
KabarJawa.com– Jejak kaki besar membekas di tanah persawahan Padukuhan Panggul Kulon, Kalurahan Candirejo, Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul.
Dugaan kuat, jejak tersebut berasal dari seekor macan yang berkeliaran di sekitar permukiman dan lahan pembangunan pondok pesantren.
Penemuan terbaru itu kembali membuka kekhawatiran lama yang belum sepenuhnya terjawab. Warga tidak hanya mempertanyakan asal-usul jejak tersebut, tetapi juga keselamatan mereka.
Tanggapan BKSDA tentang Jejak Kaki Macan di Semanu
Menanggapi temuan tersebut, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Daerah Istimewa Yogyakarta melalui Resort Konservasi Wilayah Gunungkidul segera mengambil langkah lanjutan.
BKSDA berencana memasang kamera jebak atau camera trap di sekitar lokasi untuk memastikan jenis satwa yang meninggalkan jejak misterius tersebut.
Koordinator Resort Konservasi Wilayah Gunungkidul, Tugimayanto, menyatakan pihaknya tidak ingin berspekulasi tanpa bukti kuat. Ia menegaskan pemasangan kamera pengintai menjadi langkah paling efektif untuk mengungkap fakta di lapangan.
“Jika kondisi keamanan memungkinkan, kami akan segera memasang kamera jebak. Namun, kami harus berkoordinasi lebih dulu dengan pihak kalurahan, kepolisian, serta Bhabinkamtibmas,” ujar Tugimayanto.
Menurutnya, koordinasi menjadi hal penting agar pemasangan kamera tidak menimbulkan kepanikan sekaligus memastikan keamanan alat dan warga sekitar. Ia menambahkan BKSDA akan segera menjadwalkan pertemuan dengan unsur terkait dalam waktu dekat.
Langkah tersebut akan menjawab rasa penasaran sekaligus kekhawatiran warga. Kamera jebak akan merekam aktivitas satwa liar yang melintas, baik pada siang maupun malam hari, sehingga identifikasi bisa dilakukan secara akurat.
Selain memasang kamera pengintai, BKSDA juga berencana kembali mendatangi lokasi penemuan jejak untuk melakukan peninjauan langsung. Petugas akan memeriksa bentuk, ukuran, dan pola jejak yang masih tersisa di lapangan.
“Meski hujan sempat turun, kami berharap jejaknya masih terlihat sehingga kami bisa melakukan pengamatan lebih detail,” kata Tugimayanto.
Temuan Warga
Sebelumnya, warga Kalurahan Candirejo kembali dikejutkan dengan temuan jejak hewan misterius pada Senin (12/1/2026).
Jejak tersebut muncul di lahan yang rencananya akan dibangun pondok pesantren. Lokasi itu berada tidak jauh dari area persawahan yang sering warga lalui untuk bekerja sejak pagi hari.
Warga menduga jejak tersebut berasal dari hewan liar jenis macan yang selama ini kabarnya kerap berkeliaran di wilayah Semanu. Dugaan itu menguat karena ukuran jejak cukup besar dan berbeda dari jejak hewan ternak atau anjing liar.
Salah satu warga sekaligus pekerja bangunan pondok pesantren, Heru Purwanto (56), mengungkapkan temuan tersebut pertama kali diketahui oleh rekan kerjanya. Saat itu, aktivitas pembangunan belum ada.
“Hari ini saya tidak masuk kerja. Teman saya mengabari kalau ada temuan jejak macan lagi. Kejadiannya sekitar pukul 07.30 WIB,” ujar Heru.
Ia menuturkan rekan-rekannya langsung menghentikan aktivitas dan memilih menjauh dari lokasi. Kekhawatiran akan munculnya hewan liar secara tiba-tiba membuat warga lebih waspada.
Kemunculan jejak kaki yang diduga macan ini bukan kali pertama terjadi di wilayah Semanu. Beberapa bulan sebelumnya, warga juga sempat melaporkan temuan serupa. Namun hingga kini, keberadaan satwa tersebut belum pernah terekam secara visual.
BKSDA mengimbau warga tetap tenang, tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, serta menghindari aktivitas sendirian di area persawahan pada waktu rawan. Warga juga harus segera melapor jika menemukan tanda-tanda keberadaan satwa liar lain.
Pemasangan kamera pengintai kini menjadi harapan utama untuk mengakhiri misteri yang terus menghantui warga Candirejo. (ef linangkung)