
KabarJawa.com-Hujan deras yang mengguyur wilayah utara Kabupaten Gunungkidul pada Selasa, 17 Februari 2026, membuat warga Kalurahan Tancep panik.
Tebing di Padukuhan Jono runtuh, menyeret batu-batu raksasa dan pepohonan, lalu menghantam permukiman warga. Longsor itu memicu banjir bandang yang merusak rumah dan memaksa warga mengungsi demi keselamatan.
Peristiwa longsor dan banjir bandang di Tancep Ngawen ini terjadi sekitar pukul 16.00 WIB. Hujan berintensitas tinggi mengguyur wilayah Kapanewon Ngawen selama hampir tiga jam.
Air bah tiba-tiba mengalir deras dari tebing sebelah selatan Padukuhan Jono, membawa material batu besar, lumpur, dan batang pohon yang tercabut dari akarnya.
Awal Longsor dan Banjir di Tancep
Warga Padukuhan Jono masih mendengar dentuman keras dari arah bukit, lalu melihat aliran air cokelat pekat meluncur cepat ke bawah. Batu-batu berdiameter hingga dua meter ikut bergulir, menghantam apa pun yang berada di jalurnya.
Kapolsek Ngawen, AKP Arif Heriyanto, menyatakan bahwa longsor terjadi secara tiba-tiba ketika hujan mencapai puncak intensitasnya. Ia menjelaskan bahwa aliran air deras membawa batu dan pohon ke jalan serta ke permukiman warga.
“Material longsoran itu merusak rumah, menutup akses jalan, dan menimbun sebagian aliran sungai,” ujarnya Selasa malam.
Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam musibah ini. Namun, kerusakan cukup parah. Sedikitnya 15 rumah mengalami kerusakan dengan tingkat berbeda, mulai dari retak pada dinding hingga bagian bangunan yang roboh tertimpa batu.
Di tengah genangan lumpur dan puing kayu, warga berusaha menyelamatkan barang-barang yang masih bisa digunakan. Sebagian memungut pakaian yang basah, sebagian lain membersihkan ruang tamu yang penuh tanah.
Panewu Ngawen, Agus Sumaryono, turun langsung ke lokasi pada Selasa malam untuk melakukan pendataan. Ia mencatat 13 rumah mengalami kerusakan ringan dan lima rumah rusak berat. Sebanyak 12 kepala keluarga memilih mengungsi ke rumah kerabat yang lebih aman
“Enam keluarga lainnya tetap bertahan karena rumah mereka dinilai masih cukup layak ditempati,”tuturnya.
Warga tidak berani tidur lelap malam itu. Mereka berjaga di luar rumah hingga dini hari untuk mengantisipasi hujan susulan yang berpotensi memicu longsor lanjutan. Rasa lelah bercampur cemas menyelimuti suasana, tetapi mereka tetap saling menguatkan.
Akses Jalan Terputus, Listrik Dipadamkan
Longsor yang memicu banjir bandang di Kalurahan Tancep juga memutus akses jalan menuju wilayah tersebut. Material batu dan lumpur menutup aliran sungai sehingga air meluap ke badan jalan. Kondisi ini memperlambat mobilitas warga dan proses penanganan awal.
Untuk mencegah risiko tambahan, petugas memadamkan aliran listrik di rumah-rumah yang terdampak kerusakan.
Langkah ini akan menghindarkan korsleting atau sengatan listrik di tengah genangan air. Sementara itu, aliran listrik di jalan dan wilayah lain tetap berfungsi normal.
Pemerintah setempat terus memantau perkembangan situasi dan berkoordinasi dengan aparat serta relawan. Mereka mengutamakan keselamatan warga dan meminta masyarakat segera mencari tempat aman jika hujan kembali turun deras.
AKP Arif Heriyanto mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap potensi longsor susulan. Ia meminta warga mengutamakan keselamatan dan tidak memaksakan diri bertahan di rumah yang berada di zona rawan.
Bencana longsor dan banjir bandang di Tancep Ngawen ini menjadi pengingat bahwa wilayah perbukitan di utara Gunungkidul memiliki risiko tinggi saat hujan ekstrem mengguyur dalam durasi lama. Struktur tanah labil dan kemiringan tebing memperbesar potensi pergerakan tanah.
Di balik kerusakan yang terjadi, solidaritas warga justru menguat. Tetangga membuka pintu rumah bagi keluarga yang mengungsi. Mereka berbagi makanan hangat dan selimut, serta saling membantu membersihkan lumpur yang menutup lantai rumah.
Kini, warga Kalurahan Tancep berharap cuaca segera membaik agar mereka bisa mulai memperbaiki rumah dan menata kembali kehidupan yang sempat porak-poranda. (ef linangkung)