di Indonesia, tetapi juga mengembangkan potensinya sebagai bagian dari kebanggaan nasional.
“Tujuan kami pertama membangkitkan tradisi dan semangat pacuan kuda di Indonesia, bukan hanya untuk melestarikan tetapi juga mengembangkan potensinya menjadi bagian dari kebanggaan nasional,” kata Nugdha kepada awak media.
Menurut dia, IHR 2026 dikemas sebagai sport entertainment experience yang memadukan kompetisi olahraga, unsur budaya, dan hiburan dalam satu rangkaian acara.
“Kami ingin menjadikan IHR Piala Paku Alam di akhir pekan ini sebagai perayaan olahraga yang dapat dinikmati semua kalangan. Tidak hanya bagi insan pacuan kuda, tetapi juga masyarakat luas yang ingin merasakan atmosfer kompetisi, hiburan, dan kebanggaan budaya Indonesia dalam satu acara,” ujarnya.
155 Kuda dari 10 Daerah Bertanding
VP Marketing & Operation Sarga.co, Kevin Jonathan, mengungkapkan sebanyak 155 kuda dari 10 daerah mengikuti kompetisi tahun ini.
Daerah peserta tersebut meliputi Sumatera Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Utara.
Ratusan kuda itu bertanding dalam 18 race dengan total hadiah yang diperebutkan mencapai Rp600 juta.
“Dari 155 kuda ini bertarung dalam 18 race dan memperebutkan total hadiah Rp600 juta. Persaingan berlangsung ketat karena sejumlah stable dan kuda unggulan nasional akan turun bertarung memperebutkan prestise serta poin penting menuju seri-seri berikutnya dalam musim kompetisi 2026,” ujar Kevin.
Persaingan berlangsung ketat sejak perlombaan awal. Setiap stable berupaya mengumpulkan poin penting untuk menjaga peluang pada seri-seri berikutnya.
Usung Konsep Carnaval Race
Berbeda dengan kejuaraan pacuan kuda pada umumnya, IHR Piala Paku Alam 2026 mengusung konsep Carnaval Race yang menghadirkan berbagai aktivitas hiburan bagi pengunjung.
Panitia menghadirkan parade karnaval, area bermain anak, serta beragam aktivitas interaktif yang dapat dinikmati seluruh anggota keluarga.
Konsep tersebut dihadirkan untuk memperluas jangkauan penonton sekaligus mengenalkan olahraga pacuan kuda kepada generasi muda.
Kemeriahan acara juga didukung penampilan pedangdut Inul Daratista yang menjadi salah satu daya tarik bagi pengunjung.
Kevin mengatakan, Inul tidak hanya tampil dalam konser, tetapi juga berinteraksi langsung dengan masyarakat melalui kompetisi karaoke.
“Kami juga menghadirkan Inul Daratista. Beliau tidak hanya tampil dalam konser, tetapi juga berinteraksi dengan penonton. Ada kompetisi karaoke dan pemenangnya akan bernyanyi bersama Inul Daratista pada saat penutup acara,” katanya.
Melanjutkan Tradisi Pakualaman
Nyi Mas Lurah Adhiyaksa Putri Pakualaman, Arma Santiningrum, menjelaskan bahwa Kadipaten Pakualaman telah menyelenggarakan ajang pacuan kuda secara rutin sejak 2013 di Lapangan Pacuan Kuda SSA Bantul.
“Tahun ini, kami bersyukur dapat kembali menyelenggarakan dan berkolaborasi bersama IHR. Kolaborasi ini menjadi upaya mendekatkan olahraga pacuan kuda kepada generasi muda melalui berbagai konsep hiburan yang lebih modern,” ujarnya.
Dalam penyelenggaraan tahun ini, unsur budaya Yogyakarta juga dihadirkan melalui penampilan kereta kencana, prajurit bergada, serta busana adat Jawa.
Kehadiran unsur budaya tersebut mempertegas identitas Piala Paku Alam sebagai ajang yang tidak hanya berfokus pada kompetisi olahraga, tetapi juga menjadi ruang pertemuan antara tradisi dan hiburan modern.
Piala Paku Alam 2026 menjadi salah satu upaya menjaga keberlanjutan tradisi pacuan kuda sekaligus memperluas daya tarik olahraga tersebut kepada masyarakat yang lebih luas.