
KabarJawa.com – Aktivitas vulkanik Gunung Merapi yang berdiri gagah di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah kembali menjadi sorotan.
Berdasarkan laporan pengamatan terbaru Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), untuk periode 24 jam pada tanggal 3 Januari 2026, gunung api setinggi 2.968 mdpl ini masih menunjukkan aktivitas yang cukup tinggi baik dari sisi kegempaan maupun visual.
Bagi masyarakat yang tinggal di lereng Merapi, khususnya di wilayah Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten, kewaspadaan tetap harus dijaga. Pasalnya, status Gunung Merapi saat ini masih ditetapkan pada Level III atau Siaga.
Dominasi Gempa Guguran dan Munculnya Tektonik Jauh
Sepanjang hari Sabtu, (3/1) kemarin, instrumen pemantauan mencatat aktivitas kegempaan yang cukup intens. Hal yang paling menonjol adalah tingginya jumlah gempa Guguran. Tercatat ada sebanyak 110 kali gempa Guguran dengan durasi yang bervariasi antara 31 hingga 301 detik.
Selain itu, terdeteksi adanya aktivitas Awan Panas Guguran (APG) sebanyak 2 kali. Durasi awan panas ini tercatat cukup panjang, yakni hingga 93 detik.
Tak hanya aktivitas vulkanik internal, alat pemantau juga menangkap sinyal 1 kali Gempa Tektonik Jauh dengan amplitudo 85 mm dan durasi lebih dari 2 menit. Gempa Hybrid atau Fase Banyak juga masih kerap terjadi, dengan total 77 kejadian.
36 Kali Guguran Lava ke Arah Barat Daya
Meskipun cuaca di sekitar puncak Merapi didominasi mendung dan kabut, namun pengamatan visual sempat merekam aktivitas yang jelas. Teramati adanya 36 kali guguran lava pijar yang meluncur dari puncak.
Arah luncuran material pijar ini dominan mengarah ke sektor Barat Daya, tepatnya menuju hulu Kali Sat atau Putih, Kali Krasak, dan Kali Bebeng.
Jarak luncur maksimum yang teramati mencapai 2.000 meter atau 2 kilometer dari puncak. Data pemantauan ini mencerminkan bahwa suplai magma masih terus berlangsung dari dalam tubuh gunung.
Waspada Potensi Bahaya
Selain ancaman awan panas, masyarakat juga diminta mewaspadai potensi bahaya sekunder berupa lahar. Laporan meteorologi menunjukkan bahwa cuaca di sekitar pos pengamatan sering kali mendung dan hujan. Tercatat volume curah hujan mencapai 55 mm per hari
“Cuaca mendung, berawan, hujan. Angin bertiup tenang ke arah timur. Suhu udara 17.6-25.7 °C, kelembaban udara 76.7-98.5 %, dan tekanan udara 872.3-917.6 mmHg,” demikian keterangan tertulis BBTKG, dilansir KabarJawa.com pada Minggu, 4 Januari 2026.
Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk sangat waspada terhadap bahaya lahar dan awan panas guguran, terutama saat hujan deras mengguyur seputar puncak Gunung Merapi.
Rekomendasi Kawasan Rawan Bencana
Badan Geologi kembali menegaskan rekomendasi jarak aman yang harus dipatuhi. Masyarakat diminta untuk tidak melakukan kegiatan apa pun di daerah potensi bahaya berikut ini:
- Sektor Selatan-Barat Daya: Meliputi Sungai Boyong (maksimal 5 km), serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng (maksimal 7 km).
- Sektor Tenggara: Meliputi Sungai Woro (maksimal 3 km) dan Sungai Gendol (maksimal 5 km).
- Potensi Letusan Eksplosif: Lontaran material vulkanik dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.
Mengingat suplai magma yang masih berlangsung, potensi terjadinya awan panas guguran di dalam daerah bahaya tersebut masih sangat mungkin terjadi.
Sementara itu, BPPTKG mengungkap bahwa jika nantinya terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, tingkat aktivitas Gunung Merapi bakal segera ditinjau kembali.***