
KabarJawa.com— Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas intens pada Selasa siang (25/11/2025) ketika awan panas guguran meluncur dari puncaknya di tengah kondisi visual yang tertutup kabut.
Masyarakat di sekitar lereng Merapi kembali merasakan ketegangan yang merayap, sementara aparat pemantau terus bekerja memastikan keselamatan publik.
Kabut tebal menyelimuti lereng gunung sejak pagi, membuat visualisasi puncak berlangsung terbatas. Di tengah situasi itu, alat pemantau kegempaan BPPTKG merekam peristiwa awan panas guguran pada pukul 13.52 WIB.
Awan panas tersebut tercatat memiliki amplitudo maksimal 57 mm dengan durasi 143 detik—angka yang menunjukkan energi guguran cukup kuat dan patut diwaspadai.
Kabut Menutup Puncak
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Agus Budi Santosa, menegaskan bahwa aktivitas siang ini masih berada dalam dinamika vulkanik yang sesuai dengan status Siaga atau Level III.
Ia memastikan bahwa suplai magma masih berlangsung dan masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan.
“Kami terus memantau seluruh aktivitas Merapi. Awan panas yang terjadi siang ini menunjukkan suplai magma masih aktif dan potensi guguran dapat muncul kapan saja. Masyarakat harus menjauhi wilayah bahaya dan mematuhi rekomendasi yang berlaku,” tegas Agus Budi Santosa.
Sejak awal periode pengamatan pukul 06.00 hingga 12.00 WIB, laporan Magma-VAR Badan Geologi mencatat kondisi meteorologis yang cenderung redup.
Cuaca mendung dan kabut tingkat 0–III menutupi tubuh gunung. Angin bertiup tenang ke arah timur, suhu udara berada di kisaran 22–25,9°C, sementara kelembapan mencapai 69,7–82,3 persen.
Dengan visual yang hampir nihil, para petugas hanya mengandalkan instrumen seismik untuk membaca apa yang terjadi di balik tirai kabut.
Hasil pemantauan kegempaan menunjukkan 6 kali gempa guguran dengan amplitudo 2–16 mm dan durasi 60,98–126,64 detik, 20 kali gempa hybrid/fase banyak yang menandai proses suplai magma, dengan amplitudo 3–20 mm dan durasi 10,56–41,87 detik
Data tersebut memperkuat dugaan bahwa suplai magma masih tersalurkan secara aktif ke permukaan. Aktivitas ini berpotensi memicu awan panas guguran serupa di kemudian hari.
Awan Panas Selasa
Warga di sektor selatan–barat daya yang selama ini menjadi jalur utama guguran Merapi kembali meningkatkan kewaspadaan.
Sungai Boyong berpotensi menerima jangkauan awan panas hingga 5 kilometer, sementara Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng berpotensi terdampak hingga 7 kilometer.
Di sisi tenggara, Sungai Woro berpotensi terdampak hingga 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer.
Kawasan-kawasan ini menjadi daerah yang paling sensitif terhadap setiap peningkatan aktivitas. Meski tidak ada letusan eksplosif, lontaran material vulkanik jika terjadi bisa menjangkau radius 3 kilometer dari puncak.
“Kami meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas apa pun di daerah rawan. Awan panas dapat meluncur tiba-tiba, terutama saat kondisi visual terbatas seperti hari ini,” ujarnya.
Selain awan panas, masyarakat juga harus mewaspadai potensi lahar jika hujan turun di area puncak.
Material vulkanik yang menumpuk di hulu sungai dapat mengalir deras dan tiba-tiba, membawa ancaman ke permukiman yang berada di dataran rendah.
Abu vulkanik dari erupsi minor juga dapat menggangu aktivitas harian warga, dari kesehatan hingga transportasi.
Sejak 5 November 2020, Gunung Merapi mempertahankan status Level III (Siaga). Status tersebut menandakan bahwa gunung api masih berada dalam fase erupsi efusif yang memungkinkan terjadinya guguran dan awan panas kapan saja.
“Jika terjadi perubahan signifikan, kami akan meninjau kembali tingkat aktivitas Merapi. Untuk saat ini, Siaga tetap berlaku dan masyarakat harus mematuhi seluruh rekomendasi,” kata Agus Budi Santosa. (ef linangkung)