
KABARJAWA— Gelombang gerakan sosial di Indonesia kembali menemukan bahasa baru dalam menyuarakan aspirasi rakyat. Jika dulu orasi lantang dan poster jalanan menjadi senjata utama, kini ruang digital melahirkan simbol-simbol visual yang mampu menyatukan jutaan orang.
Menurut Fajar Junaedi, Pakar Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), warna telah menjelma menjadi identitas kolektif sekaligus tanda perlawanan di tengah era digital.
Simbol Baru Perlawanan Digital di Indonesia
“Biru resistensi dapat ditelusuri dari visual peringatan darurat dengan latar biru tua dan garuda putih. Dalam banyak gerakan rakyat, biru kini digunakan sebagai simbol perlawanan sekaligus harapan. Di Indonesia, istilah Resistance Blue merepresentasikan identitas bagi mereka yang menyuarakan keadilan dan menentang ketidakadilan,” tegas Fajar.
Fenomena ini bukan sekadar tren estetika. Warna biru, menurutnya, telah menjadi payung solidaritas yang mengikat emosi kolektif. Foto profil berwarna biru, latar unggahan media sosial bernuansa biru, hingga bendera biru di lapangan aksi massa kini membentuk narasi perlawanan yang sulit dipadamkan.
Tak berhenti di situ, Fajar juga mengungkap lahirnya simbol Pink Berani (Brave Pink). Gerakan ini bermula dari viralnya potret seorang ibu rumah tangga berhijab pink yang berdiri tegar di tengah demonstrasi.
“Warna pink yang semula identik dengan kelembutan dan stereotip gender, justru berubah menjadi simbol kekuatan dan keberanian. Warganet bahkan menggunakan latar pink dalam foto profil sebagai bentuk solidaritas,” jelasnya.
Gelombang solidaritas digital semakin mengeras ketika publik diguncang peristiwa tragis seorang pengemudi ojek online (ojol) yang meninggal dunia setelah terlindas kendaraan taktis.
Dari tragedi itu lahirlah simbol Hijau Pahlawan (Hero Green). Hijau kemudian dipandang sebagai representasi semangat, pengorbanan, sekaligus keberanian seorang pahlawan rakyat.
“Ketiga warna ini, Resistance Blue, Brave Pink, dan Hero Green,membangun narasi visual yang kuat dalam kampanye digital. Generasi Z dan milenial secara sadar maupun karena FOMO menggunakannya sebagai identitas kolektif di dunia maya,” papar Fajar.
Gerakan Netroots
Fajar juga menyinggung hasil riset Håkan Johansson dan Gabriella Scaramuzzino dalam New Media and Society (2022).
Penelitian itu membuktikan bagaimana media sosial memungkinkan gerakan netroots memobilisasi sumber daya digital secara cepat dan masif. Namun, Fajar mengingatkan bahwa kelimpahan ini juga menuntut konsistensi.
“Gerakan harus seperti burung Phoenix yang terus-menerus menemukan kembali bentuknya agar tetap relevan,” tuturnya.
Ia pun menyoroti fenomena buzzer dan influencer yang kerap mendistorsi makna gerakan sosial. Fenomena buzzer dan influencer justru menjadi antitesis dari gerakan warganet.
“Karena itu, pemaknaan simbol dan visual warna ini menunjukkan adanya daya resistensi organik yang tumbuh di masyarakat,” pungkasnya. (ef linangkung)