
KABARJAWA – Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (Kemenkumham RI) menetapkan Kalurahan Wukirsari, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, sebagai Kawasan Cipta Kreasi Nasional.
Penetapan ini menegaskan posisi Wukirsari sebagai daerah dengan kekayaan budaya dan tradisi karya cipta yang kuat dan berkelanjutan.
Bupati Bantul, Abdul Halim Muslich, menerima langsung anugerah tersebut dalam seremoni yang digelar bersama Kantor Wilayah Kemenkumham DIY.
Ia menyampaikan apresiasi dan rasa bangganya terhadap masyarakat Wukirsari yang telah mempertahankan warisan budaya secara konsisten dari generasi ke generasi.
“Penetapan ini menunjukkan bahwa Kabupaten Bantul, khususnya Kalurahan Wukirsari, memiliki potensi luar biasa dalam melestarikan dan mengembangkan tradisi budaya serta karya cipta. Sejak lama, masyarakat Wukirsari sudah menumbuhkan budaya batik tulis dan pembuatan wayang kulit yang tidak hanya bertahan, tapi juga terus berkembang,” ungkap Bupati Halim.
Kemenkumham hanya menetapkan dua kawasan di Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai Kawasan Cipta Kreasi. Selain Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Kalurahan Wukirsari menjadi satu-satunya kalurahan yang memperoleh pengakuan ini.
Fakta ini memperkuat posisi Wukirsari sebagai pusat budaya yang berdaya saing, tidak hanya di tingkat lokal tetapi juga internasional.
Warisan Budaya yang Hidup di Jantung Wukirsari
Wukirsari telah lama dikenal dengan kekuatan seni dan kerajinannya. Di kawasan ini, khususnya di wilayah Giriloyo yang mencakup tiga pedukuhan, masyarakat secara turun-temurun menghidupi seni membatik.
Mereka memproduksi batik tulis khas dengan teknik tradisional yang otentik, menjadikan wilayah ini sebagai sentra batik yang diakui secara nasional.
Lurah Wukirsari, Susilo Hapsoro, menegaskan bahwa status Kawasan Cipta Kreasi ini memberikan semangat baru bagi masyarakat untuk terus menjaga warisan budaya mereka. Wukirsari memiliki 643 perajin batik aktif yang tersebar di kawasan wisata batik.
“Penetapan sebagai kawasan karya cipta ini menjadi motivasi besar bagi kami untuk terus menjaga dan menumbuhkan budaya membatik, serta menumbuhkan kecintaan terhadap budaya lokal pada generasi muda,” ujar Susilo.
Selain batik, Wukirsari juga menjadi rumah bagi seni pembuatan wayang kulit yang diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia.
Kelompok pengrajin seperti Tatasuci terus melestarikan seni ini dengan memproduksi wayang kulit secara manual, mempertahankan kualitas seni dan nilai tradisinya.
Tak hanya berdampak pada pelestarian budaya, tradisi karya cipta ini juga berdampak nyata pada perekonomian warga. Desa wisata Wukirsari kini berkembang pesat, bahkan meraih penghargaan sebagai Desa Wisata Terbaik Dunia Tahun 2024.
Wisata batik dan kerajinan yang berbasis pada kearifan lokal menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara.
“Kami melihat bahwa budaya bisa menjadi sumber penghidupan. Melalui batik dan produk budaya lainnya, warga tidak hanya melestarikan warisan leluhur, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan. Ini yang akan terus kami dorong agar menjadi kekuatan ekonomi baru berbasis budaya,” tambah Susilo.
Menuju Sertifikasi Indikasi Geografis
Pemerintah Kalurahan Wukirsari kini juga tengah mempersiapkan proses sertifikasi Indikasi Geografis (IG) untuk produk batik lokal.
Dokumen-dokumen pendukung sudah disiapkan dan tinggal menunggu proses verifikasi dari Kemenkumham yang dijadwalkan pada Juni ini.
“Kalau proses IG ini berhasil, maka produk batik kami akan mendapatkan perlindungan hukum yang lebih kuat dan pengakuan lebih luas atas keunikan lokalitasnya. Ini akan menjadi tonggak penting bagi pengembangan Wukirsari ke depan,” tutup Susilo.