
KabarJawa.com-Hujan yang mengguyur lereng Merapi memicu bencana longsor yang memutus saluran air bersih bagi ratusan keluarga di wilayah Kalurahan Girikerto dan Kalurahan Wonokerto, Kabupaten Sleman.
Sebanyak 550 kepala keluarga kini harus bertahan dengan saluran air sementara demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, mulai dari memasak, mandi, hingga mencuci.
Bencana tersebut tidak hanya memutus aliran air, tetapi juga memaksa warga menghadapi perjuangan berat di tengah medan terjal kawasan hutan Taman Nasional Gunung Merapi.
Warga bahkan harus berjalan kaki menyusuri tebing dan bergotong-royong menyingkirkan material longsor demi memulihkan akses air bersih yang menjadi kebutuhan utama kehidupan mereka.
Longsor Lereng Merapi
Koordinator lapangan penanggulangan bencana, Sukarjo, menjelaskan bahwa longsor terjadi pada Selasa (14/4).
Tebing setinggi sekitar 70 meter dengan lebar kurang lebih 50 meter runtuh dan menimpa saluran air bersih milik warga di wilayah Girikerto.
Material longsor langsung menutup jaringan perpipaan utama yang selama ini menjadi sumber distribusi air bagi masyarakat di dua kalurahan tersebut. Tidak hanya saluran pipa, bak penampungan air juga ikut tertimbun material tanah dan bebatuan.
“Saluran tertimbun dan bak penampungannya juga. Sumbernya mata air Kali Krasak, sekitar 3,5 kilometer dari puncak Merapi,” ujar Sukarjo saat ditemui usai menerima bantuan perpipaan di Balai Kalurahan Mororejo, Rabu (6/5).
Akibat kejadian tersebut, sekitar 2.500 jiwa terdampak krisis air bersih. Kondisi itu membuat warga harus bergerak cepat mencari solusi darurat agar kebutuhan air sehari-hari tetap terpenuhi.
Warga bersama relawan kemudian membangun saluran sementara dengan memanfaatkan pipa darurat yang dialirkan dari wilayah Magelang.
Jalur alternatif itu menjadi satu-satunya harapan bagi warga agar tetap memperoleh pasokan air bersih di tengah proses penanganan longsor yang masih berlangsung.
Menurut Sukarjo, bantuan dana sebesar Rp30 juta yang diterima akan digunakan untuk pengadaan pipa baru guna mempercepat pemulihan jaringan air bersih permanen.
Bantuan tersebut sangat penting karena kerusakan saluran air cukup parah dan membutuhkan penanganan menyeluruh.
Upaya Warga
Di tengah keterbatasan, semangat gotong royong warga tetap menyala. Setiap hari puluhan warga turun langsung melakukan penggalian material longsor secara swadaya.
Mereka bekerja di medan berbahaya dengan peralatan seadanya demi membuka kembali jalur perpipaan yang tertimbun.
“Penanganan penggalian longsor secara swadaya sampai 70 orang,” kata Sukarjo.
Tidak hanya melakukan penggalian, warga juga memasang bronjong di sejumlah titik rawan longsor. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya mitigasi agar kejadian serupa tidak kembali merusak jaringan air bersih warga di masa mendatang.
Namun, proses penanganan tidak berjalan mudah. Lokasi longsor berada di kawasan tebing Kali Krasak yang curam dan sulit dijangkau kendaraan.
Warga harus berjalan kaki sejauh sekitar dua kilometer sambil membawa peralatan maupun material perpipaan.
Kondisi itu membuat proses pemulihan membutuhkan tenaga ekstra dan waktu lebih panjang. Meski demikian, warga tetap bertahan dan saling membantu demi memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.
Sementara itu, Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, memastikan pemerintah daerah terus berupaya membantu penanganan krisis air bersih tersebut.
Bantuan perpipaan merupakan hasil kolaborasi bersama Baznas untuk mempercepat pemulihan distribusi air kepada masyarakat terdampak.
Danang berharap bantuan tersebut dapat menjadi solusi sementara sekaligus mempercepat normalisasi saluran air bersih di Girikerto dan Wonokerto.
Pemerintah juga terus memantau kondisi wilayah lereng Merapi guna mengantisipasi potensi longsor susulan yang dapat mengancam permukiman maupun fasilitas warga lainnya.
Di tengah ancaman bencana alam lereng Merapi, perjuangan warga Girikerto dan Wonokerto menunjukkan kuatnya solidaritas masyarakat desa. Saat saluran air tertimbun longsor, warga tidak tinggal diam.
Mereka memilih bergotong-royong, menembus medan berat, dan mengusahakan air yang kembali mengalir ke rumah-rumah mereka. (ef linangkung)