
KABARJAWA — Pemerintah Kota Yogyakarta mengambil langkah besar untuk meningkatkan mutu layanan kesehatan dengan menggandeng Lembaga Akreditasi Mutu Fasyankes Indonesia (LAMFI).
Kolaborasi ini tidak hanya menargetkan peningkatan sarana dan prasarana medis, namun lebih dari itu, Pemkot bertekad menghadirkan pelayanan kesehatan yang humanis, empatik, dan penuh rasa hormat kepada pasien.
Pemerintah menyadari bahwa pelayanan kesehatan berkualitas tidak cukup hanya mengandalkan kelengkapan alat medis atau bangunan megah.
Pemkot Yogyakarta menekankan pentingnya pengalaman pasien sebagai tolok ukur utama. Mereka mengusung nilai bahwa mutu layanan kesehatan harus dirasakan, bukan sekadar dilihat.
SDM Humanis Jadi Kunci Reformasi Pelayanan
Pernyataan itu disampaikan langsung oleh Hasto, salah satu tokoh yang mendorong akreditasi ini. Ia menegaskan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) yang kompeten dan humanis menjadi fondasi penting dalam mewujudkan pelayanan yang aman dan bermartabat.
Menurutnya, fasilitas layanan kesehatan (fasyankes) tidak boleh hanya fokus pada keunggulan teknis, tetapi juga harus mengutamakan kenyamanan emosional pasien saat menjalani perawatan.
“Mutu fasyankes merupakan cerminan keberhasilan sistem kesehatan suatu negara. Bukan sekadar memberikan layanan medis, tetapi juga menjamin bahwa setiap pasien diperlakukan sesuai standar, dengan aman, efektif, dan penuh empati,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa pendekatan new public management menuntut institusi kesehatan untuk mengedepankan service excellent sebagai nilai utama. Oleh karena itu, akreditasi harus melihat lebih dalam—tidak hanya menilai apa yang tampak secara fisik, tapi juga apa yang dirasakan dan dialami oleh pasien.
“Pelayanan kesehatan sejati bukan hanya tentang hard skill seperti kemampuan medis, tetapi juga tentang soft skill, bagaimana menyapa pasien, memberikan senyuman, dan membangun rasa aman dalam komunikasi,” tegas Hasto.
Hasto bahkan menyebut bahwa puncak pelayanan kesehatan terletak pada kualitas SDM yang tidak hanya mumpuni secara teknis, tetapi juga memiliki intuisi dalam memahami kondisi pasien. Mereka harus mampu menyelami perasaan pasien, merespons dengan empati, dan tetap profesional di tengah tekanan kerja.
Cakupan Akreditasi Luas dan Holistik
Dalam mendukung langkah besar ini, perwakilan Regional LAMFI, Agus Makmur, juga memberikan penjelasan rinci. Ia menuturkan bahwa cakupan akreditasi LAMFI meliputi Puskesmas, Klinik, Laboratorium Kesehatan, hingga Unit Transfusi Darah (UTD).
Selama tiga tahun terakhir, LAMFI menjalankan misi besar: membangun sistem akreditasi yang tidak hanya bersandar pada kepatuhan administratif.
Mereka mendorong transformasi menyeluruh yang mencakup reformasi sistem manajemen mutu, peningkatan kapasitas SDM, dan penerapan nilai-nilai pelayanan holistik di seluruh lini fasilitas kesehatan.
“Kami terus memperjuangkan agar seluruh fasyankes tidak hanya berorientasi pada dokumen, tapi juga mampu mengimplementasikan nilai-nilai pelayanan yang transformatif. SDM menjadi kunci mutlak dalam proses ini,” jelas Agus.
LAMFI menggarisbawahi pentingnya pendekatan menyeluruh, karena sistem kesehatan yang kuat lahir dari fondasi yang kokoh: kompetensi tenaga medis, kualitas sarana prasarana, serta kehangatan dan keramahan dalam pelayanan.
Langkah ini menjadi momentum penting bagi Kota Yogyakarta untuk menjadi pelopor transformasi layanan kesehatan di Indonesia.
Dengan komitmen tinggi dari Pemkot dan dukungan penuh dari LAMFI, masyarakat Yogyakarta akan merasakan pelayanan kesehatan yang lebih manusiawi, bermutu tinggi, dan sejalan dengan nilai-nilai keadilan sosial.