
KabarJawa.com– Ancaman penyakit mulut dan kuku (PMK) kembali membayangi para peternak sapi di Kabupaten Gunungkidul. Dalam beberapa bulan terakhir, angka kematian ternak akibat penyakit menular tersebut terus bertambah.
Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Gunungkidul mencatat adanya lonjakan kasus kematian sapi akibat PMK sejak Februari hingga Mei 2026.
Kondisi itu membuat pemerintah daerah bergerak cepat dengan memperluas vaksinasi dan memperketat pengawasan kesehatan hewan ternak.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan DPP Gunungkidul, Retno Widyastuti, mengungkapkan bahwa hasil uji laboratorium menunjukkan tambahan 15 ekor sapi positif PMK yang berujung kematian selama periode Februari hingga Mei 2026.
“Untuk bulan Februari-Mei, hasil uji sapi mati positif PMK ada 15 ekor,” kata Retno, Kamis (21/5/2026).
Kematian karena Kasus PMK di Gunungkidul
Tambahan kasus tersebut memperpanjang daftar kematian ternak akibat PMK di Gunungkidul sepanjang tahun ini. Sebelumnya, pada Januari 2026, DPP juga mencatat enam ekor sapi mati karena penyakit yang sama.
Dengan penambahan itu, total kematian sapi akibat PMK di Gunungkidul kini mencapai 21 ekor.
Retno menjelaskan, kasus kematian terbaru tersebar di sejumlah wilayah peternakan aktif, yakni Kapanewon Ngawen, Semin, Rongkop, Ponjong, dan Playen. Sebaran tersebut menunjukkan bahwa PMK masih menjadi ancaman serius bagi peternak di wilayah Bumi Handayani.
“Yang 15 ekor itu sebarannya di Ngawen, Semin, Rongkop, Ponjong dan Playen,” ujarnya.
Meningkatnya kasus PMK membuat para peternak semakin waspada. Sebagian peternak mulai membatasi lalu lintas ternak dan meningkatkan kebersihan kandang demi mencegah penularan yang lebih luas.
Menghadapi situasi tersebut, DPP Gunungkidul terus menggencarkan program vaksinasi ternak secara masif. Pemerintah menargetkan vaksinasi dapat menekan penyebaran virus sekaligus menjaga produktivitas peternakan rakyat.
Retno menegaskan bahwa vaksinasi sudah berjalan sejak awal tahun 2026 dan hingga kini terus dilakukan secara bertahap di berbagai wilayah.
“Vaksinasi jalan terus dari awal tahun sampai saat ini, untuk dosisnya saat ini sudah menyentuh 7.210 dosis,” ucapnya.
Ribuan dosis vaksin itu disalurkan kepada ternak sapi milik warga yang berada di daerah rawan penyebaran PMK. Petugas kesehatan hewan juga terus melakukan pemantauan lapangan untuk memastikan kondisi ternak tetap aman dan sehat.
Langkah vaksinasi tersebut menjadi strategi utama pemerintah daerah untuk menekan angka kematian sapi sekaligus memutus rantai penyebaran PMK yang sempat meningkat dalam beberapa bulan terakhir.
Jelang Iduladha, DPP Pastikan Hewan Kurban dari Gunungkidul Aman
Di tengah meningkatnya kasus PMK, DPP Gunungkidul memastikan hewan ternak yang keluar dari wilayah tersebut untuk kebutuhan kurban tetap dalam kondisi sehat dan layak.
Pemerintah daerah menerapkan pemeriksaan ketat terhadap setiap ternak yang akan didistribusikan ke luar daerah. Setiap hewan yang lolos pemeriksaan kesehatan wajib mengantongi Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH).
Retno menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir membeli hewan kurban asal Gunungkidul karena seluruh ternak telah melalui proses pemeriksaan kesehatan oleh petugas berwenang.
“Ada SKKH-nya untuk ternak yang resmi keluar dari Gunungkidul, jadi kondisinya sudah bisa dipastikan,” katanya.
Kepastian itu menjadi angin segar bagi peternak menjelang momentum Iduladha yang biasanya meningkatkan permintaan sapi kurban secara signifikan.
Pemerintah berharap kepercayaan masyarakat terhadap hewan ternak asal Gunungkidul tetap terjaga meski kasus PMK masih ditemukan.
DPP Gunungkidul juga mengimbau para peternak agar tidak lengah terhadap ancaman PMK. Pemerintah meminta warga segera melapor apabila menemukan gejala seperti sapi demam, keluar air liur berlebihan, luka pada mulut, atau pincang.
Selain vaksinasi, petugas terus mengedukasi peternak mengenai pentingnya menjaga kebersihan kandang, membatasi mobilitas ternak yang sakit, dan rutin melakukan disinfeksi lingkungan peternakan.
Upaya tersebut akan menekan penyebaran PMK sekaligus melindungi sektor peternakan yang menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat di Gunungkidul. (ef linangkung)