
KabarJawa.com – Di sebuah ruangan berwarna krem di Kabupaten Sleman, puluhan santri duduk bersila sambil membuka mushaf suci Al-Qur’an. Mereka saling berhadapan. Mereka memusatkan perhatian pada seorang ustaz yang berdiri di depan kelas.
Tidak ada lantunan ayat yang menggema. Tidak terdengar suara tartil yang biasanya menggetarkan dinding pesantren.
Namun, keheningan itu justru menghadirkan getar yang jauh lebih dalam.
Di ruangan itu, ayat-ayat suci tidak meluncur dari bibir. Ayat-ayat itu menari di ujung jemari. Setiap gerakan tangan membentuk huruf demi huruf hijaiyah dalam bahasa isyarat.
Di sinilah, di Pesantren Tunarungu Darul Ashom, lantunan Kalam Ilahi menemukan caranya sendiri untuk hidup—melalui ratusan santri tunarungu yang menghafal dan memahami Al-Qur’an dengan sepenuh hati.
Sunyi yang Menggema dalam Iman
Para santri mengarahkan pandangan mereka kepada ustaz. Sang ustaz menggerakkan tangan dengan ritme teratur. Jemarinya membentuk makna. Tangannya menerjemahkan ayat. Wajahnya memancarkan kesungguhan.
Para santri mengikuti setiap huruf, setiap harakat, setiap pesan Ilahi dengan fokus yang nyaris tak terpecah. Mereka menyerap ayat-ayat suci dalam kesunyian yang khusyuk.
Bagi orang luar, suasana itu mungkin tampak hening. Namun bagi mereka, ruangan itu penuh dengan “suara”—suara keyakinan yang tumbuh, suara harapan yang menyala, dan suara doa yang melambung tanpa bunyi.
Gerakan tangan itu menjadi lantang. Isyarat-isyarat itu menjadi saksi bahwa keterbatasan pendengaran tidak pernah membatasi cahaya iman. Mereka membuktikan bahwa Al-Qur’an tidak hanya berbicara melalui suara, tetapi juga melalui rasa, makna, dan keyakinan.
Kegelisahan yang Melahirkan Gerakan Dakwah
Perjalanan berdirinya pesantren ini bermula dari kegelisahan seorang dai, Ustaz Abu Kahfi. Ia pertama kali bertemu seorang tunarungu di Jakarta pada akhir 2009. Pertemuan itu mengguncang pikirannya.
Ia memperhatikan cara komunikasi mereka. Ia mempelajari cara mereka memahami dunia. Lalu ia bertanya dalam hati, bagaimana dengan pemahaman agama mereka?
Rasa penasaran itu mendorongnya mendekati komunitas tunarungu. Ia menyelami kehidupan mereka. Ia menemukan kenyataan yang membuat hatinya terenyuh.
“Banyak dari mereka belum mendapatkan pendidikan agama yang memadai,” tuturnya.
Ia tidak tinggal diam. Ia kembali ke Bandung dan memulai halaqah kecil untuk komunitas tunarungu. Ia mengajarkan dasar-dasar Islam menggunakan bahasa isyarat. Ia menyusun metode. Ia belajar bersama mereka. Ia membangun komunikasi dari nol.
Perlahan, ia menyaksikan perubahan di wajah-wajah yang sebelumnya asing dengan ajaran agama. Ia melihat semangat belajar yang membuncah. Ia menyaksikan air mata haru ketika mereka mulai memahami makna shalat, doa, dan ayat-ayat Al-Qur’an.
Langkah itu kemudian membawanya hijrah ke Yogyakarta. Ia kembali menemukan fenomena serupa. Ia memantapkan niat untuk mendirikan madrasah khusus tunarungu. Ia ingin menghadirkan ruang belajar yang aman, inklusif, dan berkelanjutan.
Lahirnya Pesantren Tunarungu Darul Ashom Sleman
Pada 2019, Ustaz Abu mendirikan Pesantren Tunarungu Darul Ashom dengan dua santri sebagai angkatan pertama.
Ia memulai perjuangan itu dengan segala keterbatasan. Ia menyewa tempat sederhana di Srandakan, Bantul. Ia mengajar dengan fasilitas apa adanya. Ia membangun sistem pendidikan sambil berjalan.
Pada 2021, ia memindahkan pesantren ke Kayen, Condongcatur, Sleman, dengan mengontrak beberapa rumah. Ia memperluas jaringan. Ia menguatkan kurikulum. Ia melibatkan lebih banyak relawan dan ustaz.
Pada September 2025, para ustaz dan santri menempati lokasi baru di Sidomoyo, Godean. Perpindahan itu menandai fase pertumbuhan yang signifikan. Jumlah santri melonjak drastis.
Dari dua santri, kini pesantren ini membina lebih dari 180 santri tunarungu. Mereka datang dari berbagai provinsi di Indonesia. Bahkan, beberapa calon santri dari Australia, Pakistan, dan Bangladesh mendaftarkan diri.
Pertumbuhan itu membuktikan bahwa kebutuhan pendidikan agama bagi tunarungu sangat besar. Pesantren ini bukan sekadar tempat belajar membaca Al-Qur’an. Pesantren ini menjadi rumah kedua. Pesantren ini menjadi ruang aman. Pesantren ini menjadi tempat mereka menemukan jati diri dan harga diri.
Ketika Hati Bersuara, Tuhan Selalu Mendengar
Setiap hari, para santri bangun sebelum fajar. Mereka berwudu. Mereka menunaikan salat. Mereka belajar membaca dan menghafal Al-Qur’an melalui bahasa isyarat. Mereka menguatkan hafalan dengan disiplin tinggi.
Mereka tidak meminta dikasihani. Mereka tidak menuntut diperlakukan berbeda. Mereka hanya ingin mendapat kesempatan yang sama untuk memahami firman Tuhan.
Di ruangan berwarna krem itu, jemari-jemari kecil terus bergerak. Ayat-ayat suci terus mengalir dalam bahasa isyarat. Tidak ada suara yang terdengar, tetapi langit seakan penuh dengan lantunan doa.
Pesantren Tunarungu Darul Ashom Sleman menghadirkan pesan kuat bagi bangsa ini: keterbatasan fisik tidak pernah menghalangi seseorang untuk mendekat kepada Allah. Selama hati tetap menyala dan iman tetap terjaga, jalan selalu terbuka.
Di tempat itu, sunyi tidak pernah benar-benar sunyi. Sunyi itu justru menggema.