
KabarJawa.com – Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas awan panas guguran pada Rabu, 4 Februari 2026. Peristiwa tersebut terjadi pada pukul 19.28 WIB, dengan luncuran awan panas sejauh sekitar 2.000 meter ke arah barat daya.
Berdasarkan laporan resmi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), awan panas guguran tercatat memiliki amplitudo maksimum 66 milimeter dan durasi 130 detik.
Guguran mengarah ke hulu Kali Sat, salah satu alur sungai di sektor barat daya Gunung Merapi. Saat kejadian, kondisi visual terpantau berkabut sehingga pemantauan mengandalkan data instrumental.
Kondisi Cuaca dan Pengamatan Visual
Aktivitas awan panas terjadi di tengah kondisi cuaca yang lembap dan tertutup awan. Selama periode pengamatan 4 Februari 2026 pukul 12.00–18.00 WIB, cuaca di sekitar Gunung Merapi terpantau mendung dengan arah angin tenang ke timur.
Suhu udara berada pada kisaran 18,5 hingga 21,1 derajat Celsius. Kelembapan udara tercatat tinggi, yakni 99,5 hingga 100 persen, dengan curah hujan harian mencapai 31 milimeter. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan bahaya sekunder berupa aliran lahar di alur sungai berhulu Merapi.
Secara visual, puncak gunung tertutup kabut dengan intensitas 0 hingga III. Petugas tidak mengamati asap kawah secara langsung, namun aktivitas internal gunung tetap terpantau melalui data kegempaan.
Data Kegempaan Masih Tinggi
BPPTKG mencatat sebanyak 23 kali gempa guguran dengan amplitudo 2–19 milimeter dan durasi antara 48,94 hingga 184,33 detik. Selain itu, terekam 19 gempa hybrid atau fase banyak yang mengindikasikan pergerakan magma di dalam tubuh gunung.
Satu gempa tektonik jauh juga tercatat selama periode pengamatan, meski tidak berkaitan langsung dengan aktivitas magmatik Merapi. Data tersebut menunjukkan dinamika internal gunung masih berlangsung.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santosa, menyatakan suplai magma ke permukaan masih terjadi dan menempatkan Merapi pada fase erupsi efusif.
“Suplai magma yang terus terjadi dapat memicu awan panas guguran sewaktu-waktu, terutama di sektor selatan hingga barat daya,” ujar Agus Budi Santosa.
Status Siaga dan Potensi Bahaya
Hingga saat ini, status aktivitas Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga. BPPTKG menegaskan potensi bahaya utama berupa guguran lava dan awan panas guguran masih mengancam sejumlah alur sungai.
Di sektor selatan hingga barat daya, potensi bahaya mencakup Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 kilometer.
Sementara di sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro hingga 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh 5 kilometer.
Selain itu, BPPTKG juga mengingatkan kemungkinan lontaran material vulkanik apabila terjadi letusan eksplosif. Material tersebut berpotensi menjangkau radius hingga 3 kilometer dari puncak.
Imbauan kepada Masyarakat
BPPTKG mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di wilayah yang masuk dalam zona potensi bahaya.
Kewaspadaan juga perlu ditingkatkan terutama saat terjadi hujan di sekitar Merapi, mengingat potensi awan panas guguran dan aliran lahar.
“Masyarakat perlu mewaspadai awan panas guguran dan bahaya lahar, khususnya ketika curah hujan meningkat. Abu vulkanik juga berpotensi mengganggu aktivitas dan kesehatan,” kata Agus Budi Santosa.
BPPTKG menyatakan pemantauan Gunung Merapi akan terus dilakukan secara intensif. Apabila terjadi perubahan signifikan pada aktivitas gunung, penyesuaian tingkat aktivitas dan informasi lanjutan akan segera disampaikan kepada publik.