Menyusuri Kesibukan Kampung Bakpia Gunungkidul Sambut Libur Sekolah dan Nataru

Bagikan :
Warga Kampung Bakpia Kalangbangi Lor, Gunungkidul, memproduksi bakpia untuk memenuhi lonjakan permintaan jelang libur sekolah dan Nataru. (Ef Linangkung)

KabarJawa.com – Aroma manis bakpia panggang menyambut setiap langkah kaki siapa pun yang melintasi gang-gang sempit Padukuhan Kalangbangi Lor, Kalurahan Ngeposari, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul.

Menjelang libur sekolah dan perayaan Natal serta Tahun Baru (Nataru), denyut kehidupan di kampung ini bergerak lebih cepat dari biasanya. Warga menyalakan tungku, mengadon tepung, dan memanggang bakpia sejak pagi hingga malam demi memenuhi lonjakan permintaan pasar.

Bakpia memang tidak pernah terpisahkan dari Yogyakarta. Wisatawan selalu memburu makanan ringan legendaris ini sebagai oleh-oleh khas Kota Pelajar.

Banyak pelancong merasa kunjungan mereka ke Yogyakarta terasa kurang lengkap jika tidak membawa pulang bakpia. Tradisi inilah yang terus menghidupkan roda ekonomi di Kampung Bakpia Gunungkidul.

Kampung Bakpia di Jantung Gunungkidul

Di Kabupaten Gunungkidul, sebagian besar warga Padukuhan Kalangbangi Lor menggantungkan hidup dari produksi bakpia.

Hampir setiap rumah di kampung ini menjalankan usaha serupa, baik dalam skala kecil rumahan maupun skala lebih besar dengan pekerja tetap. Aktivitas produksi berlangsung nyaris tanpa jeda, terutama saat musim liburan tiba.

Lurah Ngeposari, Ciptadi, menjelaskan bahwa usaha bakpia telah mengakar kuat di wilayahnya sejak puluhan tahun lalu. Warga Ngeposari, khususnya di Kalangbangi Lor, secara turun-temurun mengembangkan keterampilan membuat bakpia dan mampu mempertahankannya hingga saat ini.

Baca juga  Rekomendasi Wisata Jogja Ramah Kursi Roda: Tempat Liburan Inklusif untuk Semua

“Banyak warga kami yang memproduksi bakpia dan usaha ini sudah lama berjalan. Sebagian besar merupakan binaan Bogasari,” ujar Ciptadi saat dihubungi.

Ia menambahkan, meskipun pusat produksi bakpia berada di Kalangbangi Lor, beberapa warga di padukuhan lain juga mencoba peruntungan dengan usaha serupa. Namun demikian, Kalangbangi Lor tetap menjadi sentra utama produksi bakpia di wilayah Ngeposari.

Aroma Bakpia dan Cerita Ketekunan Warga

Saat melewati setiap sudut kampung, aroma bakpia yang sedang dipanggang menyebar hingga ke jalan utama. Warga bekerja dengan ritme yang nyaris seragam.

Mereka menyiapkan bahan baku, mengolah isian, membentuk adonan, hingga memeriksa tingkat kematangan bakpia satu per satu.

Salah satu pelaku usaha bakpia, Wartono, telah menekuni usaha ini selama 30 tahun. Ia memulai bisnisnya dari dapur rumah dengan peralatan sederhana. Seiring berjalannya waktu, usahanya terus berkembang hingga mampu mempekerjakan beberapa orang.

“Dulu hanya ada beberapa rumah produksi. Namun, seiring berjalannya waktu, jumlah usaha bakpia di sini terus bertambah. Masing-masing memiliki pasar sendiri,” kata Wartono.

Ia mengakui bahwa perjalanan usaha tidak selalu berjalan mulus. Ia pernah merasakan masa kejayaan, tetapi juga pernah menghadapi penurunan produksi yang signifikan.

Baca juga  Muhammadiyah Percepat Makan Bergizi Gratis, Wujudkan Dakwah Al-Ma’un di Bidang Gizi

Meski demikian, ia tetap bertahan karena meyakini bakpia akan selalu memiliki tempat di hati masyarakat.

Proses Produksi yang Menjaga Cita Rasa

Saat ini, Wartono bersama tiga orang pekerjanya mampu mengolah satu sak tepung terigu atau sekitar 25 kilogram per hari, bahkan lebih ketika permintaan meningkat.

Proses produksi dimulai dari pembuatan isian berbahan kacang hijau, dilanjutkan dengan pengadonan kulit bakpia, pengisian, hingga pemanggangan.

Ia menegaskan bahwa rumah produksinya tidak menggunakan bahan pengawet. Karena itu, bakpia hanya mampu bertahan sekitar lima hari di suhu ruang. Namun, justru di situlah letak keunggulan produknya.

“Karena tanpa bahan pengawet, rasa bakpia tetap alami dan segar,” jelasnya.

Di rumah produksinya, Wartono memproduksi dua jenis bakpia, yakni bakpia kering dan bakpia basah. Ia tetap mempertahankan isian original kacang hijau sebagai ciri khas produknya.

Menyasar Pasar Tradisional dan Pesanan Wisatawan

Untuk pemasaran, Wartono menjual bakpia produksinya di pasar-pasar tradisional, seperti Pasar Munggi Semanu dan Pasar Argosari Wonosari. Selain itu, ia juga melayani pesanan langsung dari konsumen, baik untuk oleh-oleh wisatawan maupun keperluan acara keluarga dan hajatan.

Baca juga  Skandal Tiket Wisata Gunungkidul, Petugas TPR Diduga Stok Tiket Fiktif, PAD Bocor

“Omzet tergantung kondisi pasar. Kalau musim liburan biasanya meningkat,” ujarnya.

Lonjakan wisatawan yang berkunjung ke berbagai destinasi alam di Gunungkidul turut membawa dampak langsung bagi para perajin bakpia. Permintaan meningkat seiring ramainya kunjungan ke pantai, gua, dan objek wisata lainnya di wilayah ini.

Menjaga Warisan Kuliner di Tengah Gempuran Modernisasi

Bagi Wartono dan warga Kalangbangi Lor lainnya, produksi bakpia bukan sekadar usaha untuk mencari keuntungan.

Mereka memandang bakpia sebagai warisan kuliner yang harus dijaga keberlangsungannya. Di tengah gempuran makanan modern dan tren oleh-oleh kekinian, mereka tetap setia mempertahankan rasa tradisional.

Menurut Wartono, pariwisata Gunungkidul yang terus berkembang memberikan harapan besar bagi kelangsungan usaha bakpia.

Selain wisatawan, masyarakat lokal Gunungkidul juga masih menjadikan bakpia sebagai suguhan dalam berbagai acara dan kegiatan.

“Selama wisata Gunungkidul bergeliat, permintaan bakpia pasti ikut meningkat,” tutupnya.

Di Kampung Bakpia Kalangbangi Lor, setiap bakpia yang keluar dari tungku tidak hanya membawa rasa manis kacang hijau, tetapi juga cerita tentang ketekunan, tradisi, dan semangat warga Gunungkidul dalam menjaga identitas kuliner daerahnya.

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Kesalahan Penulisan Aksara Jawa di Kantor Disdikbud Jateng Jadi Sorotan, Begini Fakta dan Evaluasinya
Mengenal Aksara Swara (A, I, U, E, O): Pengertian, Ciri-ciri dan Fungsinya
Lokasi Tilang Operasi Patuh Progo 2026 Jogja
Titik Lokasi Rawan Tilang di Jogja, Operasi Patuh Progo 2026: ETLE Sleman, Bantul dan Sekitarnya