
KABARJAWA – Sepanjang hari Senin (14/7/2025) hingga Selasa (15/7/2025) dini hari, Gunung Merapi memuntahkan 31 kali guguran lava pijar dari puncaknya yang menjulang.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan, pada Senin (14/7/2025) selama 24 jam pengamatan, Merapi meluncurkan 23 kali guguran lava pijar ke arah barat daya.
Guguran lava pijar itu mengarah ke Kali Bebeng, Kali Krasak, dan Kali Sat/Putih dengan jarak luncur maksimum mencapai 2.000 meter.
BPPTKG juga mencatat aktivitas kegempaan Merapi yang begitu intens. Gunung berapi itu menghasilkan 99 kali gempa guguran dengan amplitudo antara 2-61 mm dan durasi 46-208 detik. Selain itu, Merapi memicu 102 kali gempa hybrid atau fase banyak dan 5 kali gempa tektonik jauh.
Pada Selasa (15/7/2025) dinihari pukul 00.00-06.00 WIB, BPPTKG melaporkan 8 kali guguran lava pijar yang mengarah ke barat daya.
Lava pijar meluncur ke Kali Krasak dan Kali Sat/Putih dengan jarak luncur maksimum 1.600 meter. Sepanjang enam jam itu, Merapi juga memicu 23 kali gempa guguran dan 27 kali gempa hybrid.
Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga. BPPTKG mengingatkan masyarakat tentang potensi bahaya berupa guguran lava dan awan panas guguran pada wilayah ini.
- Sektor selatan-barat daya yang mencakup Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 km
- Sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol hingga 5 km
BPPTKG menegaskan suplai magma di tubuh Merapi masih berlangsung. Kondisi ini bisa memicu munculnya awan panas guguran (APG) kapan saja di dalam wilayah potensi bahaya.
Sebaiknya, masyarakat tidak melakukan aktivitas apa pun di daerah potensi bahaya dan mewaspadai ancaman lahar hujan serta awan panas guguran, terutama ketika hujan mengguyur area Gunung Merapi.
Selain itu, BPPTKG mengimbau masyarakat untuk mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik yang dapat muncul jika terjadi letusan eksplosif.
Jika aktivitas Merapi menunjukkan perubahan yang signifikan, BPPTKG memastikan akan segera meninjau kembali status gunung api paling aktif di Indonesia tersebut. (ef linangkung)