
KabarJawa.com– RSUP Dr Sardjito Yogyakarta resmi memulai pembangunan Gedung Central Medical Unit (CMU) senilai Rp917 miliar.
Rumah sakit rujukan utama di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah ini memilih menggunakan dana mandiri Badan Layanan Umum (BLU).
Peletakan batu pertama atau groundbreaking pembangunan Gedung CMU berlangsung khidmat pada Kamis (8/1) di Kompleks RSUP Dr Sardjito, Sleman.
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, serta jajaran pimpinan RSUP Dr Sardjito, menghadiri acara tersebut.
Pembangunan Gedung CMU menjadi simbol keseriusan RSUP Dr Sardjito dalam menjawab tantangan layanan kesehatan modern sekaligus mengembalikan kepercayaan masyarakat agar tidak lagi mencari pengobatan ke luar negeri.
Pembangunan Gedung CMU
Direktur Utama RSUP Dr Sardjito, Eniarti, menegaskan bahwa Gedung CMU akan berdiri di atas lahan seluas lebih dari 10.000 meter persegi dengan total luas bangunan mencapai lebih dari 55.000 meter persegi.
Gedung ini akan menjulang setinggi 13 lantai dengan dua basement dan akan menjadi pusat layanan medis terpadu.
“Gedung CMU akan menjadi pusat integrasi layanan medik yang menyatukan rawat darurat, ICU, ICC jantung, kamar operasi, cath lab, laboratorium genomik, stem cell, radiologi, unit transfusi darah, hingga berbagai fasilitas modern lainnya dalam satu sistem pelayanan,” ujar Eniarti.
Melalui konsep integrasi ini, RSUP Dr Sardjito menargetkan alur pelayanan yang lebih cepat, aman, dan berkesinambungan, sehingga keselamatan serta kenyamanan pasien meningkat secara signifikan.
Pembangunan Gedung CMU akan mendorong lonjakan kapasitas layanan rumah sakit. RSUP Dr Sardjito akan menambah jumlah tempat tidur dari 942 menjadi 1.189 unit.
Dari jumlah tersebut, 302 buah merupakan tempat tidur khusus bagi layanan perawatan intensif. Selain itu, rumah sakit ini akan mengoperasikan 30 kamar operasi modern, termasuk 5 kamar operasi robotik yang mendukung bedah presisi tinggi.
“Yang terbanyak memang untuk layanan intensive care. Kita juga menyiapkan teknologi bedah robotik agar layanan semakin presisi dan aman,” kata Eniarti.
Menteri Kesehatan: Bukan Hanya Alat, tapi Empati yang Menentukan
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa pembangunan Gedung CMU tidak boleh berhenti pada kemegahan fisik dan kecanggihan alat medis.
Ia menyoroti kelemahan utama sistem kesehatan Indonesia yang selama ini terletak pada komunikasi dan empati tenaga medis.
“Orang berobat ke luar negeri bukan hanya karena alatnya lebih canggih, tapi karena mereka merasa lebih dimanusiakan. Saya titip, tingkatkan kemampuan non-medis dokter dan tenaga kesehatan. Komunikasi dan empati harus menjadi standar utama,” tegas Menteri Budi.
Menurutnya, transformasi RSUP Dr Sardjito harus berjalan secara radikal dan menyeluruh. Dari 32 gedung yang saat ini berdiri, rumah sakit akan merampingkan struktur menjadi hanya 9 gedung utama, tapi dengan kapasitas dan fungsi yang meningkat hingga dua sampai tiga kali lipat.
“Kita percepat targetnya ke 2029 agar bisa diresmikan Presiden. RSUP Dr Sardjito harus menjadi rumah sakit yang tidak hanya menyembuhkan penyakit, tetapi merawat kehidupan,” ujarnya.
Sri Sultan: Rumah Sakit Harus Menjadi Ruang Pengayoman
Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan bahwa pembangunan fasilitas kesehatan tidak boleh kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.
Menurutnya, rumah sakit harus menjadi ruang yang memberi rasa aman dan harapan, bukan sekadar tempat perawatan medis.
“Rumah sakit bukan sekadar tempat penyembuhan raga, melainkan ruang pengayoman, tempat harapan dipelihara, dan rasa aman ditumbuhkan,” ungkap Sri Sultan.
Ia menekankan bahwa kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, harus berfungsi sebagai alat bantu tenaga kesehatan, bukan pengganti sentuhan manusiawi.
Sri Sultan juga mengingatkan pentingnya memperhatikan kesejahteraan tenaga kesehatan agar kualitas layanan tetap terjaga secara berkelanjutan.
Gedung CMU RSUP Dr Sardjito dirancang sebagai Center of Excellence (CoE) dengan berbagai layanan unggulan.
Fasilitas yang akan tersedia meliputi kamar operasi hibrida dengan sistem angio-CT, bedah robotik, MRI 3 Tesla, CT spectral photon-counting, laboratorium stem cell, serta cath lab biplane.
Gedung ini juga akan menyediakan 52 tempat tidur emergensi, 192 tempat tidur perawatan intensif, 29 kamar operasi, serta fasilitas penunjang seperti ruang publik, co-working space, dan layanan diagnostik terpadu.
Proyek pembangunan ini melibatkan PT Hutama Karya dan PT Wijaya Karya sebagai kontraktor pelaksana, serta KSO Yodya Karya–Griksa Cipta sebagai konsultan perencana.
Manajer Hukum dan Humas RSUP Dr Sardjito, Banu Hermawan, memastikan seluruh pendanaan proyek CMU bersumber dari dana BLU rumah sakit. Hal ini tak akan membebani APBN secara langsung.
Meski demikian, rumah sakit tetap membuka akses layanan bagi seluruh lapisan masyarakat.
“Sumber dana berasal dari BLU rumah sakit. Semua pasien tetap kami layani, termasuk peserta BPJS Kesehatan. Bahkan, sekitar 98 persen pasien kami merupakan pasien BPJS,” jelas Banu.
Dengan nilai kontrak mencapai Rp917,97 miliar dan target penyelesaian pada 2029, pembangunan Gedung CMU RSUP Dr Sardjito menjadi tonggak penting transformasi layanan kesehatan nasional.
Rumah sakit ini juga menanamkan komitmen kuat untuk menghadirkan pelayanan yang modern, manusiawi, dan berkeadilan bagi seluruh masyarakat. (ef linangkung)