
KabarJawa.com– Minggu (19/10), di bawah komando langsung Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, tim gabungan turun ke Kali code.
Mereka membongkar keramba ikan, membersihkan endapan tanah, serta menyingkirkan tumbuhan liar yang menghambat arus air di sekitar Jembatan Kleringan (Kewek).
Pemerintah Kota Yogyakarta sedang berjuang mengembalikan wajah Sungai Code agar jernih, bersih, dan aman dari risiko banjir.
Hasto memimpin langsung kerja bakti itu, dengan sepatu boot terbenam lumpur, memastikan setiap sisi sungai tersentuh tindakan nyata.
“Masih banyak aktivitas warga yang tidak sesuai fungsi sungai. Ada yang memelihara ayam, bebek, bahkan membuat keramba beton di tengah aliran air. Kalau dibiarkan, kesannya sungai ini boleh digunakan untuk semua aktivitas,” tegas Hasto.
Normalisasi Sungai Code
Hasto menegaskan, penanganan memakai pendekatan persuasif dan kolaboratif. Pihaknya menggandeng Musyawarah Perencanaan Pembangunan (MPP), lurah, RT-RW, hingga pasukan kebersihan dari DPUPKP untuk mengedukasi warga.
“Alhamdulillah, sekarang pinggiran sungai sudah bersih dari kandang ayam. Seminggu lalu masih banyak, termasuk kandang burung, tapi sudah dibongkar. Hari ini kita lanjut bongkar keramba,” ungkap hasto.
Pemerintah mencatat, setidaknya 15 keramba ikan akan dibongkar seluruhnya. Pemilik sudah memerishakn sebagian besar keramba dan memanen ikannya.
Dalam beberapa hari ke depan, alat berat akan diturunkan untuk mempercepat pembersihan jalur air.
“Kita ingin memastikan air Sungai Code benar-benar jernih, bersih, dan mengalir lancar. Ingat, air Sungai Code harus Cling,” tegasnya.
Hasto menekankan, normalisasi ini menjadi langkah penting menjelang musim hujan. Ia tidak ingin Sungai Code kembali meluap akibat tumpukan sampah, keramba, dan endapan lumpur.
“Kalau sungai penuh keramba dan sampah, air pasti meluap. Sebelum November–Desember, sungai harus bersih. Ini tanggung jawab kita semua. Kalau hambatan dihilangkan, air akan mengalir jernih, dan lingkungan jadi lebih sehat,” ujarnya.
Langkah serius Pemkot Yogyakarta ini menandai babak baru bagi Sungai Code, sungai legendaris yang menjadi denyut kehidupan warga kota. Normalisasi bukan hanya soal kebersihan, tetapi juga tentang mengembalikan keindahan dan fungsi ekologis sungai.
Dengan semangat gotong royong dan dukungan warga, Pemkot Yogyakarta berharap Sungai Code kembali menjadi ikon kebersihan dan ketertiban lingkungan.
“Kalau Code bersih, wajah kota akan ikut bersinar,” tutup Hasto.
Fokus Bersihkan Endapan dan Hambatan
Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Yogyakarta, Umi Akhsanti, menegaskan bahwa fokus utama tim adalah mengembalikan kelancaran aliran air.
“Secara prinsip, kami melakukan normalisasi aliran sungai. Banyak endapan lumpur, tanah, dan tumbuhan liar yang membentuk semacam delta kecil. Semua kami bersihkan, termasuk batu-batu besar dan material lain yang menghambat aliran,” jelas Umi.
Ia menambahkan, pembersihan tidak hanya menargetkan keramba, tetapi juga dasar sungai yang mulai meninggi akibat endapan. Tanah dan batu di tengah sungai akan mereka geser ke tepi supaya air kembali lancar.
Terkait pembongkaran keramba, pihaknya telah berkoordinasi dengan para pemilik. Mereka diberi kesempatan memanen ikan lebih dulu.
“Ikan kecil atau bibit akan kita manfaatkan sebagai tebar benih agar populasi ikan tetap terjaga,” tambah Umi.
Saat ini, alat berat sudah mulai bekerja di kawasan Tungkak. Setelah pekerjaan rampung di sana, tim akan bergerak ke wilayah Kleringan.
“Rencana awal langsung ke Kleringan, tapi masyarakat masih menunggu waktu panen. Jadi sambil menunggu mereka siap, kami kerjakan bagian selatan dulu,” jelas Umi.
Ia mengakui, Sungai Code menjadi prioritas utama karena aktivitas masyarakat di sepanjang bantaran paling padat daripada dua sungai besar lain di Kota Yogyakarta.
“Dari tiga sungai besar di Yogyakarta, Code paling padat dan paling banyak endapan. Maka kami mulai dari sini. Setelah Code, baru kami geser ke sungai lainnya,” katanya.
Normalisasi Sungai Code sebenarnya sudah dimulai sejak sebulan lalu, diawali dari kawasan Mergangsan. Kini pekerjaan berlanjut ke Tungkak, lalu ke Kleringan (Kewek).
DPUPKP menargetkan seluruh proses rampung pada akhir November 2025, dengan catatan cuaca mendukung.
“Kalau hujan sudah turun deras, alat berat tidak bisa turun ke sungai. Karena itu, sebelum musim hujan tiba, kami kebut pekerjaan ini,” tegas Umi. (ef linangkung)