
KabarJawa.com– Tuberkulosis (TB) masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat di Kabupaten Gunungkidul.
Penyakit menular yang menyerang paru-paru dan menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi akibat infeksi ini ternyata masih bergerak senyap di tengah masyarakat.
Sepanjang Januari hingga Juni 2026, Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul mencatat sebanyak 251 warga terdiagnosis positif tuberkulosis. Mayoritas penderita berasal dari kelompok usia dewasa yang masih berada pada usia produktif.
Di balik angka tersebut, tersimpan fakta yang jauh lebih mengkhawatirkan. Pemerintah meyakini jumlah penderita TB di lapangan sebenarnya jauh lebih banyak.
Langkah Pemkab Gunungkidul
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, dr. Wanda Abrar, mengungkapkan bahwa hingga saat ini pihaknya terus melakukan berbagai langkah penanganan guna menekan penyebaran penyakit tersebut.
Menurutnya, seluruh pasien yang teridentifikasi mendapatkan pendampingan dan pengobatan secara rutin agar mampu sembuh serta memutus rantai penularan di lingkungan sekitarnya.
“Sudah tujuh orang yang meninggal akibat penyakit ini,” ujar dr. Wanda Abrar, Rabu (24/6/2026).
Angka kematian tersebut menjadi alarm keras bagi seluruh pihak. Di era pelayanan kesehatan yang semakin berkembang, TB masih mampu merenggut nyawa masyarakat. Kondisi ini menunjukkan bahwa perang melawan tuberkulosis belum berakhir.
Pemerintah daerah pun tidak tinggal diam. Berbagai strategi terus berjalan untuk menemukan kasus-kasus yang selama ini tersembunyi di tengah masyarakat.
Salah satu langkah yang kini menjadi andalan adalah pelaksanaan program Active Case Finding (ACF) atau penemuan kasus secara aktif.
Program ini merupakan pendekatan yang lebih agresif daripada metode konvensional yang hanya menunggu pasien datang berobat ke fasilitas kesehatan.
Melalui program tersebut, petugas kesehatan turun langsung ke lapangan untuk melakukan skrining terhadap masyarakat yang berisiko terpapar TB.
Mereka mendatangi wilayah-wilayah tertentu, melakukan pemeriksaan awal, hingga menelusuri kontak erat pasien yang sudah lebih dahulu terdiagnosis.
Langkah ini dilakukan karena banyak penderita TB yang tidak menyadari dirinya sakit. Sebagian lain justru memilih diam karena takut mendapat stigma dari lingkungan sekitar.
Padahal, keterlambatan diagnosis dapat memperbesar risiko penularan. Satu penderita TB aktif dapat menularkan penyakit kepada banyak orang apabila tidak segera mendapatkan pengobatan yang tepat.
Kasus TB Gunungkidul 2026
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul, Ismono, mengatakan bahwa pemerintah menargetkan penemuan sebanyak 1.148 kasus TB sepanjang tahun 2026.
Target tersebut bukan berarti kasus meningkat drastis, melainkan upaya untuk menemukan sebanyak mungkin penderita agar dapat segera diobati.
Namun hingga 22 Juni 2026, capaian penemuan kasus baru mencapai 251 orang atau sekitar 21,86 persen dari target tahunan. Angka tersebut menunjukkan masih besarnya pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh pemerintah daerah.
“Jumlah ini masih sangat jauh dari target, padahal kasus di lapangan sebenarnya banyak,” kata Ismono.
Menurutnya, rendahnya angka penemuan kasus bukan berarti penyebaran TB telah menurun. Justru sebaliknya, masih banyak penderita yang belum terdeteksi dan berpotensi menjadi sumber penularan baru.
Fenomena gunung es masih menjadi tantangan terbesar dalam pengendalian TB. Kasus yang muncul ke permukaan hanyalah sebagian kecil dari jumlah penderita yang sebenarnya ada di masyarakat.
Berbagai hambatan pun masih membayangi upaya pemerintah dalam memburu kasus-kasus tersembunyi tersebut.
Beragam Kendala
Salah satu kendala utama adalah kuatnya stigma masyarakat terhadap pasien TB. Tidak sedikit warga yang masih menganggap penyakit ini sebagai aib sehingga penderita memilih menutup kondisi kesehatannya.
Akibatnya, banyak pasien terlambat memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Bahkan setelah \positif, sebagian penderita tidak menjalani pengobatan secara disiplin karena takut diketahui lingkungan sekitar.
Padahal pengobatan TB membutuhkan komitmen tinggi. Pasien harus mengonsumsi obat secara rutin selama berbulan-bulan tanpa terputus agar bakteri penyebab penyakit benar-benar hilang dari tubuh.
Selain persoalan stigma, Dinas Kesehatan juga menghadapi tantangan lain berupa pelacakan kontak yang belum optimal. Mobilitas penduduk yang tinggi membuat proses penelusuran menjadi lebih sulit.
Belum lagi jumlah fasilitas kesehatan yang masih terbatas di beberapa wilayah serta dukungan lintas sektor yang belum merata. Kondisi tersebut menjadi faktor yang memengaruhi percepatan penemuan dan penanganan kasus TB di Gunungkidul.
Meski demikian, pemerintah memastikan tidak akan mengendurkan upaya pemberantasan penyakit ini. Sosialisasi, edukasi kesehatan, skrining aktif, hingga pendampingan pengobatan akan terus diperkuat agar target eliminasi TB dapat tercapai.
Ismono menegaskan bahwa kesadaran masyarakat menjadi kunci utama dalam memutus rantai penyebaran penyakit tersebut.
Masyarakat yang mengalami batuk berkepanjangan, penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, berkeringat pada malam hari, atau mengalami gejala yang mengarah pada TB perlu segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.
“Sebenarnya kasus TB itu banyak, namun tidak nampak di permukaan. Kesadaran pemeriksaan dan kepatuhan pengobatan inilah yang masih perlu ditingkatkan,” tegasnya.
Gunungkidul kini menghadapi tantangan besar. Di satu sisi pemerintah berusaha menemukan ribuan kasus yang masih tersembunyi. Di sisi lain, masyarakat harus berani memeriksakan diri dan menghapus stigma terhadap penderita TB. (ef linangkung)