Jalan Kaki ke Sekolah jadi Gerakan Hemat Energi, Saatnya Pejabat Turun Tangan Beri Teladan Nyata

Bagikan :
Gerakan Jalan Kaki ke Sekolah/Foto: Freepik

KabarJawa.com— Sebuah imbauan sederhana dari pemerintah pusat menggugah perhatian publik. Siswa yang tinggal dekat sekolah diminta berjalan kaki atau bersepeda.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mengeluarkan imbauan ini bukan tanpa alasan. Dunia sedang menghadapi tekanan energi akibat konflik global, terutama di kawasan Timur Tengah.

Dampaknya merambat hingga ke penggunaan bahan bakar minyak (BBM) di dalam negeri. Pemerintah pun mendorong langkah kecil yang bisa dilakukan siapa saja, termasuk pelajar.

Gerakan Jalan Kaki ke Sekolah

Bagi sebagian orang tua, kebijakan ini menghadirkan harapan baru. Baharuddin Kamba, orang tua siswa sekaligus aktivis sosial, melihat imbauan ini sebagai pintu masuk menuju perubahan gaya hidup yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Ia menilai berjalan kaki atau bersepeda bukan sekadar cara pergi ke sekolah, melainkan investasi jangka panjang bagi kesehatan generasi muda.

Aktivitas fisik yang rutin dapat meningkatkan kebugaran tubuh, memperkuat daya tahan, sekaligus mengurangi ketergantungan pada kendaraan bermotor.

Lebih dari itu, kebiasaan sederhana ini juga berkontribusi langsung pada pengurangan emisi gas buang. Di kota seperti Yogyakarta yang mulai menghadapi tekanan polusi udara, setiap langkah kaki siswa memiliki arti penting.

Baca juga  Menyusuri Jejak Kayu Japrak7, Nafas Kreativitas dan Harapan dari Desa Wisata Gerbosari Kulon Progo

“Ini bukan sekadar soal transportasi, tetapi tentang membentuk pola hidup sejak dini,” ujar Kamba.

Meski terdengar ideal, Kamba tidak menutup mata terhadap potensi kelemahan kebijakan ini. Ia mengingatkan bahwa imbauan tanpa strategi berisiko hanya menjadi slogan.

Menurutnya, pemerintah harus memastikan adanya dukungan nyata, seperti infrastruktur yang ramah pejalan kaki dan pesepeda.

Trotoar yang aman, jalur sepeda yang memadai, serta pengawasan lalu lintas menjadi syarat mutlak agar kebijakan ini dapat berjalan efektif.

Namun, kritik paling tajam justru ia arahkan kepada para pejabat publik. Kamba menegaskan bahwa perubahan tidak akan terjadi jika hanya dibebankan kepada masyarakat.

Ia meminta para pejabat untuk tidak sekadar mengeluarkan imbauan, tetapi juga memberikan contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari.

“Pejabat publik harus lebih dulu memberi contoh. Jangan masyarakat terus dijadikan percontohan,” tegasnya.

Kemacetan yang Tak Kunjung Usai

Imbauan ini juga tidak bisa dilepaskan dari persoalan klasik Yogyakarta, yaitu kemacetan lalu lintas. Setiap pagi dan sore, jalanan kota penuh kendaraan, terutama pada jam berangkat dan pulang sekolah.

Lonjakan volume kendaraan yang terjadi dalam waktu bersamaan menciptakan kepadatan. Kondisi ini makin parah dengan pertumbuhan jumlah kendaraan yang tidak sebanding dengan kapasitas jalan.

Baca juga  7.444 Siswa di Gunungkidul Belum Nikmati Makan Bergizi Gratis, Pemkab Kejar Pemerataan Layanan hingga Pelosok

Akibatnya, kemacetan tidak hanya menghambat mobilitas, tetapi juga meningkatkan konsumsi BBM dan memperburuk kualitas udara.

Dalam konteks ini, ajakan berjalan kaki dan bersepeda sebenarnya menjadi solusi yang relevan. Jika sebagian siswa tidak lagi menggunakan kendaraan bermotor, beban lalu lintas dapat berkurang secara signifikan.

Kamba melihat situasi ini sebagai momentum penting. Ia menilai imbauan pemerintah seharusnya tidak berhenti pada siswa, tetapi berkembang menjadi gerakan yang lebih luas.

Menurutnya, pemerintah daerah perlu memanfaatkan momen ini untuk mendorong transformasi sistem transportasi secara menyeluruh. Fokus utama harus mengarah pada penguatan transportasi publik yang aman, nyaman, dan inklusif.

Transportasi publik tidak hanya harus tersedia, tetapi juga mampu menjangkau semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas. Dengan sistem yang baik, masyarakat akan memiliki alternatif selain kendaraan pribadi.

“Ini saatnya beralih ke transportasi publik yang benar-benar layak,” katanya.

Dalam konteks lokal, Kamba menyoroti pentingnya peran pejabat sebagai agen perubahan. Ia mendorong para pejabat di Daerah Istimewa Yogyakarta untuk aktif menggunakan transportasi umum, seperti TransJogja.

Keteladanan, menurutnya, memiliki kekuatan yang tidak bisa digantikan oleh kebijakan apa pun. Ketika masyarakat melihat pemimpinnya konsisten menggunakan transportasi publik, kepercayaan akan tumbuh, dan perubahan perilaku akan lebih mudah terjadi.

Baca juga  Muhammadiyah Perkuat Persaudaraan Bangsa, Gerakkan Bantuan Kemanusiaan untuk Penyintas Bencana Aceh dan Sumatra

Ia juga menyinggung fenomena bersepeda di kalangan pejabat yang kerap muncul sesaat. Meski positif, ia mengingatkan agar aksi tersebut tidak berhenti sebagai simbol semata.

“Kalau bersepeda ke kantor, itu bagus. Tapi jangan hanya sesaat dan sekadar pencitraan,” ujarnya.

Dari Wacana Menuju Gerakan Nyata

Kini, imbauan jalan kaki ke sekolah berada di titik krusial. Ia bisa berkembang menjadi gerakan nyata yang mengubah wajah kota, atau justru menghilang sebagai wacana sementara.

Keberhasilannya sangat bergantung pada konsistensi kebijakan, kesiapan infrastruktur, serta keteladanan para pemimpin. Tanpa itu semua, ajakan ini hanya akan menjadi pesan yang cepat dilupakan.

Namun, jika berjalan serius, langkah kecil ini dapat menciptakan dampak besar. Yogyakarta berpeluang bertransformasi menjadi kota yang lebih ramah bagi pejalan kaki, pesepeda, dan pengguna transportasi publik.

Di tengah krisis energi global, perubahan memang tidak selalu harus mulai dari hal besar. Kadang, cukup dari langkah kaki seorang siswa yang berangkat ke sekolah. (ef linangkung)

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Lokasi Tilang Operasi Patuh Progo 2026 Jogja
Titik Lokasi Rawan Tilang di Jogja, Operasi Patuh Progo 2026: ETLE Sleman, Bantul dan Sekitarnya
Kesalahan Penulisan Aksara Jawa di Kantor Disdikbud Jateng Jadi Sorotan, Begini Fakta dan Evaluasinya
Mengenal Aksara Swara (A, I, U, E, O): Pengertian, Ciri-ciri dan Fungsinya