
KabarJawa.com– Suasana Ndalem Yudonegaran, Jl. Ibu Ruswo No.35, Yudonegaran, Gondomanan, Kota Yogyakarta, Selasa (11/11/2025) malam, penuh dengan aura sejarah dan kebangsaan.
Ratusan tamu undangan menghadiri Milad ke-240 Pangeran Diponegoro (1785–2025) sekaligus Refleksi 200 Tahun Perang Jawa (1825–1830). Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro (PATRA PADI) menggelar acara ini.
Milad ke-240 Pangeran Diponegoro
Wakil Menteri Sosial RI Agus Jabo Priyono menegaskan bahwa perjuangan Pangeran Diponegoro bukan hanya milik masa lalu, tetapi juga cermin bagi masa kini.
Bangsa Indonesia masih menghadapi bentuk penjajahan baru yang ia sebut sebagai serakah-nomics, kekuatan jahat yang lahir dari imperialisme modern, oligarki sumber daya, dan birokrasi korup.
“Zaman memang telah berubah, tetapi hakikat perjuangan dan kemerdekaan bangsa belum selesai. Kita masih berhadapan dengan musuh-musuh rakyat yang harus dihapuskan dari Bumi Pertiwi,” tegasnya.
Agus Jabo menekankan bahwa nilai-nilai kejujuran, keberanian, dan keberpihakan kepada rakyat warisan Sang Pangeran harus menjadi pedoman moral bangsa.
Ia mengingatkan, tanpa semangat itu, Indonesia akan kembali jatuh ke dalam jurang keserakahan dan ketidakadilan sosial.
Ketua Umum Patra Padi, R. Rahadi Saptata Abra, dalam sambutannya menyebut peringatan ini sebagai ajang membaca ulang sejarah untuk menuntun arah bangsa.
Ia mengajak generasi muda agar tidak sekadar mengagumi Sang Pangeran sebagai sosok heroik, tetapi juga meneladani semangat pantang menyerah dan keteguhan iman yang menjadi sumber kekuatannya.
Acara sakral ini bukan sekadar peringatan, melainkan sebuah panggilan jiwa untuk meneladani kembali nilai-nilai perjuangan sang Pahlawan Nasional yang berani melawan penjajahan.
Sejarah kembali hidup malam itu, ketika para tokoh bangsa, pemuka agama, dan budayawan bersatu dalam satu napas: meneguhkan semangat Diponegoro sebagai api perjuangan bangsa yang tak boleh padam.
Deretan tokoh nasional dan daerah hadir dalam acara bersejarah tersebut.
- Wakil Menteri Sosial RI, Agus Jabo Priyono
- GBPH H. Prabukusumo, S.Psi. (Ketua PMI DIY)
- GBPH H. Yudhaningrat, M.M. (Tuan Rumah sekaligus Penasehat Patra Padi)
- Kepala Dinas Sosial, DIY Endang Patmintarsih, S.H., M.Si.
- Ketua Umum Patra Padi, R. Rahadi Saptata Abra, S.Si., MBA.,
- Ustaz Salim A. Fillah
- Dalang muda Ki Harlindar Mukti Prakoso
Rangkaian Acara
Rangkaian kegiatan bermula dengan doa bersama, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan pemutaran film Al Diponegoro Hero yang menggugah semangat nasionalisme hadirin.
Film ini menjadi pengantar menuju sesi refleksi sejarah 200 tahun Perang Jawa, perang terbesar yang pernah mengguncang Nusantara dan menjadi simbol perlawanan terhadap penindasan kolonial.
Sebagai penutup, malam yang penuh refleksi itu berakhir dengan pagelaran wayang kulit berjudul Perang Jawa oleh Ki Harlindar Mukti Prakoso.
Dengan kepiawaiannya, sang dalang muda berhasil menghidupkan kembali kisah heroik Pangeran Diponegoro yang melawan ketidakadilan dan keserakahan kolonial.
Gemuruh gamelan berpadu dengan suara dalang yang bergetar emosi, menciptakan suasana haru di antara hadirin. Setiap lakon terasa hidup, menegaskan bahwa perjuangannya tidak pernah benar-benar usai.
Dua abad setelah Perang Jawa berkobar dan 240 tahun setelah Sang Pahlawan lahir, api perjuangan Pangeran Diponegoro tetap menyala di hati rakyat Indonesia.
Ia bukan sekadar sosok sejarah, tetapi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan dan keserakahan yang masih membayangi negeri ini.
Melalui peringatan ini, bangsa harus kembali menegakkan nilai-nilai kejujuran, keberanian, dan keadilan sosial, agar Indonesia tidak terjebak dalam serakah-nomics yang menggerogoti sendi-sendi moral. (ef linangkung)