
KABARJAWA– Kesedihan mendalam menyelimuti keluarga besar Arya Daru Pangayunan, diplomat muda Kementerian Luar Negeri RI yang ditemukan meninggal dengan cara mengenaskan di Jakarta pada awal Juli 2025 lalu.
Ayahanda almarhum, Ir. Subaryono, dengan suara bergetar mengungkapkan betapa hancurnya perasaan mereka atas kepergian anak tunggal yang selama ini menjadi cahaya dan harapan keluarga.
Duka Keluarga Diplomat Muda Arya
“Kami tidak hanya kehilangan Arya Daru, tapi juga kehilangan harapan,” ujar Subaryono dalam konferensi pers di kediamannya, Kotagede, Yogyakarta, Sabtu (23/8/2025).
Subaryono menegaskan bahwa kematian Arya Daru bukan sekadar kehilangan seorang anak, melainkan kehilangan yang merenggut masa depan keluarga. Sebab, Daru adalah satu-satunya putra yang kehadirannya sangat dinantikan.
“Butuh proses panjang untuk kelahiran Arya Daru. Istri saya sempat keguguran tiga kali. Daru adalah bintang, suatu karunia bagi kami,” ungkapnya lirih.
Kepergian Daru secara mendadak membuat seluruh keluarga jatuh dalam keterpurukan. Subaryono mengaku, mereka memilih menutup diri dari publik selama proses penyelidikan berjalan.
“Semuanya syok. Oleh karena itu, selama ini kami tidak muncul untuk berbicara kepada publik,” kata Subaryono.
Tangis keluarga pecah saat sang ayah mengenang perjalanan hidup Daru yang penuh perjuangan, hingga akhirnya berhasil meraih posisi prestisius sebagai diplomat muda di Kementerian Luar Negeri.
Misteri Kematian yang Belum Terjawab
Kuasa hukum keluarga, Nikolai Apriliando, menyebut kasus kematian Daru masih menyimpan misteri yang belum terpecahkan. Menurutnya, hasil penyelidikan polisi yang menyebut dugaan bunuh diri tidak masuk akal.
“Bagaimana bisa orang yang sedang bahagia, baru saja mendapat promosi jabatan, tiba-tiba memilih jalan seperti itu? Bagi kami, ini tidak masuk akal,” tegas Nikolai.
Ia mendesak Polda Metro Jaya untuk mengusut tuntas kematian Arya Daru Pangayunan. Nikolai menegaskan, keluarga tidak akan berhenti menuntut kejelasan hingga misteri ini terbuka terang.
Diberitakan sebelumnya, warga dikejutkan dengan penemuan jasad seorang pria di sebuah kos kawasan Gondangdia Kecil, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (8/7/2025).
Pria itu kemudian teridentifikasi sebagai Arya Daru Pangayunan, 27 tahun, diplomat muda yang dikenal cerdas, berprestasi, dan penuh semangat.
Saat ditemukan, kondisi Daru mengundang tanda tanya besar. Wajahnya terlilit lakban, sementara pintu kamar tidak menunjukkan tanda perlawanan.
Polisi yang melakukan olah TKP menyatakan tidak ada indikasi tindak pidana, dan menduga kuat Daru meninggal akibat bunuh diri. Namun, kesimpulan itu langsung menuai keraguan banyak pihak, terutama keluarga.
Bagi Subaryono, Daru bukan hanya putra semata wayang, melainkan simbol perjuangan panjang keluarganya. Kehidupan Daru yang penuh semangat, kecerdasan membanggakan, serta dedikasi pada negara menjadi alasan mengapa keluarga menolak anggapan bahwa kematiannya adalah bunuh diri.
“Daru adalah kebanggaan kami. Dia lahir setelah perjuangan yang panjang. Dia tidak mungkin memilih jalan itu,” tegas Subaryono.
Kuasa hukum menegaskan, pihaknya siap menempuh berbagai jalur hukum jika penyelidikan tidak memberikan titik terang. Nikolai menyebut, keluarga berhak mendapatkan keadilan dan kejelasan.
“Kami ingin kebenaran. Kematian Daru bukan sekadar angka dalam catatan polisi. Dia manusia, dia anak, dia diplomat muda yang punya masa depan. Kami menuntut keadilan,” pungkas Nikolai. (ef linangkung)