
KabarJawa.com— Gunung Merapi kembali menunjukkan aktivitas intens pada Jumat malam, 21 November 2025.
Pada pukul 21.23 WIB, gunung yang berada di perbatasan DIY dan Jawa Tengah itu meluncurkan awan panas guguran sejauh 2.000 meter ke arah tenggara–barat daya.
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) memastikan aktivitas ini masih berada dalam fase Siaga (Level III), namun masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan.
Awan Panas Meluncur Dua Kilometer dalam Durasi 206 Detik
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santosa, menegaskan bahwa awan panas tersebut tercatat jelas melalui seismogram.
Awan panas guguran terjadi pukul 21.23 WIB dengan estimasi jarak luncur 2 kilometer, amplitudo maksimum 57 mm, dan durasi 206 detik.
“Peristiwa ini masih berada pada rentang aktivitas Merapi di Level III,” ujarnya.
BPPTKG mengingatkan bahwa aktivitas semacam ini dapat terjadi sewaktu-waktu karena suplai magma ke permukaan masih berlangsung.
Masyarakat diminta mengakses informasi resmi melalui kanal Badan Geologi untuk mengetahui perkembangan terkini kondisi Merapi.
Laporan MAGMA-VAR pada periode 21 November 2025 pukul 12.00–18.00 WIB menunjukkan kondisi cuaca yang tidak bersahabat.
Gunung tertutup kabut tebal mulai level 0-I hingga 0-III sehingga pengamatan visual menjadi sangat terbatas. Tidak terlihat adanya asap kawah selama periode pengamatan tersebut.
Cuaca hujan ringan turut menambah tingkat kewaspadaan. Suhu udara berada pada 18,2–21,1°C dengan kelembaban udara sangat tinggi, yaitu 90,4–99,7 persen.
Tekanan udara berkisar 872,1–915,1 mmHg dengan curah hujan mencapai 2 mm dalam sehari.
Seismik Menunjukkan Aktivitas Internal Masih Kuat
BPPTKG mencatat berbagai jenis gempa yang menandakan aktivitas internal Merapi tetap intens.
Dalam enam jam pengamatan, petugas merekam 27 gempa guguran dengan amplitudo 2–21 mm, durasi 60–193 detik, 14 gempa hybrid/fase banyak dengan amplitudo 2–26 mm dan durasi 13–49 detik dan sekali gempa vulkanik dangkal dengan amplitudo 12 mm dan durasi 18 detik
“Data ini menunjukkan adanya proses suplai magma yang berlangsung konsisten, sehingga potensi awan panas guguran tetap ada dan dapat meningkat sewaktu-waktu, ” terangnya.
Dalam laporan resmi, BPPTKG kembali menegaskan batas-batas daerah potensi bahaya yang tidak boleh dimasuki warga maupun aktivitas wisata sektor Selatan–Barat Daya yaitu sungai Boyong maksimum 5 km, sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng maksimum 7 km.
Sementara sektor Tenggara: yaitu sungai Woro maksimum 3 km dan sungai Gendol maksimum 5 km. Selain itu, lontaran material vulkanik dari letusan eksplosif dapat mencapai radius 3 km dari puncak.
BPPTKG juga mengimbau masyarakat untuk mewaspadai awan panas guguran (APG) terutama saat hujan di sekitar puncak, mengantisipasi bahaya lahar hujan, bersiap terhadap kemungkinan gangguan abu vulkanik
Status Gunung Merapi tetap berada pada Level III (Siaga). BPPTKG menegaskan bahwa pemantauan terus berlangsung 24 jam.
Jika terjadi peningkatan signifikan dalam aktivitas vulkanik, status akan segera ditinjau kembali.
“Kami meminta masyarakat untuk tetap tenang, waspada, dan tidak memasuki area yang telah kami tetapkan sebagai zona bahaya. Aktivitas Merapi masih dinamis dan berpotensi berubah sewaktu-waktu,”pungkasnya. (ef linangkung)