
KabarJawa.com– Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X, kembali ingin menghidupkan kawasan pantai selatan (Pansela) sebagai magnet baru pariwisata kelas dunia.
Sri Sultan HB X mengaku telah melakukan koordinasi dengan berbagai pihak di Bali. Ia melihat peluang besar untuk menciptakan sinergi wisata antara Bali dan Yogyakarta, terutama dalam sektor wisata bahari dan olahraga air.
“Kami sudah mencoba koordinasi dengan teman-teman di Bali. Di sini (selatan DIY), kapal yang belakangnya pakai payung, parasailing,” ungkap Sri Sultan HB X kepada awak media, Kamis (9/10/2025).
Penataan Pantai Selatan
Sultan menjelaskan, Pemerintah Daerah DIY tengah menata kawasan pantai selatan secara menyeluruh. Tidak sekadar mempercantik tampilan fisik, tetapi juga menyiapkan sarana pariwisata modern untuk menarik wisatawan mancanegara.
Salah satu inovasi adalah pengembangan wahana parasailing, sebuah olahraga air populer yang menawarkan sensasi melayang di atas laut menggunakan parasut yang ditarik kapal cepat.
Namun, Sultan memahami bahwa pola angin di kawasan selatan menjadi kunci utama keberhasilan aktivitas wisata tersebut.
Berdasarkan analisisnya, angin di Pansela DIY cocok untuk parasailing pada bulan Juni hingga Desember, sedangkan di Bali justru sebaliknya, dari Januari hingga Juni.
Inilah strategi cerdas yang sedang dirancang Sri Sultan HB X. Ia membayangkan adanya perpindahan wisatawan secara alami antara Bali dan Yogyakarta mengikuti arah musim angin.
Saat angin di Bali tak lagi bersahabat untuk parasailing, wisatawan bisa melanjutkan petualangan mereka di Pansela DIY.
“Harapannya, orang-orang asing itu, ketika arah angin berubah dan tidak bisa melakukan aktivitas parasailing di Bali, bisa pindah ke sini (DIY) untuk melanjutkan parasailing dari Juni sampai akhir tahun,” tutur Ngarsa Dalem penuh keyakinan.
Langkah ini bukan sekadar ide wisata musiman, tetapi upaya strategis untuk menempatkan Pansela sebagai mitra sekaligus pelengkap Bali di mata wisatawan dunia.
Dampak Ekonomi
Dengan begitu, arus turis mancanegara tidak berhenti di Bali semata, melainkan terus mengalir ke pantai selatan Yogyakarta. Ini akan membawa dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat lokal.
Sri Sultan HB X menegaskan, pengembangan pantai selatan bukan hanya proyek wisata, tetapi strategi ekonomi yang menghidupkan wilayah selatan DIY yang selama ini tertinggal dari kawasan utara.
Ia ingin menciptakan keseimbangan baru. Ketika Malioboro menjadi wajah kota budaya, Pansela akan menjadi wajah wisata bahari yang modern dan berdaya saing internasional.
Dengan adanya aktivitas seperti parasailing, diving, hingga festival pantai, Sultan berharap akan tumbuh ekosistem ekonomi baru.
Mulai dari penyedia jasa wisata, penginapan, hingga pelaku UMKM lokal bisa menikmati efek domino dari meningkatnya kunjungan wisatawan.
Gagasan ini menjadi bagian dari visi besar Sri Sultan HB X untuk menjadikan DIY bukan hanya pusat budaya Jawa, tetapi juga poros wisata bahari yang memikat dunia.
Dengan menggandeng Bali, Sultan tidak sedang bersaing, tetapi justru membangun kolaborasi lintas daerah yang saling menguatkan. (ef linangkung)