Aksi Gejayan Kembali Bergolak, Massa Aliansi Rakyat Memanggil Guncang Sleman dengan 10 Tuntutan 

Bagikan :
Aksi Massa di Gejayan/Istimewa

KabarJawa.com– Langit sore di pertigaan Gejayan, Caturtunggal, Depok, Sleman, Sabtu (13/6/2026), menjadi saksi bergeloranya kembali suara perlawanan dari jalanan.

Ratusan massa yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Memanggil memadati simpang tiga Jalan Affandi. Mereka datang mengenakan pakaian serba hitam, membawa spanduk, poster, dan pengeras suara.

Mereka menyampaikan kritik keras terhadap arah kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Sejak sore hari, kawasan yang menjadi simbol gerakan mahasiswa Yogyakarta itu berubah menjadi lautan manusia. Massa berdatangan dari berbagai penjuru.

Mereka tidak hanya berasal dari kalangan mahasiswa. Guru, akademisi, peneliti, aktivis, buruh, ibu rumah tangga, hingga pengemudi ojek online ikut menyatu dalam barisan aksi.

Aksi Gejayan

Tepat sekitar pukul 15.50 WIB, gelombang massa memenuhi area simpang Gejayan. Spanduk-spanduk berisi kritik terhadap pemerintah terbentang di berbagai sudut jalan.

Sebuah mobil pikap di tengah kerumunan berubah fungsi menjadi mimbar perjuangan. Dari atas kendaraan itulah para orator bergantian menyuarakan keresahan rakyat.

Suara pengeras terdengar bersahutan. Teriakan perlawanan menggema dari satu sudut ke sudut lainnya. Di sela-sela orasi, sejumlah peserta aksi membacakan puisi bernada kritik sosial. Kalimat-kalimat menggambarkan kemarahan, kegelisahan, sekaligus harapan akan perubahan.

Salah satu suara yang menyita perhatian datang dari Guru Besar Bidang Ilmu Media dan Jurnalisme Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII), Prof Masduki. Dari atas mimbar, ia menyampaikan kritik terbuka kepada pemerintah.

“Kami meminta pada kesempatan ini, Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming masih waras dan pro rakyat untuk meninjau ulang seluruh program yang dipermasalahkan,” serunya di hadapan ratusan peserta aksi.

Pernyataan itu langsung disambut sorak dan tepuk tangan massa yang sejak awal menunjukkan sikap kritis terhadap sejumlah program pemerintah.

Baca juga  Demo Mahasiswa di DPRD Semarang: 9 Tuntutan yang Harus Diperhatikan Pemerintah

Membesarnya jumlah peserta aksi membuat aparat kepolisian menutup total akses menuju simpang Gejayan dari berbagai arah. Kendaraan dari sisi utara, selatan, dan barat tidak dapat melintas.

Petugas kemudian mengalihkan arus kendaraan menuju sejumlah jalur alternatif untuk menghindari penumpukan lalu lintas di sekitar lokasi demonstrasi.

Penutupan jalan membuat kawasan Gejayan yang biasanya ramai kendaraan berubah menjadi ruang terbuka bagi massa untuk menyampaikan aspirasi. Sepanjang sore hingga menjelang malam, peserta aksi terus menggelar orasi secara bergantian.

Sepuluh Tuntutan Massa

Aliansi Rakyat Memanggil membawa sepuluh tuntutan utama dalam aksi tersebut. Tuntutan itu mencakup berbagai sektor, mulai dari ekonomi, pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, demokrasi, hingga persoalan agraria.

Massa menuntut penghentian Program Makan Bergizi Gratis yang mereka nilai rawan korupsi dan minim pengawasan publik.

Mereka juga menolak program Koperasi Desa Merah Putih yang dianggap berpotensi menyimpang dari prinsip ekonomi kerakyatan.

Selain itu, peserta aksi mendesak pencabutan revisi Undang-Undang TNI, Undang-Undang Polri, Undang-Undang Kejaksaan, dan Undang-Undang Peradilan Militer. Mereka menuntut perlindungan kebebasan sipil serta penghentian praktik impunitas aparat.

Tuntutan lain meliputi pendidikan gratis dan berkualitas, layanan kesehatan gratis tanpa diskriminasi, peningkatan kesejahteraan rakyat, perlindungan hak pekerja, reformasi regulasi transportasi online, pembebasan tahanan politik, serta penghentian kriminalisasi terhadap warga yang menyampaikan kritik.

Massa juga menyoroti persoalan agraria dengan menuntut penghentian penggusuran paksa, perampasan tanah, dan komersialisasi ruang publik. Mereka turut mendesak pengusutan dugaan korupsi pembangunan Stadion Mandala Krida Yogyakarta.

Seruan Turunkan Prabowo-Gibran

Di tengah aksi, salah satu pernyataan paling keras datang dari Marsinah, perwakilan Aliansi Rakyat Memanggil.

Baca juga  Pasar Lawas Mataram 2025 Bakal Digelar, Hadirkan Aneka Jajanan Jadul hingga Dolanan

Di hadapan massa, ia menilai pemerintah saat ini gagal memperbaiki kondisi kehidupan masyarakat. Menurutnya, sejumlah program unggulan pemerintah justru berpotensi menjadi ruang korupsi baru.

Marsinah secara terbuka menyampaikan tuntutan politik yang menjadi salah satu sorotan utama aksi tersebut.

“Hari ini kita turun aksi untuk menuntut hal yang diinginkan oleh seluruh rakyat Indonesia yaitu turunkan Prabowo-Gibran karena dilihat tidak punya kemampuan untuk mempertahankan apalagi memperbaiki situasi kehidupan rakyat Indonesia,” tegasnya.

Ia juga menyoroti Program Makan Bergizi Gratis, Koperasi Desa Merah Putih, hingga pengelolaan investasi nasional yang menurutnya berpotensi menjadi sarang korupsi apabila tidak diawasi secara ketat.

Pernyataan itu memantik sorakan panjang dari peserta aksi yang memenuhi ruas jalan Gejayan.

Ketika matahari mulai tenggelam dan cahaya lampu jalan menyala satu per satu, massa ternyata tidak beranjak meninggalkan lokasi.

Sekitar pukul 17.40 WIB, salah satu orator menutup rangkaian orasi dengan membacakan kembali seluruh tuntutan aksi. Namun penutupan itu tidak otomatis membubarkan kerumunan.

Sebagian kecil peserta mulai meninggalkan kawasan Gejayan. Akan tetapi, mayoritas massa memilih tetap bertahan.

Suasana yang semula dipenuhi orasi perlahan berubah menjadi lebih dinamis. Massa membentuk kelompok-kelompok kecil sambil terus meneriakkan yel-yel perjuangan.

Api Menyala, Petasan Meledak

Ketegangan mulai muncul ketika sejumlah oknum massa membakar beberapa barang di sekitar lokasi aksi. Salah satu water barrier yang berada di kawasan simpang Gejayan ikut menjadi sasaran pembakaran.

Lidah api membubung di tengah kerumunan. Asap hitam membumbung ke udara malam. Dalam waktu hampir bersamaan, suara petasan meledak berkali-kali dan menggema di sepanjang ruas jalan.

Baca juga  Sigap! Petugas Kembalikan HP Penumpang, KAI Daop 6 Yogyakarta Beri Penghargaan

Beberapa peserta aksi mencoba membakar water barrier lainnya. Namun upaya tersebut berhasil dicegah aparat kepolisian bersama sejumlah warga yang berjaga di sekitar lokasi.

Insiden itu sempat memicu ketegangan singkat antara massa dan petugas. Meski demikian, situasi dapat kembali dikendalikan dan tidak berkembang menjadi bentrokan besar.

Klakson Kendaraan Berubah Menjadi Simbol Dukungan

Menariknya, ketika polisi mulai membuka kembali arus kendaraan di sekitar pertigaan Gejayan, suasana justru berubah menjadi semakin meriah.

Kendaraan yang melintas di tengah kerumunan massa seakan menjadi bagian dari panggung demonstrasi.

Peserta aksi meminta para pengendara membunyikan klakson sebagai bentuk dukungan terhadap tuntutan yang mereka suarakan. Permintaan itu mendapat respons spontan dari banyak pengguna jalan.

Suara klakson langsung bersahut-sahutan memecah malam. Massa menyambutnya dengan sorak sorai dan tepuk tangan. Teriakan perjuangan beradu dengan bunyi klakson kendaraan yang terus terdengar dari berbagai arah.

Pemandangan itu menciptakan suasana yang unik sekaligus simbolis. Jalan yang sebelumnya menjadi ruang mobilitas berubah menjadi arena ekspresi politik rakyat.

Hingga malam semakin larut, sebagian massa masih bertahan di lokasi. Mereka belum menunjukkan tanda-tanda akan membubarkan diri.

Di bawah cahaya lampu jalan dan gemuruh klakson kendaraan, Gejayan kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu ruang penting bagi lahirnya suara-suara kritik dari jalanan Yogyakarta.

Aksi Aliansi Rakyat Memanggil kali ini tidak hanya menghadirkan demonstrasi biasa. Mereka membawa pesan bahwa ketidakpuasan terhadap kebijakan publik masih terus hidup di tengah masyarakat.

Dari mahasiswa hingga pengemudi ojek online, dari akademisi hingga buruh, semua berkumpul dalam satu panggung yang sama, menyuarakan tuntutan yang mereka yakini mewakili suara rakyat. (ef linangkung)

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Lokasi Tilang Operasi Patuh Progo 2026 Jogja
Titik Lokasi Rawan Tilang di Jogja, Operasi Patuh Progo 2026: ETLE Sleman, Bantul dan Sekitarnya
Kesalahan Penulisan Aksara Jawa di Kantor Disdikbud Jateng Jadi Sorotan, Begini Fakta dan Evaluasinya
Mengenal Aksara Swara (A, I, U, E, O): Pengertian, Ciri-ciri dan Fungsinya