
KabarJawa.com– Kemunculan jejak kaki binatang buas kembali menggegerkan warga Gunungkidul. Jejak misterius itu muncul dua kali berturut-turut di lahan proyek pembangunan pondok pesantren di wilayah Padukuhan Panggul Kulon, Kalurahan Candirejo, Kapanewon Semanu, Gunungkidul.
Warga yang menemukan jejak tersebut langsung melaporkannya karena khawatir jejak itu berasal dari macan.
Menanggapi laporan tersebut, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Yogyakarta segera turun ke lokasi untuk melakukan pemeriksaan awal.
Tim Resort Konservasi Wilayah Gunungkidul memeriksa bentuk, ukuran, serta pola jejak yang tertinggal di tanah proyek pembangunan pesantren tersebut.
Pemeriksaan BKSDA Yogyakarta
Dari hasil pemeriksaan lapangan, BKSDA Yogyakarta menduga jejak kaki tersebut bukan berasal dari macan. Meski demikian, pihak BKSDA tetap mengambil langkah lanjutan untuk memastikan jenis satwa yang meninggalkan jejak itu.
Kepala Seksi Wilayah II BKSDA Yogyakarta yang membawahi wilayah Gunungkidul, Pariah, menjelaskan bahwa timnya telah melakukan kajian awal secara serius.
Tim BKSDA kemudian mengonsultasikan hasil temuan tersebut kepada Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik serta Yayasan Konservasi SINTAS Indonesia guna mendapatkan analisis pembanding.
“Hasil pengecekan tim Resort KSDA Gunungkidul kami konsultasikan ke Direktorat Konservasi Spesies dan Genetik serta ke SINTAS. Dari hasil konsultasi tersebut, kami menduga jejak itu berasal dari anjing,” kata Pariah saat dihubungi wartawan, Sabtu (17/1/2026).
Pariah menegaskan bahwa kesimpulan tersebut masih bersifat dugaan awal. BKSDA Yogyakarta belum menetapkan hasil final sebelum mengumpulkan bukti pendukung lainnya.
Oleh karena itu, pihaknya memilih langkah kehati-hatian agar tidak menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat.
Untuk memperkuat dugaan tersebut, BKSDA Yogyakarta segera menyiapkan pengkajian lanjutan dengan memasang kamera trap atau kamera jebak di sekitar lokasi penemuan jejak.
Kamera tersebut akan merekam aktivitas satwa yang melintas di area proyek pembangunan pondok pesantren.
Pariah juga menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan koordinasi intensif dengan berbagai pihak setempat.
Koordinasi dengan Berbagai Pihak
Pada Jumat (16/1/2026), BKSDA Yogyakarta berkoordinasi dengan Lurah Candirejo, tokoh masyarakat, pimpinan wilayah, serta pengelola pondok pesantren yang sedang dibangun.
Dalam pertemuan tersebut, BKSDA membahas rencana teknis pemasangan kamera trap sekaligus memastikan keamanan dan dukungan dari masyarakat sekitar.
Koordinasi ini menjadi langkah penting agar proses pemantauan berjalan lancar tanpa mengganggu aktivitas warga.
“Koordinasi itu kami lakukan untuk membahas rencana pemasangan kamera trap guna memastikan jenis satwa yang sebenarnya,” jelas Pariah.
Ia menambahkan bahwa hasil koordinasi menghasilkan kesepakatan bersama. BKSDA Yogyakarta akan memasang beberapa kamera trap di titik-titik yang telah ditentukan berdasarkan analisis jalur perlintasan satwa.
“Hasil koordinasi itu mencapai kesepakatan bahwa kami akan memasang beberapa kamera trap di lokasi-lokasi yang sudah kami tentukan,” imbuhnya.
Sebelumnya, Koordinator Resort Konservasi Wilayah Gunungkidul, Tugimayanto, telah menyampaikan rencana pemasangan kamera jebak tersebut.
Ia menegaskan bahwa pihaknya akan mengutamakan faktor keamanan sebelum menempatkan perangkat pemantauan di lapangan.
“Jika kondisi keamanan memungkinkan, kami segera memasang kamera trap. Namun, kami akan berkoordinasi terlebih dahulu dengan pihak kalurahan, Polsek, atau Bhabinkamtibmas,” kata Tugimayanto saat dihubungi melalui sambungan telepon, Kamis (15/1/2026).
Dengan pemasangan kamera trap ini, BKSDA Yogyakarta berharap dapat mengungkap secara pasti jenis satwa yang meninggalkan jejak misterius tersebut.
Langkah ini juga menjadi upaya preventif untuk memastikan keamanan warga sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem di wilayah Gunungkidul.
BKSDA Yogyakarta mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak berspekulasi berlebihan. Warga bisa segera melapor jika menemukan tanda-tanda keberadaan satwa liar lain. (ef linangkung)