
KABARJAWA – Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, mengambil langkah tegas untuk mengatasi persoalan pencemaran sungai.
Ia mengumumkan bahwa pada bulan Juni ini, Pemerintah Kota Yogyakarta akan mengerahkan seribu pemuda—terdiri dari mahasiswa dan siswa sekolah—untuk membersihkan Sungai Winongo, Code, Gajah Wong, dan Manunggal.
Langkah ini menjadi bukti nyata komitmen Pemkot dalam mengembalikan kejernihan dan fungsi ekologis sungai-sungai yang melintasi Kota Pelajar tersebut.
Hasto menyampaikan bahwa seribu anak muda akan turun langsung ke titik-titik sungai yang selama ini terdampak pencemaran sampah rumah tangga. Para relawan akan menyusuri bantaran sungai, mengangkat tumpukan sampah, dan mengedukasi masyarakat sekitar tentang pentingnya menjaga kebersihan aliran air.
“Kami akan kerahkan seribu anak muda, mahasiswa, dan siswa sekolah untuk turun membersihkan sungai. Ini bukan sekadar aksi bersih-bersih, tapi juga gerakan edukatif dan inspiratif,” tegas Hasto dalam pernyataannya, Selasa, 10 Juni 2025.
Ia menegaskan bahwa peran generasi muda sangat penting dalam menciptakan perubahan perilaku masyarakat terhadap lingkungan, khususnya dalam pengelolaan sampah.
Di tengah komitmennya mengerahkan relawan muda, Hasto juga mengingatkan warga agar tidak membuang sampah sembarangan, apalagi ke sungai. Ia menyoroti masih adanya beberapa titik di mana masyarakat membuang sampah langsung ke aliran air.
“Masih ada di titik tertentu warga buang sampah di sungai. Nah, ini kenapa? Kalau belum ada penggerobak, nanti akan kami jemput sampahnya,” jelas Hasto.
Ia mendorong warga untuk aktif melapor jika mengalami kesulitan membuang sampah secara benar. Pernyataan ini menunjukkan pendekatan Pemkot yang solutif dan terbuka dalam menangani persoalan lingkungan secara bersama-sama dengan masyarakat.
Menurutnya, sungai bukan hanya saluran air, melainkan juga simbol kebudayaan, peradaban, dan kesehatan sebuah kota. Di Yogyakarta, keberadaan Sungai Winongo, Code, Gajah Wong, dan Manunggal bukan hanya penting secara ekologis, tetapi juga menyimpan nilai historis dan spiritual.
Sayangnya, tumpukan sampah yang menyumbat aliran air, pencemaran limbah domestik, dan perilaku masyarakat yang belum sadar lingkungan telah merusak fungsi sungai. Hal ini bukan hanya mengancam ekosistem sungai, tetapi juga meningkatkan risiko banjir dan penyebaran penyakit.
Dengan mengerahkan seribu pemuda untuk membersihkan sungai, Pemkot Yogyakarta ingin membangun kesadaran kolektif bahwa sungai harus dijaga bersama. Langkah ini juga diharapkan menjadi gerakan berkelanjutan, bukan hanya sekadar aksi sesaat.
Tak hanya mengandalkan relawan muda, Hasto juga mendorong kolaborasi antara warga, sekolah, perguruan tinggi, komunitas lingkungan, serta dinas-dinas terkait. Ia menilai bahwa keberhasilan program bersih-bersih sungai sangat bergantung pada semangat gotong royong semua elemen masyarakat.
“Kita tidak bisa membiarkan sungai-sungai kita terus tercemar. Kita perlu bergerak bersama. Kita harus jadikan Yogyakarta sebagai kota yang sungainya bersih, sehat, dan layak dinikmati generasi mendatang,” tandasnya.
Pemkot Yogyakarta sendiri telah menyiapkan logistik, alat kebersihan, dan tim pendukung untuk memastikan kegiatan berjalan lancar dan aman. Pihak sekolah dan kampus pun dilibatkan secara aktif dalam proses rekrutmen dan pembekalan relawan.