
KabarJawa.com – Gunung Merapi meluncurkan awan panas guguran sejauh sekitar 1 kilometer pada Selasa dini hari, 13 Januari 2026, pukul 03.29 WIB.
Peristiwa tersebut terjadi di wilayah Kabupaten Sleman dan terekam oleh peralatan pemantauan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG).
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santosa, menyampaikan bahwa awan panas guguran berasal dari kubah lava dan merupakan bagian dari dinamika suplai magma yang masih berlangsung aktif di tubuh Gunung Merapi.
“Kami mencatat awan panas guguran dengan estimasi jarak luncur 1.000 meter, amplitudo maksimum 41 milimeter, dan durasi 123,07 detik. Kondisi visual saat kejadian berkabut dengan arah angin ke barat laut,” ujar Agus Budi Santosa dalam keterangan resminya.
Aktivitas Kegempaan dan Kondisi Cuaca
Pada saat kejadian, kondisi puncak Merapi tertutup kabut, namun aktivitas guguran dapat terdeteksi jelas melalui rekaman seismograf. Getaran dengan amplitudo cukup besar menunjukkan runtuhan material panas yang meluncur mengikuti alur sungai di lereng gunung.
Dalam laporan aktivitas Gunung Merapi periode pengamatan 12 Januari 2026 pukul 00.00–24.00 WIB, BPPTKG mencatat 109 kejadian gempa guguran dan 82 gempa hybrid atau fase banyak, serta beberapa gempa frekuensi rendah dan gempa tektonik jauh.
Kondisi cuaca di sekitar Merapi bervariasi dari cerah hingga mendung, dengan curah hujan tercatat mencapai 27 milimeter per hari. Hujan dinilai dapat meningkatkan potensi terjadinya aliran lahar serta mempercepat proses guguran material vulkanik di lereng.
Selain awan panas, BPPTKG juga mencatat sembilan kali guguran lava pijar. Aliran guguran mengarah ke beberapa alur sungai utama, yaitu Kali Sat/Putih, Kali Bebeng, Kali Krasak, dan Kali Boyong, dengan jarak luncur maksimum mencapai 1.700 meter.
Secara visual, masih teramati asap kawah berwarna putih dengan intensitas tipis setinggi sekitar 10 meter dari puncak. Kondisi tersebut menunjukkan aktivitas degassing yang masih berlangsung, seiring pergerakan magma di dalam gunung.
Status Aktivitas dan Zona Bahaya
Hingga saat ini, status Gunung Merapi berada pada Level III (Siaga). Badan Geologi menyatakan potensi bahaya utama berupa guguran lava dan awan panas masih mengancam sektor selatan hingga barat daya.
Wilayah yang masuk dalam zona potensi bahaya meliputi alur Sungai Boyong hingga jarak maksimum 5 kilometer, Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 kilometer, Sungai Woro hingga 3 kilometer, serta Sungai Gendol hingga 5 kilometer.
Selain itu, lontaran material vulkanik berpotensi menjangkau radius hingga 3 kilometer dari puncak apabila terjadi letusan eksplosif.
BPPTKG mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas di kawasan rawan bahaya dan tetap mewaspadai potensi awan panas guguran serta lahar, terutama saat terjadi hujan di sekitar Gunung Merapi.
Informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas gunung api dapat diakses melalui platform MAGMA-VAR Badan Geologi dan kanal komunikasi BPPTKG.