
KabarJawa.com– Aktivitas vulkanik Gunung Merapi kembali menunjukkan dinamika tinggi sepanjang 6–12 Maret 2026. Gunung ini memuntahkan tiga kali awan panas guguran serta ratusan guguran lava pijar yang meluncur ke sejumlah sungai berhulu di Merapi. Aktivitas intens tersebut bahkan memicu perubahan bentuk pada salah satu kubah lava di puncak Merapi.
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Agus Budi Santoso, menegaskan bahwa aktivitas Merapi masih berada pada level tinggi berupa erupsi efusif.
Meski demikian, status gunung yang berada di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah tersebut tetap dipertahankan pada tingkat Siaga.
Fenomena guguran lava yang terus terjadi membuat kubah lava di puncak gunung perlahan berubah bentuk. Perubahan ini menjadi indikator penting bagi para vulkanolog dalam memantau dinamika suplai magma dari dalam perut bumi.
Aktivitas Gunung Merapi 6–12 Maret 2026
-
Awan Panas Guguran Meluncur Hingga 1,7 Kilometer
Selama periode pengamatan satu minggu, para petugas mencatat tiga kali kejadian awan panas guguran. Material panas tersebut meluncur sejauh maksimal 1.700 meter menuju hulu Kali Boyong dan Kali Krasak.
Selain awan panas, aktivitas guguran lava pijar juga meningkat tajam. Lava pijar meluncur berkali-kali ke berbagai arah lereng Merapi.
1. 4 kali guguran lava menuju hulu Kali Boyong dengan jarak luncur hingga 1.800 meter
2. 44 kali guguran lava menuju hulu Kali Krasak dengan jarak maksimal 2.000 meter
3. 14 kali guguran lava menuju hulu Kali Bebeng dengan jarak maksimal 2.000 meter
4. 59 kali guguran lava menuju hulu Kali Sat/Putih dengan jarak maksimal 2.000 meter
Rentetan guguran tersebut tampak jelas dari sejumlah kamera pemantau yang dipasang di lereng Merapi. Pada malam hari, pijaran lava tampak mengalir perlahan dari puncak, menyerupai garis api yang memotong kegelapan lereng gunung.
-
Kubah Lava Barat Daya Mengalami Perubahan
Aktivitas guguran lava yang terus terjadi memengaruhi morfologi kubah lava Merapi. Analisis dari stasiun kamera pemantauan menunjukkan perubahan kecil pada Kubah Lava Barat Daya.
Perubahan tersebut muncul akibat kombinasi peningkatan volume material dan aktivitas guguran lava yang terus menggerus bagian tepi kubah. Sebaliknya, Kubah Tengah Merapi belum menunjukkan perubahan morfologi yang signifikan.
Berdasarkan analisis foto udara terakhir pada 20 Februari 2026, para peneliti mencatat volume kubah lava Barat Daya sekitar 4.044.000 meter kubik dan kubah Lava Tengah: sekitar 2.368.800 meter kubik.
Volume kubah lava menjadi salah satu parameter penting untuk memperkirakan potensi guguran lava maupun awan panas di masa mendatang.
-
Intensitas Gempa Vulkanik Meningkat
Selain aktivitas visual, jaringan seismik yang dipasang di sekitar Gunung Merapi juga mencatat peningkatan aktivitas kegempaan.
Selama periode pengamatan 6–12 Maret 2026, tercatat 3 gempa Awan Panas Guguran, 10 gempa Vulkanik Dangkal, 490 gempa Fase Banyak, 799 gempa Guguran dan 11 gempa Tektonik
Data tersebut menunjukkan intensitas kegempaan yang lebih tinggi daripada minggu sebelumnya. Peningkatan ini mengindikasikan bahwa suplai magma dari dalam tubuh gunung masih terus berlangsung.
Deformasi Gunung Masih Stabil
Meski aktivitas permukaan meningkat, pemantauan deformasi menggunakan instrumen EDM dan GPS belum menunjukkan perubahan signifikan. Pengukuran jarak EDM pada sektor barat laut dari titik tetap BAB0 ke reflektor RB2 berkisar antara 3.840,232 meter hingga 3.840,234 meter.
Sementara itu, data baseline GPS Labuhan–Jrakah tercatat pada kisaran 7.108,13 meter hingga 7.108,14 meter. Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan magma di dalam tubuh Merapi belum menyebabkan perubahan bentuk besar pada struktur gunung secara keseluruhan.
Selama minggu pengamatan, hujan beberapa kali mengguyur kawasan puncak Merapi. Intensitas tertinggi tercatat pada 7 Maret 2026 di Stasiun Pasarbubar dengan curah hujan mencapai 44 milimeter per jam selama 22 menit.
Meski hujan turun cukup deras, petugas tidak melaporkan adanya tambahan aliran lahar di sungai-sungai yang berhulu di Merapi.
Namun, potensi lahar tetap menjadi ancaman ketika hujan mengguyur kawasan puncak, terutama karena banyaknya material vulkanik yang masih tersimpan di lereng gunung.
BPPTKG menegaskan bahwa aktivitas Gunung Merapi masih didominasi erupsi efusif dengan potensi utama berupa guguran lava dan awan panas.
Zona bahaya saat ini adalah sebagai berikut.
- Sektor selatan–barat daya antara lain Sungai Boyong hingga maksimal 5 km, sungai Bedog, Sungai Krasak, dan Sungai Bebeng hingga maksimal 7 km
- Sektor tenggara yaitu sungai Woro hingga 3 km dan sungai Gendol hingga 5 km. Selain itu, apabila terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik dapat menjangkau radius hingga 3 kilometer dari puncak.
BPPTKG meminta pemerintah daerah di sekitar Merapi untuk terus memperkuat upaya mitigasi bencana. Wilayah yang sebaiknya meningkatkan kesiapsiagaan meliputi Kabupaten Sleman, Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Klaten.
Pemerintah daerah perlu meningkatkan kapasitas masyarakat serta menyiapkan sarana dan prasarana evakuasi apabila aktivitas Merapi meningkat. Sementara itu, masyarakat sebaiknya tidak melakukan aktivitas apa pun di kawasan potensi bahaya.
Warga juga sebaiknya mewaspadai ancaman awan panas guguran, lahar hujan, serta kemungkinan gangguan abu vulkanik yang dapat terjadi sewaktu-waktu.
Hingga kini para petugas terus memantau aktivitas Gunung Merapi selama 24 jam penuh melalui jaringan alat pemantauan dan pos pengamatan di berbagai titik.
Bagi masyarakat yang ingin mendapatkan informasi resmi, BPPTKG menyediakan berbagai kanal informasi, mulai dari pos pengamatan Merapi, situs resmi, aplikasi Magma Indonesia, hingga radio komunikasi kebencanaan. (ef linangkung)