
KabarJawa.com– Perbukitan di Kapanewon Semin, Kabupaten Gunungkidul, perlahan menanggalkan stigma sebagai kawasan rawan longsor.
Warga setempat kini menunjukkan bahwa ancaman bencana tidak selalu harus dilawan dengan teknologi mahal, melainkan bisa diatasi melalui langkah sederhana berbasis alam.
Budidaya tanaman akar wangi menjadi kunci perubahan di Semin. Padukuhan Nganjir, Kalurahan Karangsari, menjadi contoh nyata keberhasilan mitigasi berbasis lingkungan.
Wilayah yang sebelumnya menjadi zona merah longsor itu berhasil melewati musim hujan 2026 tanpa satu pun kejadian longsor. Kondisi ini berbanding terbalik dengan tahun-tahun sebelumnya.
Akar Wangi di Semin
Dukuh Nganjir, Alif Riska, menegaskan bahwa perubahan tersebut tidak terjadi secara instan. Warga memulai langkah mitigasi sejak beberapa tahun lalu.
Lalu, mereka menanam tanaman pengikat tanah di titik-titik rawan longsor. Mereka melakukannya secara bertahap, konsisten, dan melibatkan seluruh elemen masyarakat.
“Wilayah kami memang masuk zona merah longsor di Kapanewon Semin,” ujar Alif pada Kamis (23/4/2026).
Ia menjelaskan, warga telah menanam ribuan rumpun akar wangi di lereng-lereng perbukitan. Mereka tidak hanya menanam, tetapi juga rutin merawat tanaman tersebut agar tumbuh optimal.
Sistem perakaran akar wangi yang kuat terbukti mampu mengikat tanah dan mencegah pergerakan yang memicu longsor.
Semangat gotong royong menjadi kekuatan utama di balik keberhasilan ini. Kelompok karang taruna turut aktif menjaga keberlangsungan tanaman, memastikan setiap rumpun tetap hidup dan berfungsi maksimal sebagai penahan tanah alami.
Perubahan lanskap lingkungan pun terlihat jelas. Lereng-lereng yang dulu gundul kini dipenuhi tanaman hijau yang rapat dan kokoh.
Saat hujan deras mengguyur, air tidak lagi langsung menggerus tanah, melainkan terserap secara perlahan oleh vegetasi yang tumbuh subur.
Keunggulan Solusi
Pendiri Komunitas Resan Gunungkidul, Edi Padmo, menilai akar wangi sebagai solusi mitigasi bencana yang memiliki banyak keunggulan.
Ia menyebut tanaman ini tidak hanya efektif menahan longsor, tetapi juga memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.
“Akar wangi tidak hanya untuk kerajinan, tapi juga bisa menjadi benteng alami untuk mencegah longsor di daerah rawan,” kata Edi.
Ia menguraikan, daun akar wangi dapat dimanfaatkan untuk menyerap karbon, mengusir hama, hingga menjadi bahan atap tradisional.
Sementara itu, bagian akarnya berperan penting dalam menjaga kestabilan tanah, meningkatkan kualitas air, serta menyuburkan lahan. Bahkan, akar wangi juga dapat diolah menjadi minyak atsiri dengan nilai jual tinggi.
Program ini tidak hanya menekan risiko bencana, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru. Warga mulai melihat tanaman konservasi sebagai sumber penghasilan tambahan, bukan sekadar pelindung lingkungan.
Selain akar wangi, masyarakat juga mengembangkan penanaman bambu di sejumlah titik rawan. Kombinasi kedua tanaman ini memperkuat struktur tanah sekaligus membantu mengurangi risiko banjir saat curah hujan tinggi.
Pendekatan berbasis alam yang dipadukan dengan pemberdayaan masyarakat terbukti mampu mengubah kawasan rawan menjadi lebih aman, hijau, dan produktif.
Padukuhan Nganjir kini tidak lagi sekadar bertahan dari ancaman longsor, tetapi juga bergerak menuju kemandirian ekonomi.
Keberhasilan ini membuka peluang replikasi di daerah lain dengan karakteristik serupa. Wilayah perbukitan dan lereng di berbagai daerah dapat mengadopsi model mitigasi ini sebagai solusi jangka panjang yang berkelanjutan.
Meski demikian, warga tetap menjaga kewaspadaan, terutama saat musim hujan. Mereka terus merawat tanaman, menambah area tanam, serta memperkuat kesadaran lingkungan sebagai bagian dari upaya mitigasi.
Kisah dari Semin, Gunungkidul, menunjukkan bahwa harmoni antara manusia dan alam mampu menjadi benteng terkuat menghadapi bencana. (ef linangkung)