
KabarJawa.com — Proyek pembangunan Prambanan Heritage Skyline resmi memasuki tahap awal pembangunan setelah mendapatkan persetujuan prinsip dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.
Proyek infrastruktur pariwisata berupa kereta gantung dengan nilai investasi sebesar Rp200 miliar ini diproyeksikan menjadi sarana konektivitas baru di kawasan wisata Sleman Timur.
Jalur kereta gantung ini direncanakan membentang dari kawasan Candi Banyunibo di Kalurahan Bokoharjo hingga destinasi Tebing Breksi di Kalurahan Sambirejo.
Kehadiran wahana ini bertujuan memberikan aksesibilitas udara bagi wisatawan untuk menikmati panorama lanskap Candi Prambanan dan Candi Ratu Boko dari ketinggian.
Proyek ini dirancang untuk memperkuat koridor strategis pariwisata Borobudur–Yogyakarta–Prambanan.
Secara teknis, pengembangan kawasan ini diintegrasikan dengan infrastruktur nasional, termasuk akses langsung menuju ruas Tol Jogja–Solo melalui gerbang tol (exit toll) Bokoharjo guna mempermudah mobilitas pengunjung.
Regulasi dan Aspek Keberlanjutan Lingkungan
Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) menyatakan bahwa pelaksanaan proyek akan melalui pengawasan ketat.
Proses perizinan mencakup kajian komprehensif terkait Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), kesesuaian tata ruang, serta perlindungan terhadap kawasan cagar budaya.
Kepala DPMPTSP Sleman, Triana Wahyuningsih, menegaskan bahwa orientasi pembangunan tidak hanya terpaku pada sektor ekonomi semata.
Pemerintah mengedepankan prinsip keberlanjutan untuk memastikan bahwa teknologi modern yang diterapkan tidak mengganggu kelestarian identitas budaya dan lingkungan di wilayah tersebut.
”Pengembangan kawasan ini tidak hanya berorientasi ekonomi, tetapi juga memperhatikan aspek keberlanjutan,” jelas Triana. Tim teknis akan memastikan seluruh tahapan konstruksi mematuhi regulasi tata ruang yang berlaku di kawasan warisan budaya Sleman Timur.
Partisipasi Lokal dan Dampak Ekonomi Masyarakat
Pemerintah tingkat kalurahan turut menyoroti pentingnya keterlibatan warga lokal dalam proyek berskala besar ini.
Lurah Bokoharjo, Dody Heriyanto, menyatakan bahwa partisipasi masyarakat harus terwujud baik dalam masa konstruksi maupun pada tahap operasional dan pengelolaan di masa depan.
Kehadiran Prambanan Heritage Skyline diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja baru dan memicu pertumbuhan ekonomi di tingkat lokal.
Keterlibatan masyarakat sekitar dinilai krusial agar dampak positif dari investasi pariwisata ini dapat dirasakan langsung oleh penduduk di sekitar kawasan Candi Banyunibo dan Tebing Breksi.
Dengan dimulainya proyek ini, Sleman Timur bersiap memperkuat posisinya sebagai destinasi wisata yang memadukan kekayaan heritage dengan inovasi fasilitas modern.
Fokus selanjutnya adalah memastikan seluruh tahapan pembangunan berjalan sesuai jadwal tanpa mengesampingkan aspek sosial dan budaya masyarakat setempat.