
KABARJAWA- Industri jasa keuangan Nasional tahun 2025 berdiri tegak di tengah riak ketidakpastian global. Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan, dan Komunikasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), M.
Ismail Riyadi, menegaskan bahwa sistem keuangan nasional masih terjaga stabil meski dunia terus dihantam gejolak ekonomi dan tensi politik.
OJK mencatat perekonomian domestik menunjukkan pertumbuhan yang solid. Pasar modal mencetak rekor baru, sektor perbankan menyalurkan kredit secara stabil, industri asuransi tetap kuat, hingga tren aset digital yang kian menggeliat.
Semua capaian itu hadir ketika dunia justru menghadapi perlambatan ekonomi dan ketidakpastian kebijakan perdagangan.
Kondisi Industri Keuangan Nasional 2025
Di Agustus 2025, IHSG menembus level tertinggi sepanjang sejarah, sempat menyentuh angka 8.022 poin. Kapitalisasi pasar menyentuh Rp14.377 triliun, menandai kepercayaan publik terhadap prospek ekonomi nasional.
Investor asing pun kembali masuk. Setelah dua bulan mencatat aksi jual, di Agustus aliran dana asing masuk Rp10,96 triliun.
“Ini bukti kuat bahwa dunia melihat Indonesia sebagai pasar yang kokoh,” ujar Ismail Riyadi.
Di sektor obligasi, indeks ICBI naik 8,40 persen secara tahunan, dengan investor asing mencatat net buy Rp77,21 triliun. Angka ini menegaskan daya tarik instrumen utang Indonesia di mata global.
OJK mencatat kredit perbankan tumbuh 7,03 persen yoy menjadi Rp8.043 triliun. Kredit investasi mencatat pertumbuhan tertinggi, mencapai 12,42 persen yoy. Sektor pengangkutan dan pergudangan bahkan melesat hingga 22,25 persen.
Dana pihak ketiga juga naik 7,00 persen yoy menjadi Rp9.294 triliun, sementara rasio kecukupan modal (CAR) bank bertahan di level 25,88 persen, jauh di atas standar minimum.
“Perbankan Indonesia bukan hanya stabil, tetapi juga kuat menghadapi badai global,” tegas Ismail Riyadi.
Industri asuransi komersial membukukan total aset Rp948,4 triliun dengan rasio solvabilitas (RBC) mencapai 471 persen, jauh di atas batas minimum. Premi asuransi umum tumbuh positif, sementara industri dana pensiun mencatat lonjakan aset hingga Rp1.593 triliun.
“Peran sektor asuransi, penjaminan, dan dana pensiun kian vital sebagai perisai masyarakat menghadapi risiko dan sebagai fondasi keberlanjutan ekonomi keluarga,” kata Ismail Riyadi.
Lembaga Pembiayaan dan Fintech Terus Berevolusi
Piutang perusahaan pembiayaan naik menjadi Rp502,95 triliun. Industri pinjaman daring (fintech lending) mencatat pertumbuhan outstanding 22 persen yoy, mencapai Rp84,66 triliun.
Buy Now Pay Later (BNPL) juga kian populer. Kredit BNPL perbankan tumbuh 33,56 persen yoy menjadi Rp24,05 triliun. Fenomena ini mencerminkan perubahan perilaku konsumen di era digital.
Jumlah pengguna aset kripto melonjak menjadi 16,5 juta orang dengan nilai transaksi Juli 2025 mencapai Rp52,46 triliun. Bitcoin dan Ethereum memimpin reli harga global yang berimbas pada melonjaknya transaksi domestik.
Di sisi lain, Bursa Karbon mulai memperlihatkan geliat dengan total volume transaksi mencapai 1,6 juta tCO2e senilai Rp78,38 miliar. Langkah ini menandai era baru pasar keuangan berkelanjutan di Indonesia.
OJK tidak hanya menjaga stabilitas, tetapi juga memperkuat fondasi literasi keuangan. Hingga Agustus 2025, lebih dari 6,6 juta orang mengikuti program edukasi keuangan.
Program Satu Rekening Satu Pelajar berhasil membuka 263 ribu rekening baru, meningkatkan budaya menabung sejak dini.
“OJK hadir bukan sekadar pengawas, tetapi juga sebagai penggerak literasi agar masyarakat semakin cerdas mengelola keuangan,” ujar Ismail Riyadi.
Ismail Riyadi juga menegaskan sikap keras terhadap praktik keuangan ilegal. Satgas PASTI sepanjang 2025 telah menutup 1.556 pinjol ilegal dan 284 investasi bodong, dengan nilai kerugian masyarakat mencapai Rp4,8 triliun.
“Kami tidak segan-segan menindak setiap pelanggaran. Kepercayaan publik adalah nyawa industri keuangan, dan OJK berdiri di garis terdepan untuk menjaganya,” tegasnya. (ef linangkung)