
KabarJawa.com— Gunung Merapi kembali menunjukkan geliat aktivitas vulkanik yang intens. Dalam sepekan terakhir, gunung api paling aktif di Indonesia ini mencatat dua kali kejadian awan panas guguran, serta aktivitas guguran lava yang terus berulang.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (BPPTKG) menegaskan bahwa aktivitas erupsi efusif masih berlangsung dan menempatkan status Gunung Merapi pada level SIAGA.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, menyampaikan hasil pemantauan menyeluruh yang menggambarkan dinamika Merapi secara visual, seismik, hingga deformasi tubuh gunung.
Seluruh data tersebut memperlihatkan satu kesimpulan penting: suplai magma masih aktif dan berpotensi memicu bahaya lanjutan.
Aktivitas Vulkanik Gunung Merapi
Tim pemantau mencatat kondisi cuaca di sekitar Gunung Merapi relatif cerah pada pagi dan malam hari, sementara kabut menyelimuti kawasan puncak pada siang hingga sore hari.
Sepanjang periode pengamatan, Gunung Merapi terus mengeluarkan asap putih dengan ketebalan tipis hingga tebal. Asap tersebut bergerak dengan tekanan lemah dan menjulang setinggi 10 hingga 25 meter dari puncak.
Selanjutnya, BPPTKG mencatat dua kali kejadian awan panas guguran yang meluncur sejauh maksimal 1.000 meter ke arah barat daya. Fenomena ini menandai masih aktifnya proses pelepasan material vulkanik dari tubuh gunung.
Aktivitas guguran lava mendominasi dinamika Merapi selama sepekan terakhir. Tim pengamat merekam 3 kali guguran lava ke hulu Kali Boyong sejauh maksimal 1.700 meter.
Selain itu, 39 guguran lava mengarah ke hulu Kali Krasak dengan jarak luncur hingga 2.000 meter. Merapi juga mengirimkan 15 guguran lava ke hulu Kali Bebeng sejauh maksimal 1.800 meter.
Kemudian, 39 guguran lava mengarah ke hulu Kali Sat atau Putih yang meluncur hingga 2.200 meter. Pola ini memperlihatkan konsentrasi bahaya yang masih dominan di sektor selatan hingga barat daya.
Analisis morfologi kubah lava dari kamera pemantauan Ngepos dan Babadan 2 mengungkap perubahan penting. Tim BPPTKG mengamati sedikit perubahan morfologi pada kubah barat daya akibat dinamika volume dan aktivitas guguran lava yang terus terjadi.
Sebaliknya, kubah tengah tidak menunjukkan perubahan morfologi yang signifikan. Berdasarkan analisis foto udara tertanggal 13 Desember 2025, volume kubah barat daya mencapai 4.171.800 meter kubik.
Sementara itu, kubah tengah tercatat sebesar 2.368.800 meter kubik. Angka ini memperkuat indikasi bahwa akumulasi material vulkanik masih berlangsung.
Jaringan seismik di sekitar Gunung Merapi merekam aktivitas kegempaan yang cukup padat. Dalam periode pengamatan ini, ada 2 gempa awan panas guguran, 4 gempa vulkanik dangkal, 523 gempa fase banyak, 721 gempa guguran, serta 10 gempa tektonik.
Meskipun jumlah gempa masih tinggi, BPPTKG menilai intensitas kegempaan lebih rendah dibandingkan minggu sebelumnya. Pola kegempaan tiga bulan terakhir tetap menunjukkan fluktuasi yang menandakan sistem magmatik masih aktif.
Deformasi Stabil, Tubuh Merapi Belum Menunjukkan Perubahan Signifikan
Pemantauan deformasi menggunakan metode EDM dan GPS memperlihatkan kondisi tubuh Gunung Merapi relatif stabil. Pengukuran jarak tunjam EDM dari titik BAB0 ke reflektor RB2 berada pada kisaran 3.840,346 hingga 3.840,364 meter.
Sementara itu, data baseline GPS Labuhan–Jrakah tercatat pada kisaran 7.108,13 hingga 7.108,14 meter. BPPTKG menyimpulkan bahwa deformasi Gunung Merapi selama periode ini tidak menunjukkan perubahan signifikan, meskipun suplai magma tetap berlangsung.
Curah hujan sempat meningkat di sekitar kawasan pengamatan. Intensitas hujan tertinggi terjadi pada 20 Januari 2026 di Pos Babadan dengan catatan 62,53 mm per jam selama 45 menit.
Meski demikian, BPPTKG belum menerima laporan adanya aliran lahar maupun peningkatan debit sungai yang berhulu di Gunung Merapi.
Berdasarkan seluruh data visual dan instrumental, BPPTKG menegaskan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Merapi masih cukup tinggi dan didominasi oleh erupsi efusif. Status aktivitas tetap berada pada level SIAGA.
BPPTKG mengingatkan potensi bahaya berupa guguran lava dan awan panas di sektor selatan hingga barat daya, meliputi Sungai Boyong hingga 5 km, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 km.
Di sektor tenggara, ancaman mencakup Sungai Woro sejauh 3 km dan Sungai Gendol hingga 5 km. Jika letusan eksplosif terjadi, lontaran material vulkanik berpotensi menjangkau radius 3 km dari puncak.
BPPTKG meminta pemerintah daerah di Kabupaten Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten untuk terus memperkuat langkah mitigasi, meningkatkan kapasitas masyarakat, serta memastikan kesiapan sarana dan prasarana evakuasi.
Sebaiknya, masyarakat agar tidak beraktivitas di kawasan rawan bahaya, mewaspadai potensi awan panas guguran dan lahar terutama saat hujan, serta mengantisipasi gangguan abu vulkanik.
Jika terjadi perubahan signifikan pada aktivitas Gunung Merapi, BPPTKG memastikan akan segera meninjau kembali tingkat status gunung.
Masyarakat dapat mengakses informasi resmi melalui Pos Pengamatan Gunung Merapi terdekat, situs resmi BPPTKG dan MAGMA ESDM, aplikasi Magma Indonesia, media sosial BPPTKG, maupun jalur komunikasi resmi lainnya. (ef linangkung)