
KABARJAWA– Derasnya aliran Sungai Progo selama ini memisahkan warga Bantul dan Kulonprogo. Namun, tekad tiga orang sederhana justru berhasil menaklukkan rintangan itu.
Bermodal kayu, besi, dan drum bekas, mereka mendirikan jembatan apung sepanjang 30 meter yang kini menjadi urat nadi baru bagi ribuan warga.
Keberanian tiga pria desa ini terdengar luar biasa. Sugiman (50), Sukidi, dan seorang rekannya dari Temben, Kulonprogo, nekat membangun jembatan hanya dengan patungan dana.
Mereka menguras tabungan hingga Rp150 juta demi mewujudkan akses cepat lintas dua kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta.
“Tujuan kami sederhana, agar distribusi tahu bisa lebih cepat, hemat biaya, dan tidak harus memutar jauh. Biasanya perjalanan bisa sampai satu jam, sekarang hanya butuh setengahnya,” ujar Sugiman.
Empat hari sejak resmi difungsikan, jembatan selebar dua meter itu langsung dipadati kendaraan. Motor, mobil, hingga pikap antre melintas, seolah jembatan darurat ini telah menjadi penyelamat utama masyarakat yang selama ini terjebak jalur panjang berliku.
Secara teknis, jembatan apung itu berdiri di atas rangka besi dengan alas kayu setebal dua sentimeter. Barisan drum plastik bekas berjejer rapi menopang badan jembatan agar terapung di atas derasnya arus Sungai Progo.
Enam seling baja menambatkan jembatan ke tepi, menjaga agar tidak hanyut sekaligus memastikan mampu menahan beban hingga 1,5 ton.
Sugiman bersama rekannya mengaku butuh waktu lebih dari dua bulan untuk menyelesaikan proyek ini. Mereka bertiga patungan sesuai kemampuan. Tidak ada investor, tidak ada bantuan, semua murni usaha sendiri.
Meski berfungsi maksimal, para pembangun sadar jembatan ini masih rawan. Setiap kali hujan deras datang, rasa cemas menghantui. Dia tetap berharap Pemerintah bakal mengganti jembatan ini dengan bangunan permanen.
“Kalau banjir besar menerjang, ya kami pasrah. Kalau saja pemerintah mau membangun jembatan permanen, kami tidak perlu bikin jembatan darurat seperti ini,” keluh Sugiman.
Namun, di balik rasa waswas itu, manfaat jembatan nyata. Sujono, sopir pikap asal Pajangan, Bantul, menyebut dirinya sangat terbantu. Jembatan ini membuat dia bisa lebih cepat mengirim barang ke pasar tradisional di Kulonprogo.
“Bisa ngejar setoran, jarak jadi dekat, dan ternyata kuat sekali,” ungkapnya. (ef linangkung)