
KABARJAWA – Dalam 100 hari masa kerjanya, Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo mengklaim telah menyelesaikan perbaikan 40 unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
Pembenahan tersebut melalui program bedah rumah yang melibatkan kolaborasi berbagai pihak, termasuk Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kota Yogyakarta, masyarakat, dan pelaku usaha.
Namun, tantangan masih besar. Sekitar 1.600 rumah lainnya masih menanti sentuhan perbaikan demi menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan layak huni.
Pembenahan RTLH di Yogyakarta
Salah satu aksi nyata terbaru dari program ini terlihat di Kampung Karang RT 22 RW 05, Kelurahan Prenggan, Kotagede.
Rumah milik Suryanto, seorang warga setempat yang selama ini terpaksa tinggal di tempat lain karena kondisi bangunan yang tak lagi aman, kini mulai menjalani perbaikan berkat gotong royong warga dan bantuan Baznas.
Wali Kota Hasto Wardoyo hadir langsung dalam penyerahan bantuan secara simbolis kepada tokoh masyarakat yang menjadi ketua panitia perbaikan RTLH.
Dalam kegiatan itu, Hasto menegaskan pentingnya kolaborasi sebagai solusi cepat dan efektif dalam penanganan RTLH, tanpa harus bergantung pada prosedur birokrasi penggunaan dana APBD.
“Ini semua gotong royong. Dana dari Baznas berasal dari zakat, infak, sedekah PNS dan masyarakat. Kalau kita pakai dana pemerintah harus proses panjang, harus ada sertifikat tanah, verifikasi, dan sebagainya. Tapi dengan kolaborasi ini, begitu ada rumah rusak, langsung kita perbaiki. Ini buktinya bisa bergerak cepat,” ujar Hasto pada Minggu (1/6/2025).
Adapun dana untuk perbaikan rumah Suryanto berasal dari Baznas Kota Yogyakarta sebesar Rp20 juta dan swadaya masyarakat sekitar Rp3,5 juta. Tidak hanya itu, Wali Kota Hasto juga turut menyumbang secara pribadi berupa 20 sak semen.
Target Hasto
Menurut Hasto, sebagai kota tujuan wisata nasional, Yogyakarta harus tampil bersih—bukan hanya dari segi sampah, tetapi juga dari sisi permukiman yang layak. Ia menegaskan bahwa program bedah rumah menjadi bagian dari strategi bersih-bersih kota selama masa kepemimpinannya lima tahun ke depan.
“Saya punya target, selama lima tahun menjabat saya akan bersih-bersih terus. Ini (program bedah rumah) akan kita percepat. Satu kecamatan minimal tiga rumah, artinya simultan dan terus berjalan,” terang Hasto.
Pemkot Yogyakarta juga masih memiliki cadangan dana dari program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), dan Hasto berharap sinergi antarstakeholder terus diperkuat.
Masyarakat, perusahaan, dan lembaga lokal didorong untuk bergotong royong, tidak hanya dalam bentuk dana, tapi juga bantuan material seperti genteng, kayu, semen, atau tenaga kerja.
Dalam kesempatan tersebut, Hasto juga meminta Mantri Pamong Praja Kemantren Kotagede serta Lurah Prenggan untuk terlibat aktif dalam mengoordinasikan pelaksanaan perbaikan RTLH di wilayahnya.
“Hari ini, bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila, kita mengamalkan nilai-nilai Pancasila melalui gotong royong. Ini semangat kebangsaan yang nyata,” tambahnya.
Suryanto, pemilik rumah, menyampaikan rasa syukurnya. Ia mengungkapkan, rumah tersebut mengalami kerusakan sejak gempa tahun 2006. Rumah hanya sempat mendapat perbaikan sementara dengan material seadanya seperti bambu.
Seiring waktu, atap dan dinding rumah kembali rapuh, bahkan nyaris runtuh. Demi keselamatan, Suryanto memilih tinggal di rumah majikannya di kawasan Alun-alun Selatan dan hanya pulang seminggu sekali untuk menjaga rumah.
“Saya sangat berterima kasih kepada Pemkot, Baznas, dan warga yang sudah membantu memperbaiki rumah saya. Dulu tidak layak huni, nanti insyaallah bisa ditempati lagi dengan aman,” ucap Suryanto haru.
Dengan semangat kolaboratif, Pemkot Yogyakarta berharap program bedah rumah menjadi motor penggerak peningkatan kualitas hidup masyarakat bawah.
Walaupun tantangan masih besar dengan 1.600 RTLH yang harus diperbaiki, langkah kecil namun konkret seperti ini menjadi bukti bahwa perubahan bisa dimulai dari gerakan bersama. (ef linangkung)