
KabarJawa.com– Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya. Pada Rabu (1/10/2025) pagi sekitar pukul 05.53 WIB, awan panas guguran (APG) meluncur deras dari puncak menuju hulu Kali Putih dengan jarak luncur mencapai 1.000 meter.
Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) langsung mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dan tidak beraktivitas di kawasan rawan bencana.
Awan Panas Guguran
Kepala BPPTKG Agus Budi Santosa menegaskan bahwa kejadian awan panas guguran ini memperlihatkan suplai magma masih aktif.
Data pemantauan BPPTKG menunjukkan aliran magma masih terus berlangsung sehingga potensi awan panas guguran bisa terjadi kembali.
“Kami meminta masyarakat mematuhi rekomendasi yang sudah kami keluarkan,” ujar Agus.
Dalam laporan resmi BPPTKG periode pengamatan pukul 00.00–06.00 WIB, awan panas guguran tercatat memiliki amplitudo maksimum 29 mm dengan durasi 92,5 detik.
Selain itu, seismograf juga merekam 24 kali gempa guguran, 18 kali gempa hybrid atau fase banyak, serta 10 kali guguran lava pijar yang mengarah ke Kali Krasak dan Kali Sat dengan jarak luncur maksimum 1.800 meter.
Cuaca di sekitar Merapi saat kejadian relatif cerah berawan dengan suhu udara 19,2–19,7 °C, kelembaban udara 77,7–88,6 persen, serta angin lemah bertiup ke arah timur.
Secara visual, asap kawah tidak teramati, namun aktivitas guguran jelas terlihat dari Pos Pengamatan Gunung Merapi.
BPPTKG menegaskan, potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan–barat daya yang meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 kilometer.
Pada sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh 5 kilometer.
Agus Budi Santosa mengingatkan, masyarakat harus mewaspadai bahaya sekunder berupa lahar hujan. Ketika hujan turun di puncak Merapi, material guguran bisa terbawa menjadi lahar dingin yang berbahaya bagi wilayah di sepanjang aliran sungai.
“Kami minta masyarakat tidak beraktivitas di daerah potensi bahaya dan tetap siaga,” tegasnya.
Status Tetap Siaga Level III
Hingga pagi ini, status aktivitas Gunung Merapi masih bertahan di Level III atau Siaga. Status ini menandakan bahwa aktivitas vulkanik berada di tingkat tinggi, meski belum mencapai fase erupsi eksplosif besar.
Meski demikian, lontaran material vulkanik dari puncak jika terjadi letusan bisa menjangkau radius 3 kilometer.
BPPTKG memastikan akan meninjau kembali tingkat aktivitas jika terjadi perubahan signifikan pada data pemantauan.
Sementara itu, masyarakat diminta tetap tenang, tidak terpancing informasi yang tidak valid, dan terus mengikuti update resmi dari BPPTKG serta Badan Geologi.
Dalam rekomendasinya, BPPTKG meminta warga melakukan hal berikut.
- Tidak melakukan aktivitas di wilayah potensi bahaya.
- Mewaspadai lahar hujan terutama di sepanjang sungai yang berhulu di Merapi.
- Mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik.
- Selalu mengikuti informasi resmi dari lembaga berwenang.
Gunung Merapi yang berdiri megah di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah memang menjadi gunung api paling aktif di Indonesia. Aktivitasnya selalu mendapat perhatian publik, karena guguran lava dan awan panas dapat terjadi sewaktu-waktu.
Dengan status masih Siaga, masyarakat di sekitar lereng Merapi diminta untuk tetap waspada, siaga, dan tidak mengabaikan peringatan dini.
“Yang bisa kita lakukan hanya patuh terhadap rekomendasi dan selalu siap menghadapi kemungkinan terburuk,” pungkas Agus Budi Santosa. (ef linangkung)