
KABARJAWA– Suasana pagi di Telaga Ploso, Padukuhan Poloso, Kalurahan Giritirto, Kapanewon Purwosari terasa berbeda dari biasanya.
Deru langkah kaki sapi bercampur suara riang peternak mengisi udara segar di sekitar telaga yang airnya tak pernah surut itu. Hari itu, tradisi lama yang nyaris hilang kembali dihidupkan, ngguyang sapi atau memandikan sapi di telaga.
Tradisi yang dahulu menjadi rutinitas peternak kini mulai ditinggalkan. Modernisasi, perubahan pola hidup, serta berkurangnya jumlah telaga membuat budaya ini perlahan memudar.
Mengembalikan Tradisi
Namun, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul ingin mengembalikan ruh dari tradisi itu, bukan sekadar ritual, tetapi sebagai langkah nyata menjaga kesehatan ternak.
Lewat kegiatan bertajuk Ngguyang Sapi Neng Tlogo: Nggayuh Prayogo, Bupati Gunungkidul, Sunaryanta, memimpin langsung pemulihan tradisi yang sarat makna ini.
“Bukan hanya tradisi yang kami hidupkan kembali, tapi juga kesadaran kolektif tentang pentingnya kebersihan ternak. Kunci sapi sehat adalah tubuh yang bersih dan kandang yang terawat,” ujar Bupati.
Filosofi Tradisi Guyang Sapi
Tradisi guyang sapi bukan semata-mata mencuci kotoran. Ia menyimpan filosofi bahwa manusia dan hewan hidup berdampingan dalam harmoni alam.
Di tengah meningkatnya ancaman penyakit seperti PMK, antraks, hingga LSD, kegiatan ini menjadi simbol perlindungan dan cinta terhadap hewan ternak.
Telaga Ploso tak dipilih sembarangan. Selain menjadi telaga yang tak pernah kering, wilayah ini juga merupakan sentra ternak, dengan 230 dari 270 kepala keluarga memelihara sapi. Artinya, intervensi kebersihan dan kesehatan ternak di daerah ini akan memberikan dampak signifikan.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul, Wibawanti Wulandari, menegaskan bahwa kegiatan ini juga bagian dari langkah pencegahan masif menjelang Hari Raya Iduladha.
“Pencegahan lebih murah daripada pengobatan. Kami siapkan vaksinasi, vitamin, bahkan tali asih bagi peternak yang sapinya mati akibat penyakit menular,” jelasnya.
Hingga saat ini, Pemkab Gunungkidul telah menggelontorkan hampir 6.000 dosis vaksin, 3.500 dosis vitamin, serta obat cacing untuk 2.000 ekor sapi secara gratis.
Bahkan, kini berlaku aturan bahwa sapi yang belum divaksin tidak akan mendapat Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) dan tak dapat dijual ke luar daerah.
Kehadiran kegiatan ini bukan hanya bentuk intervensi pemerintah, tapi juga ajakan kepada masyarakat untuk kembali peduli—baik pada ternaknya, maupun pada warisan budaya yang pernah menjadi nadi kehidupan desa.
Dengan guyuran air telaga dan tawa peternak, tradisi guyang sapi lahir kembali. Ia bukan sekadar nostalgia, melainkan gerakan menjaga ketahanan pangan dan martabat peternak desa. (ef linangkung)