
KABARJAWA – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi kembali menunjukkan peningkatan. Pada Rabu dini hari, 24 April 2025, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) mencatat setidaknya 10 kali guguran lava pijar yang mengarah ke barat daya, dengan jarak luncur maksimum mencapai 1.800 meter.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santosa, menyampaikan bahwa luncuran lava tersebut terpantau menuju Kali Bebeng dan Kali Sat/Putih.
“Sepuluh kali guguran lava tercatat dengan jarak maksimum 1.800 meter. Semua mengarah ke barat daya,” ujarnya.
Kondisi Cuaca dan Aktivitas Kegempaan Gunung Merapi
Berdasarkan laporan pengamatan pada periode pukul 00.00–06.00 WIB, cuaca di sekitar Gunung Merapi dilaporkan berawan.
Suhu udara berkisar antara 17,5 hingga 20,4°C, kelembapan mencapai 84–94,4%, dan angin bertiup tenang ke arah barat. Visual gunung umumnya cukup jelas meskipun sesekali tertutup kabut.
Dalam periode pengamatan tersebut, tercatat 31 kali gempa guguran, 19 kali gempa hybrid atau fase banyak, serta satu kali gempa tektonik jauh. Agus menambahkan bahwa data ini menunjukkan suplai magma masih terus berlangsung dan berpotensi memicu awan panas guguran.
Imbauan BPPTKG dan Status Gunung Merapi
Hingga kini, Gunung Merapi masih berada pada Level III (Siaga). BPPTKG merekomendasikan masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas di area yang berpotensi terdampak, terutama di sektor selatan–barat daya yang mencakup:
- Sungai Boyong (maksimal 5 km)
- Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng (maksimal 7 km)
Sementara di sektor tenggara, potensi bahaya meliputi:
- Sungai Woro (maksimal 3 km)
- Sungai Gendol (maksimal 5 km)
“Warga juga perlu mewaspadai potensi bahaya lahar dan awan panas guguran, terutama saat turun hujan di sekitar puncak Merapi,” tegas Agus.
BPPTKG memastikan bahwa pemantauan terhadap aktivitas Gunung Merapi akan terus dilakukan secara intensif, dan status akan diperbarui jika terjadi perubahan yang signifikan.***