
KabarJawa.com– Gunung Merapi kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik pada Jumat Kliwon, 23 Januari 2026. Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) melaporkan terjadinya awan panas guguran dengan jarak luncur sejauh 1.000 meter ke arah barat daya, tepatnya menuju hulu Kali Krasak.
Awan panas guguran tercatat terjadi pada pukul 06.40 WIB. Peristiwa tersebut terekam pada peralatan seismik dengan amplitudo maksimum 11 milimeter dan durasi 138 detik. Luncuran mengikuti morfologi lereng barat daya Gunung Merapi.
Kepala BPPTKG, Agus Budi Santoso, menjelaskan bahwa awan panas guguran dipicu oleh runtuhan material lava dari kubah puncak.
“Aktivitas ini menunjukkan bahwa Gunung Merapi masih sangat dinamis. Guguran lava dan awan panas guguran masih berpotensi terjadi, terutama di sektor selatan hingga barat daya,” ujar Agus Budi Santoso.
Aktivitas Seismik dan Arah Luncuran
Dalam periode pengamatan 23 Januari 2026 pukul 00.00–06.00 WIB, BPPTKG mencatat 26 kali gempa guguran dengan amplitudo 3–23 milimeter dan durasi maksimum 157 detik.
Selain itu, terekam 12 kali gempa hybrid atau fase banyak yang menunjukkan masih berlangsungnya pergerakan magma di kedalaman dangkal.
Arah luncuran awan panas tercatat ke sektor barat daya, mengikuti alur hulu Kali Krasak. Sementara itu, arah angin saat kejadian bertiup lemah ke timur sehingga tidak memengaruhi arah utama pergerakan material panas.
Guguran Lava hingga 1,5 Kilometer
Secara visual, puncak Gunung Merapi tertutup kabut dengan intensitas 0–II hingga 0–III. Asap kawah tidak teramati, namun petugas mencatat tiga kali guguran lava ke arah Kali Krasak serta tiga kali guguran lava ke arah Kali Sat atau Kali Putih. Jarak luncur maksimum guguran lava mencapai 1.500 meter.
Kondisi cuaca di sekitar gunung terpantau mendung dengan suhu udara 19,7 derajat Celsius, kelembapan 65–74,5 persen, dan tekanan udara 871,2–913,8 mmHg. Angin bertiup lemah ke arah timur.
Status Siaga dan Rekomendasi BPPTKG
Hingga saat ini, status Gunung Merapi masih berada pada Level III atau Siaga. BPPTKG mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di kawasan yang termasuk dalam zona potensi bahaya.
Potensi bahaya utama meliputi guguran lava dan awan panas pada sektor selatan dan barat daya, yang mencakup Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 kilometer.
Pada sektor tenggara, potensi bahaya meliputi Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh 5 kilometer. Apabila terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik berpotensi menjangkau radius hingga 3 kilometer dari puncak.
BPPTKG juga mengingatkan potensi bahaya lahar dan awan panas guguran terutama saat terjadi hujan di wilayah sekitar Merapi, serta kemungkinan gangguan abu vulkanik.
Masyarakat diminta untuk terus memantau informasi resmi terkait aktivitas Gunung Merapi dan mematuhi seluruh rekomendasi yang dikeluarkan guna mengurangi risiko serta menjaga keselamatan.