
KabarJawa.com– Muhammadiyah kembali menunjukkan komitmen kebangsaan dan kemanusiaan dengan memperkuat persaudaraan serta ukhuwah bangsa melalui konsolidasi gerakan nasional penghimpunan bantuan untuk penyintas bencana di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara.
Organisasi Islam ini menggerakkan seluruh kekuatan persyarikatan secara terpadu untuk membantu ribuan warga terdampak bencana alam di wilayah tersebut.
Bantuan Kemanusiaan untuk Penyintas Bencana
Muhammadiyah mengonsolidasikan respons tanggap darurat melalui Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) atau Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), leading sector.
Mereka juga menggandeng Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) untuk memastikan layanan kesehatan berjalan optimal di lokasi terdampak.
MDMC Muhammadiyah segera melakukan assessment awal di berbagai titik bencana. Tim MDMC memetakan wilayah terdampak, mengidentifikasi tingkat kerusakan, serta menyusun kebutuhan mendesak para penyintas.
Setelah proses pemetaan selesai, Muhammadiyah langsung menerjunkan relawan kesehatan yang tergabung dalam Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah ke daerah-daerah yang paling membutuhkan.
Pada fase tanggap darurat ini, Muhammadiyah mengerahkan ratusan relawan dari berbagai daerah.
Para relawan tersebut menyalurkan bantuan kebutuhan pokok berupa obat-obatan, makanan siap saji, tenda darurat, selimut, air bersih, serta kebutuhan dasar lain bagi para penyintas bencana di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara.
Tidak hanya memberikan bantuan yang bersifat fisik, Muhammadiyah juga menghadirkan bantuan intangible yang sangat korban bencana butuhkan.
Muhammadiyah menerjunkan relawan dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA) untuk memberikan layanan psikososial bagi anak-anak, perempuan, dan kelompok rentan.
Selain itu, Muhammadiyah juga mengirimkan tenaga kesehatan dari Rumah Sakit Muhammadiyah-’Aisyiyah (RSMA). Meraka berasal dari Pulau Jawa dan Sumatra untuk memperkuat layanan medis di lapangan.
Para relawan Muhammadiyah menembus berbagai wilayah bencana yang terisolasi. Relawan-relawan tersebut datang dari Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Lampung, Bengkulu, dan daerah lain.
MDMC Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengoordinasikan seluruh pergerakan relawan agar berjalan efektif, terintegrasi, dan tepat sasaran.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, turun langsung ke lokasi bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada Selasa, 15 Desember 2025.
Dalam kunjungan tersebut, Haedar Nashir menyerahkan bantuan kemanusiaan untuk penyintas bencana senilai Rp7,5 miliar bagi ketiga provinsi yang terdampak.
Dana bantuan tersebut berasal dari hasil penghimpunan donasi Lazismu serta kontribusi dari pengusaha sekaligus warga Muhammadiyah, Yendra Fahmi. Muhammadiyah menyalurkan bantuan tersebut untuk memperkuat respon darurat, layanan kesehatan, serta pemenuhan kebutuhan dasar para penyintas bencana.
Warga Muhammadiyah Bersatu
Dalam kesempatan tersebut, Haedar Nashir menegaskan bahwa Muhammadiyah terus mengonsolidasikan seluruh gerakan kemanusiaannya melalui MDMC, Lazismu, MPKU, serta seluruh elemen persyarikatan.
“Muhammadiyah terus mengonsolidasikan gerakannya lewat MDMC, Lazismu, MPKU, dan mengerahkan seluruh apa yang kami miliki, berupa dana, tenaga, termasuk para sukarelawan dokter dan sukarelawan lainnya untuk penanggulangan kedaruratan bencana,” ujar Haedar Nashir.
Haedar Nashir menjelaskan bahwa bencana sering kali memunculkan beragam pandangan dan penafsiran di tengah masyarakat.
Menurutnya, perbedaan tersebut merupakan hal yang wajar karena bencana dapat terjadi akibat berbagai sebab, baik yang bersumber dari ulah manusia maupun faktor-faktor yang bersifat metafisik.
Sebagai orang beriman, Haedar Nashir mengajak seluruh warga Muhammadiyah dan masyarakat luas untuk menumbuhkan kesabaran, ketabahan, serta semangat ikhtiar bersama.
Ia secara tegas mengajak seluruh warga Muhammadiyah untuk bergerak dalam satu barisan demi menolong saudara-saudara sebangsa yang sedang tertimpa musibah.
“Namun, mohon bahwa semua hal itu kita satukan bersama untuk menanggulangi bencana dan derita saudara-saudara kita. Hal ini jauh lebih diutamakan pada saat ini. Setelah itu, mari kita memperbaiki hal-hal yang kira-kira menjadi sebab dari bencana ini,” tegasnya.
Setelah menyaksikan langsung tingkat kerusakan di tiga provinsi tersebut, Haedar Nashir mendorong penguatan respons tanggap darurat.
Muhammadiyah penggunaan peralatan modern yang kompatibel serta sistem manajemen penanganan bencana yang matang dan profesional.
Mereka menegaskan bahwa seluruh bantuan, baik yang bersifat tangible maupun intangible, tidak hanya untuk warga Muhammadiyah atau umat Islam semata.
Muhammadiyah memberikan bantuan kepada seluruh penyintas bencana tanpa terkecuali, sebagai wujud nyata komitmen kemanusiaan universal.
Pertolongan Berkelanjutan untuk Penyintas Bencana
MDMC Muhammadiyah menjalankan standar penanganan kebencanaan dengan berpegang pada tiga prinsip utama.
- Kemanusiaan global
- Imparsialitas dan netralitas
- Profesionalisme teknis yang sesuai dengan standar World Health Organization (WHO)
Selain itu, Muhammadiyah juga menjadikan Fikih Kebencanaan, yang merupakan produk pemikiran Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, sebagai landasan operasional dalam menjalankan misi kemanusiaan di wilayah terdampak bencana.
Muhammadiyah menegaskan bahwa gerakan kemanusiaan yang berjalan tidak berhenti pada pemberian bantuan sesaat.
Muhammadiyah mengusung pendekatan keberlanjutan dalam penanganan kebencanaan, sehingga bantuan mampu memulihkan kehidupan penyintas secara jangka panjang.
Ketua PP Muhammadiyah, dr. Agus Taufiqurrahman, menjelaskan bahwa Muhammadiyah memiliki tahapan kerja yang jelas dalam merespons setiap bencana. Pada tahap awal, Muhammadiyah memfokuskan seluruh sumber dayanya pada respon tanggap darurat.
Muhammadiyah telah memberikan respon tanggap darurat sejak 27 November 2025 dengan MDMC, Lazismu, MPKU, Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang), Majelis Pelayanan Kesejahteraan Sosial (MPKS), Majelis Tabligh, dan Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) sebagai penggerak utama.
Setelah fase tanggap darurat berakhir, Muhammadiyah melanjutkan bantuan pada tahap transisi darurat ke pemulihan.
Pada tahap ini, Muhammadiyah melibatkan Majelis Dikdasmen, Lazismu, Diktilitbang, MPKS, Majelis Tabligh, dan LDK untuk mendukung pemulihan sosial, pendidikan, dan kesehatan masyarakat terdampak.
Selanjutnya, Muhammadiyah memasuki tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Pada fase ini, Muhammadiyah mengerahkan Majelis Dikdasmen, Lazismu, Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM), Diktilitbang, MPKS, Majelis Tabligh, LDK, organisasi otonom, serta LLHPB ‘Aisyiyah untuk membangun kembali kehidupan masyarakat secara berkelanjutan.
Melalui bantuan kemanusiaan, Muhammadiyah terus membuktikan perannya sebagai kekuatan bangsa yang hadir di saat krisis, menguatkan persaudaraan, dan menyalakan harapan untuk para penyintas bencana di Aceh dan Sumatra. (ef linangkung)