
KabarJawa.com – Pemerintah Kota Yogyakarta menegaskan langkah penataan tata kelola parkir bus pariwisata sebagai upaya mengurangi beban kendaraan di Kawasan Sumbu Filosofi (KSF).
Kebijakan ini diarahkan untuk menjaga kelestarian kawasan yang telah ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Dunia, sekaligus memastikan keberlanjutan sistem mobilitas dan pariwisata kota.
Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Yogyakarta, Agus Tri Haryono, menyampaikan bahwa strategi utama yang sedang dijalankan meliputi penyediaan Tempat Khusus Parkir (TKP) baru bagi bus pariwisata serta pengembangan Terminal Giwangan sebagai kawasan Transit Oriented Development (TOD).
Kebijakan tersebut ditujukan untuk mengurangi tekanan kendaraan besar di kawasan inti Sumbu Filosofi, termasuk kawasan Malioboro, Tugu, dan area sekitarnya yang selama ini menjadi pusat aktivitas wisata dan lalu lintas.
“Sumbu Filosofi telah ditetapkan sebagai warisan dunia. Ini capaian yang membanggakan, namun membawa konsekuensi besar dalam tata kelola kota. Salah satu tekanan terbesar datang dari pergerakan lalu lintas, terutama bus pariwisata. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi kelancaran mobilitas, tapi juga berdampak pada kualitas kawasan dan keberlanjutan aktivitas ekonomi pariwisata,” ujar Agus.
Penguatan Peran Terminal Giwangan
Agus menjelaskan bahwa kawasan Yogyakarta bagian selatan dengan pusat di Terminal Giwangan memiliki posisi strategis sebagai simpul transportasi utama dan pintu masuk kota. Terminal tersebut juga berfungsi sebagai pusat pertumbuhan ekonomi wilayah selatan Yogyakarta.
Status Terminal Giwangan sebagai Kawasan Strategis Kota menjadikannya lokus pembangunan prioritas dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah periode 2025–2029. Penguatan peran terminal ini dinilai penting untuk mendukung pemerataan pembangunan dan mengurangi beban kawasan pusat kota.
Pengelolaan Terminal Giwangan semakin diperkuat setelah Pemerintah Kota Yogyakarta memperoleh hak pengelolaan lahan di sisi selatan terminal. Agus menyebut langkah tersebut membuka peluang optimalisasi aset daerah secara terintegrasi.
“Pengelolaan Kawasan Terminal Giwangan merupakan bagian integral dari strategi pembangunan Kota Yogyakarta. Langkah ini mendorong pemerataan pembangunan wilayah selatan sekaligus memperkuat struktur ekonomi kota,” katanya.
Pemerintah Kota Yogyakarta juga telah menyusun master plan Kawasan Terminal Giwangan melalui proses kajian lebih dari empat bulan. Kajian tersebut melibatkan perangkat daerah tingkat kota dan provinsi, pelaku usaha, operator transportasi, pelaku pariwisata, hingga kalangan akademisi.
Fokus Pengurangan Tekanan di Kawasan Sumbu Filosofi
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menegaskan bahwa fokus utama kebijakan transportasi kota adalah mengurangi tekanan kendaraan di Kawasan Sumbu Filosofi. Menurutnya, pengembangan destinasi wisata tetap penting, namun pengendalian lalu lintas di kawasan warisan dunia menjadi prioritas utama.
“Kalau fokus kita mengurangi beban di Sumbu Filosofi, langkah-langkahnya harus konkret. Yang pertama, tekanannya harus berkurang. Kalau tekanan berkurang, otomatis bus tidak masuk ke kawasan inti,” ujar Hasto.
Ia mencontohkan kawasan Senopati yang selama ini menjadi salah satu titik tekanan akibat parkir dan aktivitas bus pariwisata. Menurut Hasto, penataan kawasan tersebut harus diawali dengan pengurangan beban kendaraan.
“Kita kondisikan Senopati supaya lebih baik dan tidak seperti sekarang. Langkah pertamanya adalah mengurangi beban kendaraan, setelah itu baru kita cari solusi lanjutan,” katanya.
Hasto menambahkan, pemerintah kota melakukan perhitungan rinci terkait kapasitas kawasan, jumlah bus per hari, baik pada hari biasa maupun musim puncak kunjungan wisata, sebelum menentukan skema pengalihan bus.
“Kita hitung dulu kapasitas yang ada, berapa bus per hari, hari biasa dan peak season. Setelah itu baru kita tentukan dialihkan ke mana. Pemikirannya dibalik, ini dibutuhkan atau tidak. Kalau dibutuhkan, bagaimana skenarionya,” jelasnya.
Dalam penyusunan kebijakan transportasi, Hasto menekankan pendekatan bertahap namun memiliki visi jangka panjang agar tidak bersifat tambal sulam.
“Kita mulai dari yang bisa dijangkau sekarang, start small, act now, think big,” ujarnya.
Kajian Akademik dan Agenda Keberlanjutan
Pandangan tersebut diperkuat oleh akademisi Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada, Muhammad Sani Roychansyah. Ia menyampaikan bahwa kajian pengendalian dan pengurangan beban kendaraan di Sumbu Filosofi telah berlangsung hampir satu dekade.
“Konteksnya menjadi lebih penting setelah penetapan UNESCO. Pengurangan beban dan pengendalian Sumbu Filosofi semakin relevan dan harus dipercepat realisasinya,” kata Sani.
Melalui penataan parkir bus pariwisata, penyediaan TKP baru, serta pengembangan Terminal Giwangan sebagai kawasan TOD, Pemerintah Kota Yogyakarta menargetkan pengelolaan Kawasan Sumbu Filosofi yang lebih terjaga.
Kebijakan ini juga diarahkan untuk menciptakan sistem mobilitas dan pariwisata yang lebih tertata dan berkelanjutan ke depan.