
KabarJawa.com – Lonjakan kunjungan wisatawan membuat Pendapatan Asli Daerah (PAD) sektor pariwisata Kabupaten Gunungkidul melonjak tajam pada 2026.
Hingga Mei tahun ini, pemasukan daerah dari sektor wisata sudah menembus Rp26,18 miliar atau sekitar 72 persen dari target tahunan.
Kenaikan itu terjadi di tengah ramainya kunjungan wisatawan ke kawasan pantai selatan, geopark karst, hingga desa wisata yang mulai ramai sejak awal tahun.
Saat akhir pekan dan libur panjang, antrean kendaraan menuju jalur wisata pantai bahkan masih terlihat padat di sejumlah titik akses utama.
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, menyebut tren tersebut menjadi sinyal kuat bahwa sektor wisata masih menjadi penggerak ekonomi utama daerah.
“Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa kepercayaan wisatawan terhadap Gunungkidul semakin tinggi. Kami ingin momentum ini terus dijaga,” ujar Endah.
Target PAD Diprediksi Tercapai Lebih Cepat
Data dari Dispar Ekrafpora Gunungkidul mencatat realisasi PAD wisata hingga Mei 2026 mencapai Rp26.188.276.215 dari target tahunan Rp36,06 miliar. Angka itu melonjak dibanding periode yang sama tahun lalu yang baru berada di kisaran Rp10 miliar.
Artinya, terjadi kenaikan lebih dari Rp16 miliar hanya dalam kurun satu tahun.
Sekretaris Dispar Ekrafpora Gunungkidul, Eko Nur Cahyo, menilai tren kunjungan wisata terus bergerak naik sejak Januari.
Pemerintah daerah kini optimistis target PAD wisata tahun 2026 bisa tercapai sebelum semester kedua berakhir.
“Perkembangan wisata Gunungkidul sangat bagus. Kami optimistis target PAD 2026 bisa terpenuhi pada pertengahan tahun,” kata Eko.
Situasi itu diperkuat dengan datangnya musim libur sekolah pada Juni hingga Juli. Pelaku penginapan di kawasan pantai selatan juga mulai membuka pemesanan lebih awal karena tingkat okupansi diprediksi meningkat dalam beberapa pekan ke depan.
Di media sosial, sejumlah wisatawan juga mulai membagikan antrean masuk objek wisata saat akhir pekan. Beberapa pengunjung mengaku harus beberapa kali melakukan refresh saat memesan penginapan secara daring karena kamar cepat penuh.
Lebih dari 2,1 Juta Wisatawan Datang
Dari target 3,2 juta wisatawan sepanjang 2026, jumlah kunjungan hingga Mei sudah mencapai 2.115.956 orang.
Pantai-pantai di pesisir selatan masih menjadi magnet utama. Selain itu, wisata budaya, kawasan karst, hingga desa wisata ikut menyumbang peningkatan arus wisatawan domestik.
Dampaknya mulai terasa pada sektor lain.
Perputaran ekonomi lokal bergerak lebih cepat, mulai dari usaha kuliner, transportasi wisata, penginapan, hingga UMKM di sekitar kawasan destinasi. Pada beberapa titik wisata, pedagang lokal mengaku penjualan meningkat dibanding awal tahun lalu.
Namun Pemkab Gunungkidul menilai pertumbuhan wisata tidak cukup hanya diukur dari angka kunjungan.
Pemerintah kini mulai mendorong agar wisatawan tinggal lebih lama di Gunungkidul sehingga dampak ekonominya lebih luas bagi masyarakat desa.
Pemkab Gandeng UGM Kembangkan Desa Wisata
Untuk memperkuat pengembangan desa wisata, Pemkab Gunungkidul menggandeng Universitas Gadjah Mada atau UGM.
Kolaborasi itu diarahkan pada pembinaan desa wisata berbasis potensi lokal, peningkatan kualitas layanan wisata, hingga pendampingan masyarakat.
Endah juga menawarkan konsep “living lab government” kepada UGM. Melalui konsep itu, mahasiswa, akademisi, dan peneliti diharapkan bisa terlibat langsung dalam aktivitas masyarakat desa.
Pemerintah daerah meminta UGM memilih 144 kalurahan yang tersebar di tujuh kapanewon, khususnya wilayah dengan persoalan kemiskinan yang masih cukup tinggi.
Pendampingan berbasis riset dinilai bisa membuka peluang usaha baru sekaligus mengurangi ketimpangan ekonomi antarwilayah.
“Kami ingin desa wisata benar-benar menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Karena itu kami menggandeng kampus agar pendampingannya lebih kuat dan berkelanjutan,” ujar Endah.
Gunungkidul Siapkan Mobile Government
Selain sektor wisata, kerja sama dengan UGM juga diarahkan untuk pengembangan layanan publik digital.
Pemkab Gunungkidul mendorong konsep mobile government yang memungkinkan pelayanan publik berbasis teknologi menjangkau tingkat kalurahan hingga wilayah terpencil.
Gunungkidul bahkan ditawarkan menjadi pilot project laboratorium mobile government berbasis kolaborasi kampus dan pemerintah daerah.
Langkah itu dinilai penting karena masih ada sejumlah wilayah yang menghadapi tantangan akses layanan administrasi dan digitalisasi pelayanan publik.
Pemerintah daerah menyebut penguatan sektor wisata dan transformasi pelayanan publik akan berjalan paralel sepanjang 2026.
Di tengah lonjakan wisatawan dan peningkatan PAD, Pemkab Gunungkidul kini mencoba memastikan pertumbuhan ekonomi tidak hanya berhenti di kawasan wisata utama, tetapi juga bergerak sampai ke desa-desa.