PAD Pariwisata Gunungkidul Nyaris Tembus Target Baru Semester I 2026, DPRD Desak Target Pendapatan Dinaikkan karena Wisata Kian Meledak

Bagikan :
Baru memasuki pertengahan tahun 2026, Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata nyaris menembus target yang ditetapkan dalam APBD. (Ist)

KabarJawa.com – Deretan pantai berpasir putih yang membentang di pesisir selatan Gunungkidul kembali membuktikan diri bukan sekadar destinasi wisata. Di balik ramainya wisatawan yang memadati Pantai Baron, Drini, Gesing, hingga Sepanjang selama libur panjang dan akhir pekan, tersimpan kabar menggembirakan bagi keuangan daerah. Baru memasuki pertengahan tahun 2026, Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pariwisata nyaris menembus target yang ditetapkan dalam APBD.

Capaian tersebut menjadi sinyal kuat bahwa sektor pariwisata tetap menjadi mesin penggerak ekonomi Kabupaten Gunungkidul. Bahkan, kondisi itu memantik desakan dari DPRD agar pemerintah daerah segera mengevaluasi target pendapatan karena dinilai tidak lagi mencerminkan potensi riil yang berkembang di lapangan.

Data Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda, dan Olahraga (Disparekrafpora) Gunungkidul menunjukkan realisasi pendapatan retribusi objek wisata hingga akhir Juni 2026 telah mencapai Rp35,8 miliar atau 99,29 persen dari target APBD sebesar Rp36,06 miliar.

Angka tersebut menjadi lompatan besar dibandingkan tahun sebelumnya. Sepanjang 2025, pemerintah daerah menargetkan PAD sektor wisata sebesar Rp33,5 miliar, tetapi realisasinya hanya mencapai Rp30,4 miliar hingga akhir tahun. Kini, baru enam bulan berjalan, pendapatan sudah melampaui capaian setahun penuh pada tahun sebelumnya.

Sekretaris Disparekrafpora Gunungkidul, Eko Nur Cahyo, mengatakan lonjakan pendapatan itu lahir dari berbagai langkah pembenahan yang dilakukan pemerintah daerah.

“Tahun ini baru sampai Juni, pendapatan sudah mencapai Rp35,8 miliar atau 99,29 persen dari target Rp36,06 miliar,” katanya.

Menurut Eko, kenaikan PAD tidak terjadi secara kebetulan. Pemerintah daerah memperkuat tata kelola retribusi wisata sekaligus mempersempit ruang terjadinya kebocoran pendapatan.

Disparekrafpora mulai menerapkan sistem pembayaran retribusi non-tunai secara penuh di Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) Baron sejak Mei 2026. Sistem digital tersebut membuat setiap transaksi tercatat secara langsung sehingga meningkatkan transparansi sekaligus akuntabilitas pengelolaan pendapatan.

Baca juga  Usai Ganti 30 Petugas TPR Pantai, Gunungkidul Targetkan PAD Pariwisata Rp36,4 Miliar pada 2026

Selain itu, dinas juga merotasi petugas lapangan untuk memperkuat pengawasan. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah dalam menjaga integritas pelayanan sekaligus memastikan seluruh potensi pendapatan daerah benar-benar masuk ke kas pemerintah.

Di sisi lain, tingginya mobilitas wisatawan ikut mempercepat laju peningkatan PAD. Ribuan kendaraan terus mengalir menuju kawasan pantai hampir setiap akhir pekan. Arus wisatawan tersebut menghadirkan denyut ekonomi yang terasa hingga ke pedagang kecil, pelaku UMKM, pengelola homestay, jasa parkir, hingga penyedia transportasi lokal.

Hingga akhir Juni 2026, jumlah wisatawan yang berkunjung ke berbagai destinasi di Gunungkidul mencapai sekitar 2,9 juta orang. Angka itu hampir memenuhi target kunjungan wisatawan sepanjang tahun yang dipatok sebanyak 3,2 juta orang.

Dominasi kawasan pantai masih menjadi magnet utama. Keindahan garis pantai selatan yang berpadu dengan fasilitas wisata yang semakin tertata membuat Gunungkidul tetap menjadi pilihan utama wisatawan domestik maupun mancanegara.

Kemunculan sejumlah destinasi baru di kawasan Pantai Drini dan Pantai Gesing semakin memperkaya pilihan wisata. Sementara itu, penataan kawasan Pantai Sepanjang menghadirkan wajah baru destinasi unggulan yang semakin nyaman bagi wisatawan.

Deretan destinasi tersebut tidak hanya menghadirkan panorama alam yang memikat, tetapi juga memperpanjang lama tinggal wisatawan sehingga berdampak langsung terhadap peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat sekitar.

Melihat capaian pendapatan yang hampir melampaui target pada pertengahan tahun, DPRD Gunungkidul meminta pemerintah daerah tidak berpuas diri. Legislator justru mendorong pemerintah segera menyesuaikan target PAD agar lebih sesuai dengan potensi sebenarnya.

Baca juga  Menghidupkan Kembali Tradisi Guyang Sapi: Komitmen Gunungkidul Jaga Kesehatan Ternak dan Warisan Leluhur

Anggota DPRD Gunungkidul, Ery Agustin Sudiyanti, menilai target pendapatan yang ditetapkan pemerintah daerah terlalu konservatif. Menurut Ery, Badan Anggaran DPRD sejak awal pembahasan APBD telah mengusulkan target PAD sektor pariwisata sebesar Rp40 miliar. Namun, Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) akhirnya menetapkan target sekitar Rp36 miliar.

“Target Rp40 miliar itu realistis. Bahkan kalau potensi kebocoran bisa terus ditekan, capaian pendapatan bisa lebih tinggi lagi,” tegas Ery.

Ia menilai perkembangan sektor pariwisata selama beberapa tahun terakhir menunjukkan tren yang sangat positif. Karena itu, pemerintah daerah perlu menyusun target berdasarkan potensi riil, bukan sekadar mengacu pada capaian tahun sebelumnya.

DPRD memastikan akan membawa evaluasi tersebut dalam pembahasan RAPBD Perubahan 2026. Legislator berharap target PAD sektor pariwisata dapat dinaikkan sehingga sejalan dengan perkembangan jumlah kunjungan wisatawan dan kemampuan daerah dalam mengelola objek wisata.

Optimisme terhadap sektor pariwisata Gunungkidul juga memperoleh penguatan dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Daerah Istimewa Yogyakarta. BPS mencatat sektor pariwisata DIY kembali menunjukkan pertumbuhan yang kuat sepanjang Mei 2026. Lonjakan kunjungan wisatawan mancanegara melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA) berjalan seiring meningkatnya perjalanan wisatawan nusantara ke berbagai kabupaten dan kota di DIY.

Pelaksana Tugas Kepala BPS DIY, Endang Tri Wahyuningsih, mengatakan secara kumulatif Januari hingga Mei 2026, Gunungkidul mencatat pertumbuhan perjalanan wisatawan nusantara tertinggi di DIY dengan kenaikan mencapai 12,93 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Capaian tersebut menjadi yang tertinggi di antara seluruh kabupaten dan kota di DIY, meskipun beberapa daerah lain masih mengalami penurunan jumlah perjalanan wisatawan.

Baca juga  Gunungkidul Jadi Primadona Wisatawan Nusantara, DPRD Dorong Mitigasi Bencana dan Implementasi CHSE

Secara keseluruhan, perjalanan wisatawan nusantara ke DIY pada Mei 2026 meningkat 19,41 persen dibandingkan Mei 2025. Sementara secara kumulatif Januari hingga Mei 2026, jumlah perjalanan wisatawan domestik tumbuh 3,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kabupaten Sleman masih menjadi tujuan favorit wisatawan domestik dengan total 1.510.183 perjalanan atau berkontribusi 35,65 persen terhadap seluruh perjalanan wisatawan nusantara ke DIY. Jumlah tersebut meningkat 18,22 persen dibandingkan April 2026 dan naik 19,65 persen dibandingkan Mei 2025. Sementara itu, Kota Yogyakarta menempati posisi kedua dengan 1.058.466 perjalanan atau menyumbang 24,99 persen dari total perjalanan wisatawan nusantara ke DIY.

Di tengah deretan angka yang terus menanjak, harapan masyarakat Gunungkidul juga ikut membumbung tinggi. Peningkatan PAD tidak semestinya berhenti sebagai catatan keberhasilan pemerintah daerah dalam mengumpulkan pendapatan. Lebih dari itu, masyarakat berharap geliat pariwisata benar-benar menghadirkan kesejahteraan yang merata.

Setiap wisatawan yang datang membawa peluang baru bagi pedagang kaki lima, pemilik warung makan, pengelola penginapan, penyedia jasa transportasi, pelaku ekonomi kreatif, hingga petani dan nelayan yang memasok kebutuhan pangan kawasan wisata.

Jika pengelolaan pariwisata terus diperkuat dan kebocoran pendapatan mampu ditekan, bukan tidak mungkin Gunungkidul akan mencatat sejarah baru dengan melampaui target PAD jauh sebelum tahun anggaran berakhir. Ketika wisata terus menjadi primadona, sektor pariwisata tidak hanya menjadi kebanggaan daerah, tetapi juga menjadi fondasi kuat yang menggerakkan roda ekonomi masyarakat dari pesisir hingga pelosok desa.(ef linangkung)

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Roberto Carlos masih hidup pada Agustus 2026. Simak kondisi kesehatan, karier, dan perannya sebagai pemegang saham Fursan Hispania. (Foto: instagram/oficialrc3)
Apakah Roberto Carlos Masih Hidup Agustus 2026? Ini Kondisi Terbaru Legenda Brasil dan Real Madrid
Lokasi Tilang Operasi Patuh Progo 2026 Jogja
Titik Lokasi Rawan Tilang di Jogja, Operasi Patuh Progo 2026: ETLE Sleman, Bantul dan Sekitarnya