
KABAR JAWA – Suasana ricuh di depan Mapolda DIY akibat aksi demo mahasiswa dan ojol pada Jumat (29/8) hingga Sabtu (30/8) dini hari, menghadirkan momen yang sarat makna budaya ketika Sri Sultan Hamengku Buwono X turun langsung menemui massa.
Kehadiran Sultan tidak hanya disambut secara simbolis sebagai pemimpin tertinggi di Yogyakarta, tetapi juga diiringi lantunan Gendhing Raja Manggala yang biasanya mengalun saat Sultan miyos untuk menerima tamu kerajaan di Keraton Yogyakarta.
Gendhing Raja Manggala: Simbol Kehadiran Raja
Dikutip dari kratonjogja.id, Gendhing Raja Manggala berarti raja utama atau pemimpin. Gendhing ini menjadi bagian sakral dalam tradisi keraton, khususnya saat Sri Sultan keluar untuk menerima tamu kerajaan. Penyajiannya mirip dengan Gendhing Prabu Mataram, yang menandakan kewibawaan dan keagungan raja.
Dalam prosesi resminya, Abdi Dalem biasanya akan berseru “Rausss!” sebagai tanda kehadiran Sultan. Setelah itu, Gendhing Raja Manggala mulai mengalun dengan buka bonang, disusul irama I pada bagian umpak gendhing, lalu berganti menjadi irama II ketika Sultan telah duduk di dhampar.
Pada bagian ngelik, syair koor dilantunkan hingga gendhing selesai (suwuk). Gendhing ini bisa dimainkan dengan gaya soran (lantang) maupun lirihan (lembut), menyesuaikan suasana.
Hadir di Tengah Kericuhan
Dalam peristiwa demo di Mapolda DIY, Sri Sultan tiba sekitar pukul 22.30 WIB bersama GKR Condrokirono, GKR Hayu, KPH Yudanegara, dan disambut Kapolda DIY Irjen Pol Anggoro Sukartono. Meski kondisi di lapangan penuh ketegangan, kehadiran Sultan membawa suasana berbeda.
Gendhing Raja Manggala yang biasanya hanya terdengar di Keraton Yogyakarta kini mengalun di ruang publik, menjadi simbol bahwa Sultan hadir bukan hanya sebagai pemimpin adat, melainkan juga Gubernur DIY yang siap mendengarkan aspirasi rakyat.
Simbol Pemimpin dan Peneduh
Ketika massa mahasiswa dan ojol bertahan dengan berbagai tuntutan, mulai dari pembebasan rekan yang ditahan hingga jaminan perawatan korban luka, Sri Sultan tidak sekadar hadir.
Beliau berdialog langsung dengan perwakilan demonstran dan berjanji akan meneruskan aspirasi tersebut ke pemerintah pusat.
Kehadiran Sultan yang diiringi Gendhing Raja Manggala ini kemudian dimaknai banyak pihak sebagai simbol peneduh di tengah panasnya situasi.
Jika biasanya gendhing ini dimainkan untuk menyambut tamu kerajaan, maka kali ini alunannya seakan menegaskan bahwa rakyat adalah tamu agung yang juga perlu didengar.
Antara Tradisi dan Dinamika Sosial
Momen di Mapolda DIY memperlihatkan bagaimana tradisi keraton tetap hidup dan mampu menyesuaikan diri dengan dinamika sosial masyarakat.
Gendhing Raja Manggala yang mengiringi langkah Sultan tidak hanya menghadirkan aura kebesaran, tetapi juga menyampaikan pesan budaya: bahwa seorang raja atau pemimpin hadir untuk rakyatnya, bahkan dalam suasana ricuh sekalipun.
Dengan demikian, musik gamelan bukan sekadar bunyi, melainkan bahasa simbolik yang menghubungkan sejarah, budaya, dan realitas sosial Yogyakarta hari ini.***