
KabarJawa.com— Pemkot mengambil langkah tegas untuk menjaga ketertiban dan kekhidmatan malam pergantian tahun di Yogyakarta.
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, secara resmi melarang konvoi kendaraan, penyalaan petasan dan mercon, serta pentas musik yang bersifat euforia pada perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
Larangan tersebut tertuang dalam Surat Edaran Wali Kota Yogyakarta Nomor 100.3.4/4325 Tahun 2025 tentang Himbauan Perayaan Natal Tahun 2025 dan Tahun Baru 2026.
Pemerintah Kota Yogyakarta menegaskan bahwa masyarakat perlu merayakan momen pergantian tahun dengan cara yang khidmat, sederhana, dan penuh kepedulian sosial.
Dalam surat edaran tersebut, Wali Kota secara jelas mengimbau seluruh masyarakat untuk menghindari penggunaan kembang api, petasan, mercon, pawai kendaraan bermotor, serta hiburan musik yang memicu euforia berlebihan.
Pemerintah menilai aktivitas tersebut berpotensi mengganggu keamanan, kenyamanan, serta ketertiban umum.
Malam Pergantian Tahun di Yogyakarta
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, menyampaikan langsung imbauan tersebut saat ditemui di Kantor Wali Kota Yogyakarta pada Senin (29/12).
Ia menekankan pentingnya pengendalian diri dan kepekaan sosial dalam merayakan malam tahun baru.
“Imbauan kita ini untuk tidak berpesta pora, tidak banyak menyalakan kembang api maupun mercon. Kalau punya rezeki, saya harap bisa diikhlaskan untuk membantu saudara-saudara kita yang terdampak bencana di Sumatera,” ujar Hasto.
Hasto menyatakan bahwa pemerintah ingin menggeser tradisi perayaan yang berlebihan menjadi perayaan yang bermakna dan penuh empati. Ia menilai momen pergantian tahun seharusnya menjadi waktu refleksi, bukan sekadar ajang hura-hura.
Dalam kesempatan yang sama, Hasto menegaskan bahwa kewenangan penindakan dan pemberian sanksi terhadap pelanggaran terkait petasan dan mercon berada di tangan aparat kepolisian.
Ia menyebutkan bahwa aturan tersebut berlaku secara nasional dan berada di bawah komando Polri.
“Kewenangan larangan dan sanksinya ada di kepolisian, mulai dari Kapolri hingga jajaran di daerah. Pemerintah Kota mendukung penuh langkah tersebut,” tegasnya.
Pemerintah Kota Yogyakarta, lanjut Hasto, siap berkoordinasi dengan aparat keamanan untuk memastikan perayaan malam tahun baru berlangsung aman, tertib, dan kondusif tanpa gangguan.
Meski memberlakukan sejumlah pembatasan, Hasto tetap optimistis sektor pariwisata Yogyakarta tidak akan terdampak secara negatif.
Ia menegaskan bahwa Yogyakarta tetap aman, tentram, dan nyaman untuk dikunjungi wisatawan dari berbagai daerah.
“Saya optimis. Yogya ini aman, tentram, dan tidak ada masalah. Isu siaga Merapi itu hanya di radius tertentu dan jauh dari Kota Yogyakarta. Insyaallah Yogya tetap aman dan nyaman untuk dikunjungi,” katanya.
Hasto menilai bahwa karakter Yogyakarta sebagai kota budaya dan kota pendidikan justru memperkuat daya tarik wisata berbasis ketenangan dan nilai-nilai kearifan lokal.
Pemkot Pilih Kawal Kegiatan Alami Komunitas
Alih-alih menggelar acara besar yang terpusat, Pemerintah Kota Yogyakarta memilih untuk mengawal kegiatan yang tumbuh secara alami dari masyarakat dan komunitas.
Hasto menyebut bahwa berbagai komunitas di Yogyakarta telah memiliki agenda masing-masing yang berjalan secara mandiri.
“Kami tidak membuat agenda acara secara khusus karena acara yang ada di Kota Yogyakarta, komunitas-komunitas sudah cukup banyak. Kami mengawal saja,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa aktivitas di kawasan Malioboro pada malam pergantian tahun sudah menjadi bagian dari dinamika masyarakat yang terbentuk secara alami. Pemerintah, menurutnya, hanya perlu hadir untuk memastikan keamanan dan ketertiban.
“Puncak kegiatan di Malioboro itu sudah menjadi bagian dari acara secara alami. Kalau menurut saya, tinggal kita kawal saja,” pungkas Hasto. (ef linangkung)