
KABARJAWA – Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas intens sepanjang Minggu (6/7/2025) hingga Senin (7/7/2025) dini hari.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat Merapi meluncurkan 22 kali guguran lava pijar dalam periode pengamatan pukul 00.00-06.00 WIB, Senin.
BPPTKG melaporkan guguran lava pijar meluncur ke arah barat daya, terutama menuju Kali Sat/Putih dan Kali Krasak. Guguran terjauh mencapai jarak 1.600 meter dari puncak.
Sebelumnya, dalam periode pengamatan Minggu (6/7/2025) pukul 00.00-24.00 WIB, BPPTKG mencatat total 97 kali gempa guguran.
Petugas pengamat juga melaporkan 16 kali guguran lava pijar yang mengarah ke Kali Bebeng, Kali Krasak, dan Kali Sat/Putih dengan jarak luncur maksimum 2.000 meter.
BPPTKG menyebut cuaca di sekitar Merapi cerah, berawan, hingga mendung. Angin bertiup tenang ke arah timur dan barat. Suhu udara tercatat antara 16,5 hingga 25 derajat Celcius dengan kelembaban udara mencapai 99,3 persen pada Minggu.
Petugas mengamati asap kawah bertekanan lemah berwarna putih dengan intensitas tipis hingga sedang. Ketinggian asap pada Minggu mencapai 50 meter, sementara pada Senin dini hari meningkat menjadi 100 meter di atas puncak kawah.
BPPTKG juga mencatat 104 kali gempa hybrid/fase banyak pada Minggu dengan amplitudo 2-17 mm dan durasi maksimal 14,84 detik. Selain itu, dua kali gempa tektonik jauh turut terekam.
Pada Senin dini hari, BPPTKG melaporkan 27 kali gempa hybrid/fase banyak dan satu kali gempa tektonik jauh dengan durasi 178 detik. BPPTKG menegaskan status aktivitas Gunung Merapi masih pada Level III (Siaga).
Potensi bahaya berupa guguran lava dan awanpanas guguran pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 km.
Pada sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol sejauh maksimal 5 km.
Lontaran material vulkanik saat terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak. Suplai magma masih berlangsung dan berpotensi memicu awan panas guguran.
Sebaiknya, masyarakat tidak melakukan aktivitas apapun di dalam kawasan potensi bahaya. Warga perlu mewaspadai ancaman lahar hujan dan awan panas guguran, khususnya saat hujan turun di kawasan Merapi.
Selain itu, antisipasi gangguan akibat abu vulkanik. Jika aktivitas mengalami perubahan signifikan, BPPTKG memastikan akan segera meninjau kembali status Merapi. (ef linangkung)